Archive for November, 2006
SURABAYA - Pesona cinta dan wanita memang inspiratif. Itu ditunjukkan para peserta Gelar Tari pada Festival Cak Durasim (FCD) 2006 tadi malam. Empat penari yang tampil mengupas sisi lain cinta dan wanita dalam balutan gerak koreografi nan elok.
テつテつテつテつテつテつテつ
Empat koreografer itu adalah Ni Kadek Yulia Puspasari (Solo), I Nyoman Sura (Bali), Abd. Rachim (Jakarta), dan Mawar Desember (Jakarta).
Menampilkan karya berjudul Himung, Mawar bermain tunggal. Dia memainkan sendiri karya ciptaannya. Tari itu bercerita tentang gejolak batin wanita ketika menghadapi masalah. Kegelisahan tersebut ditampakkan Mawar secara jelas dalam pertunjukan. Lenggak-lenggok tubuhnya ketika berdiri di atas kursi menggambarkan kebingungan seorang wanita. “Ini gambaran implisit,” kata Mawar di sela-sela geladi bersih kemarin.
Di tengah tari, ada adegan memainkan caping petani di atas kepada sang gadis. Menurut wanita 22 tahun itu, topi itu ibarat seraong. Ini adalah istilah Dayak yang berarti pengayom hidup. “Dengan adanya topi itu, hidup si gadis menjadi tenang,” kata mahasiswi semester 9 IKJ tersebut. Di akhir tari, topi digambarkan lenyap. Si gadis pun merasa sangat kehilangan.
Menurut Mawar, sajian itu diinspirasi oleh tari Gong dari Kaltim. “Sebenarnya, tarian ini merupakan ujian karya saya di kampus. Namun, telah ada perubahan dan pengembangan,” lanjutnya.
Ni Kadek Yulia Puspasari, koreografer Solo, menampilkan Tambang Laras. Isinya adalah cerita cinta. Sedikit klise memang. Namun, Kadek memilih mengemas tema cinta itu dengan cara berbeda. Dia ingin orang-orang mempertanyakan makna cinta dengan segala kelebihan dan kekurangannya. “Ada orang yang berkorban demi cinta. Ada pula yang egois karena asmara,” ungkap Bernadheta, koordinator produksi Sanggar Kadek. Memang, kemarin Kadek berhalangan datang. Dia sakit.
Sebelum pertunjukan tari tadi malam, kemarin pagi dilaksanakan Lomba Kidungan. Lomba yang diadakan di bawah tanggung jawab seniman Sidik Wibisono itu diadakan dua hari, kemarin dan hari ini. Pada perlombaan kemarin, ada 30 peserta. Rata-rata berusia di atas 40 tahun. “Sebenarnya, kami berharap acara ini diikuti kaum muda. Tapi, kalau yang ikut hanya orang dewasa, ya tidak apa-apa,” kata Cak Sidik. Meski begitu, pria kelahiran 6 November 1942 itu berharap tahun depan ada banyak peserta remaja yang berpartisipasi.
Tema dalam Lomba Kidungan itu tak dibatasi. Tetapi, sangat disarankan peserta mengangkat kritik membangun serta menyentil fenomena yang tengah berlangsung di Surabaya. Setiap peserta diberi waktu lima menit untuk melagukan pantun khas Surabaya itu.
Salah seorang peserta adalah Sarip. Dia mengkritik banyaknya remaja yang larut dalam pergaulan bebas. Numpak pesawat nang Bali. Ayo ndang tobat mumpung durung disalati (Naik pesawat ke Bali. Ayo segera tobat sebelum disalati, Red). Itulah salah satu bait yang dilantunkan Sarip.
Pria 54 tahun tersebut menyatakan tidak mempersiapkan lomba itu secara khusus. Memang, dia tergabung dalam Paguyuban Penggemar Kidungan Rek (PPKR), kelompok penggemar acara Kidungan Rek JTV. “Setiap Senin, saya selalu ikut ke JTV. Di sana, sesama anggota PPKR saling berlatih dan unjuk kemampuan ngidung,” kata dia. (ai)
sumber : www.jawapos.com
November 24th, 2006
SURABAYA - Kondisi rumah wafat pahlawan nasional Wage Rudolf Supratman kini kurang begitu terawat. Teras rumah di Jalan Mangga itu sudah melapuk. Cat rumah berukuran 5,5 x 6 meter itu kusam, halamannya juga kotor.
テつテつテつテつテつテつテつ
“Setiap bulan kami hanya mendapatkan dana perawatan Rp 550 ribu per bulan. Itu hanya cukup untuk membayar petugas kebersihan, bagaimana dengan perawatan lain,” kata Direktur LSM Lembaga Pengkajian Kota Pahlawan (LPKP) Zainal Karim yang kini menempati rumah tersebut. Sebagai tetenger, LPKP memasang spanduk besar yang menjelaskan rumah itu merupakan tempat wafat W.R. Supratman, penggubah lagu Indonesia Raya.
Zainal menjelaskan, dari hasil penelusuran sejarah, rumah itu ditemukan lembaganya pada 2002 lalu. Waktu itu, rumah tersebut dalam kondisi kosong dan terkunci. LPKP kemudian berinisitaif ngopeni bangunan bersejarah itu. Mereka meminta izin kepada ahli waris W.R. Supratman di Jakarta.
Awalnya, LPKP diminta membeli rumah itu. Tapi, setelah diberitahu bahwa rumah itu berada di bawah wewenang negara karena punya nilai sejarah, pihak ahli waris akhirnya mengizinkan untuk ditempati. “Istilahnya saya ini ngenger di rumah ini. Seperti dulu ketika Pak W.R. Supratman yang pernah tinggal bersama pamannya, Willem Martinus Van Eldick atau Sastromihardjo,” papar Zainal.
Dia menjadikan rumah tersebut sebagai kantor LSM yang dipimpinnya. “Ya, kalau ada rezeki rumah itu kami perbaiki sedikit-sedkit,” ujarnya. Zainal mengatakan, kalau untuk melakukan renovasi besar, pihaknya tidak mampu dari segi pendanaan. “Wong untuk perbaikan teras, kami pakai duit utangan kok.”
Zainal menjelaskan, komponis W.R. Supratman membangun rumah mungil itu pada 1930. Dia baru menempati rumah bercat hijau itu dua tahun kemudian. “Dia wafat di rumah ini juga karena sakit paru-paru,” paparnya.
Salah satu prestasi perjuangan Zainal adalah diresmikannya gerakan “sosialisasi keberadaan dan pelestarian benda bangunan cagar budaya” pada tanggal 28 Oktober 2003 oleh Menteri Pariwisata dan Budaya I Gede Ardika. Salah satu agendanya, melakukan pengembangan dan renovasi bangunan rumah W.R. Supratman itu. “Tapi, hingga kini nasib sosialisasi itu tidak jelas,” keluh Zainal.
Dia berharap Pemkot Surabaya bisa tegas menentukan sikap terhadap keberadaan rumah pahlawan itu. “Segera berikan sikap soal nasib rumah ini. Kalau wali kota tidak sanggup, tulis surat kalau menyerah. Jangan dibiarkan seperti ini,” pinta Zainal. (git)
Agenda Renovasi Rumah W.R. Supratman Versi LPKP
- Pembebasan dua rumah di samping kanan dan kiri rumah W.R. Supratman.
- Perlu tambahan bangunan kantor untuk Museum
- Perlu tambahan koleksi dokumentasi W.R. Supratman. Perlu tambahan diorama statis dan diorama elektronis
sumber : www.jawapos.com
November 24th, 2006
SURABAYA - Suasana di Yayasan Pendidikan Diana kemarin berbeda dengan hari biasa. Begitu memasuki halaman, nuansa pedesaan Jawa sangat terasa di sekolah yang terletak di Jalan Kartini itu.
テつテつテつテつテつテつテつ
Gambar-gambar hasil-hasil pertanian dan sawah terpampang di beberapa sudut sekolah. Beberapa lokasi juga dipermak sedemikian rupa guna menghadirkan suasana pedesaan. Para guru dan murid juga berdandan ala penduduk pedesaan Jawa. Yang wanita mengenakan kebaya dan batik, yang pria memakai sarung lengkap dengan cangkul dan caping.
Tidak hanya dekorasi dan pakaian, makanan yang disajikan pun khas. Misalnya, tumpeng, bubur merah, jagung, dan kacang-kacangan. Begitu pula hiburannya. Pihak sekolah menyajikan musik tradisional Jawa. Irama gamelan dan suara sinden mengiringi tarian yang dibawakan siswa TK dan Play Group.
Ada apa di Yayasan Sekolah Diana? Hari itu mereka sedang memperingati hari Thanksgiving. Hanya, kali ini mereka mengambil tema berbeda. Yakni, mensyukuri hasil panen.
Menurut Kepala TK dan Play Group Diana, Judicia Lamantatow BSc, dalam acara tersebut anak-anak diajari bersyukur atas hasil panen yang selama ini mereka nikmati sehari-hari di meja makan. “Sebelum makan, harus mengucap syukur. Begitu pun setelah makan,” katanya.
Tak hanya itu. Pengenalan budaya dan adat Jawa yang sudah mulai terkikis juga dilakukan dalam acara tersebut. Anak-anak dikenalkan makanan dan cara khas bangsa Indonesia untuk bersyukur. “Kami mengenalkan tumpeng dan selamatan, ciri khas Indonesia untuk mengucap syukur pada Yang Mahakuasa,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut sangat didukung orang tua murid. Hampir semua murid yang datang kali itu didampingi orang tua masing-masing. Seperti Lina Kurniawati, warga Petemon yang mengantarkan anaknya, Adrian Rafael. Lina mengaku sangat senang dengan kegiatan yang baru diadakan kali pertama itu. “Sangat positif. Dengan begitu, anak tidak melupakan tradisinya. Mereka jadi lebih bersyukur atas karunia yang didapat,” katanya.
Murid-murid pun sangat antusias mengikuti jalannya acara. Jade Gunawan dan Sellyn Wijaya mengatakan sangat senang memakai baju adat Jawa yang mereka tidak pernah tahu. “Bubur merah ini rasanya enak ya. Apalagi tumpengnya,” ujar Sellyn polos.
Pengenalan budaya memang menjadi salah satu program kerja TK Diana. “Bukan hanya budaya Jawa, tapi juga budaya Tionghoa seperti imlek, serta budaya barat seperti halloween,” kata Judicia. Program seperti itu diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan pengalaman siswa.
Yang menarik adalah tampilnya rombongan karawitan beserta sinden. Pihak sekolah mencomot rombongan karawitan keliling. “Kita dapatnya baru kemarin (Rabu, Red),” kata Judicia. (cie)
sumber : www.jawapos.com
November 24th, 2006
The Education and Agro Business Tourism
Orchid Market in Darmo Satelit Surabaya area had stood since August 2005. It has been 7 gardeners who merged into Surabaya Orchid Society such as; Renny Orchid, Foresta Orchid, Bale Air, Nona Orchid. The Jasa Marga Area is managed with rent per month system. Strategic location because is located in front of Darmo highway door and luxuriant housing area.
テつテつテつテつテつテつテつ
Here is sold various orchid types, start from Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp, and Cymbidium sp. which is symposia orchid type in general have epiphyte character. While monopodium orchid type is orchid being distinguished by growing point which there is in tip of bar, pertumbuhann of straight to the above of by one bars like Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., and Aranthera sp.
Besides, in this area also stand up some restaurants, which are representative enough for family and also to serve the business relationship. The cold situation with its wide view that is decorated various beautiful plantations.
Plant orchid media is also sold here like fern, coconut fiber, charcoal, and woodテ「竄ャ邃「s powder, accompanied by critical fraction mixture or brick. Leaf ornamental plant agloenema, adenium, palm type, euphorbia of orchid in bottle. Orchid price is range about 25000 テ「竄ャ窶 300000 rupiahs.
Generally, orchid conduct has require a temperature about 28テつー C so it need pollinate roof if it put down in open place. But the high temperature can caused dehydration, which can pursue plant growth.
source : www.surabaya.eastjava.com
November 23rd, 2006
Tremendous Opportunity
テつ
up to the highest section of the bamboo poles. With a small knife she pried
open a section in the side of the bamboo and exposed a cache of thriftily hoarded
Ringgit more than sufficient to buy the tobacco. Tjiang Nio had been saving from
her cake sales and the proceeds of the shop. With the financing in place for the
purchase of the large store of tobacco, the familyテ「竄ャ邃「s mercantile direction was now
firmly set. From now on, Seeng Tee and Tjiang Nio would dedicate all their joint
resources and energy to developing their tobacco business.
テつテつテつテつテつテつテつ
In addition to tobacco products, they could also request that spices such as chocolate,
vanilla, nutmeg, cinnamon and cloves be added to the tobacco blend. This blend was
then hand-rolled at the stall into a cigarette on a small manual machine. Seeng Tee
and his wife soon realised that the time-consuming practice of cigarette rolling was detracting from their ability to sell higher-margin processed food products and
cigarettes. Once, they discussed about closing the tobacco portion of the business
and dedicating more shop space to the other products. Tjiang Nio, however, felt
that customers might prefer to buy pre-rolled products in the most popular blend
combinations. This hunch proved correct and the business expanded quickly with the
availability of pre-rolled conventional white and clove or テ「竄ャナ徒retekテ「竄ャツ cigarettes at the
family stall.
The new products provided good returns for the meagre working capital available at
the time. However, it was necessary for both Seeng Tee and Tjiang Nio to work late
into the night rolling the cigarettes by kerosene lantern in their small house under the
bridge. The blending and rolling process eventually occupied completely the first floor of
the bamboo-walled house. In fact, the tobacco and rolling equipment had to be pushed
to the sides of the room at night to provide space for the familyテ「竄ャ邃「s sleeping mats.
テつ
source : www.surabaya.eastjava.com
November 23rd, 2006
(The Traditional Fruit Market of Peneleh Since 19th Century)
Peneleh Fruit Market is other fruit market genesis in Surabaya like Widodaren market, Pawiyatan Fruit Market, Dupak Fruit Market. At first, member of Bali had visit to Surabaya to try to look for better life. Because at that moment many buses from Bali which its passenger is downwards around Peneleh Street Surabaya, loading and unloading at elbow Bali Hotel, Singaraja Hotel.
テつテつテつテつテつテつテつ
Initially they bring fruit in a few numbers to be sold. But because the request of fruit increasingly, hence they always fulfill the request. Because the fruit production was too much in Bali hence it sent to Yogya, Solo, Surabaya, Jakarta. Balinese believer often applies fruit as part of religious ceremony and holiday of Galungan and also Kuningan. It is a mother named Made Prami as the existence pioneer of Peneleh Fruit Market.
Grape, be first commodity that commercialized and make Penenleh market known as Grape Fruit Market. Grape and Rambutan delivered from Singaraja regency and, Salak (fruit of palm) from Sibetan-Karangasem.
Till now, the merchants of fruit feel love to trade here because it is strategic location. Sharing holder or commission is a system that used by trading off the effect of the farmers or Bali fruit collector. Besides Grape, there are also Salak Pondoh, Stone Apple, Palembang and Banjarnegara Hamlet. Along the Length of Peneleh and Achmad Jais Street, there is merchant who has shop or large building to sell fruit of import.
Around 35 booths inhabit through Peneleh Street. They also release electrical garbage fee 15 thousand rupiahs per day. The area in Indonesia that known as the center of Oranges that is Ujung Pandang, Bali, Jember, Banyuwangi, Lumajang. According to the merchants, now, the quality of best orange comes from Jember. The price of fruit is depends of the season. If it had the season, meant abundance result while the request tend to stable hence price will leap, so also on the contrary. The price of orange is determined based on the quality of fruit and classified in 5 categories that is Grade A Rp 4500 - Rp 7000, Grade B Rp 3500 - Rp 4500, Grade C Rp 2500 - Rp 3500, while last Grade 4 around Rp 1000 per kg. Purchasing minimize for oranges per crate or party. Out of job one packaging cases 5, 10, 20, 40 kg.
The origin merchants outside of Surabaya like Gresik, Sidoarjo, Lamongan, Bojonegoro, Blora, Gresik, Yogya, Pemalang look for fruit in term is “kulakan” to be sold again in their area.
The constraint of trade fruit here is the transportation fee, which too height and the biggest existence of collection alongside journey. As information 1 truck measure charges Trenton reach Rp 21 million containing approximately 22 tons. We very lag with China, Vietnam, Thailand, because besides the production always increase with good quality and supported with policy of government that very support.
The farmers in Indonesia become refuse to cultivation because its result is unmatched with the production cost that had released by farmer. Like its production cost orange reaching Rp 1500, - per kg, but after crop only be esteemed Rp 500,- per kg. Nearing night the merchants from outside town coming for “kulakan” and morning of the small traders in Surabaya. Now the dominant fruit that had sold is orange. Therefore, Pegirian Market is Rambutan.
source : www.surabaya.eastjava.com
November 23rd, 2006
Colonel Sugiono Joint Streets Wedoro Waru Sidoarjo is solid then man grass. Parking area for two wheels has been full. All outlets have been opened and ready to greet the buyer with each pledge product.
テつ
Wedoro village, Waru district, Sidoarjo regency is known as industrial centre of sandal and shoe since long time ago. Not only that, it also has batik and テ「竄ャヒ徼empeテ「竄ャ邃「 product. Start in 1978 shoe and sandal craft in this place has been progress and marked by the increase of the crafter and product. The material that applied for this craft is leather. Its distribution is still relying on the merchants in Turi Market, Supermarket, Blauran Market.
During through years do transaction with the merchants; the crafter often feel harmed by payment system that apply giro billet, the payment due often imprecise and there is a cutting equal to 4-5% per month. Finally they try for self-supporting with open a showroom so that they can sell directly. The other constraint is the expensive of the main material price especially spoons and glue because distribution line length. Therefore, the crafters hope the role of government to create regulation that supporting their business.
The product that yielded by the crafter is hardly variety and innovative. There are always newest model each month. They claimed for that purpose, because if they donテ「竄ャ邃「t do it, they will lose their business.
In this area, sandal and shoe product price range between Rp 5000, - until Rp 35000, -. Even sometimes moment it has sold Rp 10000, - (3 sandal tides). Product that sold in Wedoro is not only made of local crafter but also there are external product for example Bogor and Bandung.
The number of outlet up to June 2003 has reach 210. While, the amounts of the crafter that noted by the Shoe and Sandal Business Association is 600. The production ability of the crafter is 100 gorsier / week / crafter. In Waru district Sidoarjo regency, there are 17 villages, 9 part of it is the centre of sandal and shoe industrial that is Wedoro, Kepuh Kiriman, Brebek, Wadung Asri, Tambak Rejo, Ngingas, Tropodo, and Janti.
source : www.surabaya.eastjava.com
November 23rd, 2006
SURABAYA - Keindahan budaya Nusantara menjadi agenda hari kedua Festival Cak Durasim (FCD) VII di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) tadi malam. Saat itu, ditampilkan lima duta seni dari Taman Budaya Maluku, Kaltim, Kalbar, Bali, dan Kalsel.
テつテつテつテつテつテつテつ
Duta seni dari Bali menyiapkan tiga koreografi sekaligus. Yakni Tari Buratwangi, Galang Bulan dan Sang Hyang Legong. “Buratwangi adalah tari penyambutan. Karena itu kami tampilkan saat pembukaan FCD (Selasa malam, Red),” kata I Ketut Rena, koreografer dari Taman Budaya Bali. Sementara, dua tari lainnya dipertontonkan dalam Gelar Seni Taman Budaya Indonesia, tadi malam. “Untuk persiapan, kita butuh waktu dua bulan,” tambahnya.
Ketut –panggilan I Ketut Rena-mengatakan Galang Bulan adalah tari terang bulan atau bulan purnama. Saat itu, para remaja, terutama yang sedang jatuh cinta saling berkumpul dan bercengkrama sambil menikmati indahnya bulan purnama. “Suasana melankolis itulah yang membuat mereka rindu dan selalu menantikan bulan purnama berikutnya,” ujarnya.
Sementara Sang Hyang Legong merupakan upacara memohon keselamatan yang ditarikan oleh remaja yang menginjak dewasa. Mereka menari dengan suka cita hingga tanpa sadar kerasukan roh halus. Akhirnya, penari itu diusung keliling desa dengan tujuan mengusir wabah penyakit. “Kita bawakan dua tari berbeda, ritual dan kontemporer,” ucap staf Taman Budaya Bali ini.
Sementara, duta seni Kaltim membawakan Tari Papuliq Kutuk. Tari ini berkisah seorang gadis yang suka melukai burung. Gadis itu dikutuk penguasa alam menjadi burung juga. Kutukan tersebut bisa hilang ketika ada pengeran yang mencintai dan bisa melukai jasadnya. Kisah ini berakhir happy ending karena si gadis kembali dalam wujudnya semula dan menikah dengan sang pangeran. “Ini merupakan kisah dari Dayak Penyak Tunjung, Kaltim,” ucap Bakti Hartavip, sang koreografer. “Kisah ini bisa dijadikan panutan bagi remaja agar tak memperlakukan mahkluk hidup seenaknya sendiri,” lanjut pria 36 tahun ini.
Sementara itu pertemuan Taman Budaya se-Indonesia di Hotel Inna Simpang diikuti 20 kepala Taman Budaya. Pertemuan itu membahas berbagai isu pembinaan kesenian di masing-masing daerah, serta konsep pengembangan seni budaya masa depan. “Para kepala Taman Budaya se-Indonesia sepakat untuk tetap concern mempertahankan dan mengembangkan budaya di daerahnya masing-masing,” kata Pribadi Agus Santoso, ketua TBJT yang ditunjuk sebagai ketua forum Kepala Taman Budaya se-Indonesia ini.
Hari ini, pukul 10.00, digelar lomba kidungan di Pendapa TBJT. Acara yang dikoordinir Cak Sidik Wibisono ini bertujuan melestarikan seni kidungan yang merupakan ikon budaya kota ini. “Fokus utamanya sebenarnya remaja. Sebab, generasi inilah yang akan meneruskan pelestarian kidungan,” kata Ketua Panitia FCD VII Arif Rofiq.
Malam harinya di Gedung Cak Durasim tampil koreografi karya Ni Kadek Yulia (Solo), I Nyoman Sura (Bali), Abdul Rachim (Jakarta), dan Mawar Desember (Jakarta). I Nyoman Sura mengusung tarian Merah yang menggambarkan kesetiaan Sinta menuggu Rama. Sementara, Mawar menampilkan tari Himung yang berkisah tentang seorang wanita yang menderita karena tak bisa mengungkapkan rasa cinta yang bergejolak di hatinya. (ai)
sumber : www.jawapos.com
November 23rd, 2006
SURABAYA - Festival Cak Durasim (FCD) VII di Taman Budaya Jawa Timur tadi malam dibuka Direktur Kesenian, Ditjen Nilai Budaya, Seni dan Film, Dr Surya Yoga. Aneka pergelaran seni yang disuguhkan pun mengundang antusias warga masyarakat untuk menyaksikan gelaran seni setahun sekali itu.
Selama enam hari festival (hingga 26 November), masyarakat bisa menyaksikan aneka pergelaran seni tradisi yang telah mendapat sentuhan modern. Tidak hanya dari Jawa Timur, juga duta seni dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya, seperti yang akan tampil nanti malam, yakni duta seni Taman Budaya Maluku, Kaltim, Kalbar, Bali, dan Kalsel.
Pembukaan tadi malam diramaikan pertunjukan seni Ganongan Ponorogo-Surabaya. Dilanjutkan penampilan Dongkrek Madiun dan Kelompok Perkusi Semut Ireng Madura. Juga tari Buratwangi Bali, Jejer Banyuwangi, dan medley tarian Nusantara yang dipertunjukkan duta seni Taman Budaya Daerah.
“Ya, memang antartarinya sedikit tidak nyambung. Tapi, itu wajar,” kata Ketua Panitia FCD VII Arif Rofiq. “Justru itulah yang menegaskan perbedaan seni antarbudaya di Indonesia,” tambahnya.
Pergelaran tari empat koreografer jawara menjadi puncak pembukaan FCD VII. Mereka adalah Desi (Pacitan), Unit Kegiatan Tari Karawitan (UKTK) Unair, Sodiq Pristiwanto (Ponorogo) dan Gita Maron asuhan Dimas Pramuka Atmadji.
Hari ini, mulai pukul 09.00, diadakan workshop tari di Pendapa TBJT. Acara ini bisa diikuti sanggar-sanggar tari di Jatim. Juga berlangsung pertemuan kepala Taman Budaya se-Indonesia di Hotel Simpang. Pertemuan itu akan membahas berbagai isu pembinaan kesenian di masing-masing daerah. Malam harinya di gedung Cak Durasim, ditampilkan seni budaya Nusantara dari Maluku, Kaltim, Kalbar, Bali, dan Kalsel. Usai itu giliran seni Sandur Tuban tampil di pendapa sebagai penutup acara. (ai)
sumber : www.jawapos.com
November 22nd, 2006
Wage Rudolf Soepratman is the Great Hero of the author of Indonesia national anthem. Born on Monday, 9 March 1903 in Jatinegara Jakarta believe in Islam and not followed the political organization. His father named Senen, a sergeant in Battalion VIII. Mothered by his brother in-laws of WM Van Eldik (Sastromihardjo) he had learnt pluck guitar and fiddle violin.
In 1914, Soepratman follow Roekijem to Makassar. Over there, he sent to school and financed by Roekijem husband named Willem Van Eldik. Soepratman study Dutch language in night school during 3 years then continued it to Normaalschool. He go to an education school in Makasar and when he 20 years, he is lifted as a teacher in Angka 2 School. Two years after, he get Klein Ambtenaar certificate.
When he live in Makassar, Supratman had studied music from his brother in-laws named Willem Van Eldik, so that he clever to played violin and then he can compose song. When living in Jakarta, once upon a time he read a composition in Timbul magazine. The composition writer invited the Indonesia music experts to create the national anthem.
In October 1928 in Jakarta, there was passed off a Youngster Congress. The congress had borne ‘Sumpah Pemuda’. At congress closing night, on 28 Octobers 1928, Supratman sound off his creation song instrumentally in front of the public participant. At that time is for the first time of Great Indonesia song is echoed publicly. All which presents is surprised to hear it. Swiftly the song had known among national movement. If the political organization performed a congress, hence Great Indonesia song is always warbled. The song is materialization of association desire to independence.
He ever built music group which stream jazz called Black and white until 1924. He went to Surabaya and Bandung become newspaper correspondence of “Kaoem Moeda”.
By 28 Octobers 1928, performed a Second Youngster Congress with result of young man oath that confessed one fatherland, one nation, one Indonesians. In that congress had warbled by Great Indonesia song and accompanied by friction of WR Soepratman violin.
7th Augusts 1938, (Sunday) Indonesia Scout had sung Rising Indonesia song in NIROM Embong Malang Street Surabaya.
Passed away in Mangga Street 21 Surabaya
The effect of create the Great Indonesia song, he always hunted by the side of Dutch Indies Police and caused fall sick in Surabaya. Because his last creation song “Matahari Terbit” in the early of 7 Augusts 1938, he is caught when he broadcasting the song with the guides in NIROM Embong Malang street, Surabaya and jailed in Kalisosok Surabaya, and then die in 17 Augusts 1938 on Wednesdays buried in Kapasan graveyard.
Some of his creation songs:
The Nationality of Great Indonesia (Indonesia Raya)
Bendera kita merah putih
Matahari Terbit
Ibu Kita Kartini
Mars Kepandoen Bangsa Indonesia
On 26 Junes 1958, The Government Regulation 44, had declared Indonesia Raya as Republic of Indonesia National Anthem
10 Novembers 1971 Appreciations of National Warrior
19 Junes 1974 Appreciations of Main Mahaputra Star
source : www.surabaya.eastjava.com
November 22nd, 2006
Next Posts
Previous Posts