Archive for November, 2006

Potret Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan

Potensi Alam Bagus, Teknologi Kurang Mendukung
POTENSI alam berupa laut, menjadi berkah bagi masyarakat Kecamatan Klampis, Bangkalan, yang berada di pesisir. Setidaknya, selain ikan, masyarakat nelayan juga bikin usaha produk olahan dari hasil laut.


テつテつテつテつテつテつテつ

Setidaknya, 11 desa yang berada persis di bibir pantai Kecamatan Klampis saat ini menumpukan hidupnya dari melaut alias sebagai nelayan. Sisanya berada di kawasan pegunungan di sebelah selatan. “11 desa berada di pesisir. 11 desa lainnnya berada di kawasan pegunungan atau daratan,” tutur Camat Klampis Drs Bambang Setiawan.

Walaupun memiliki hasil laut yang cukup besar, namun belum sepenuhnya berhasil diolah secara optimal oleh masyarakat nelayan. Kalaupun ada, hanya beberapa produk olahan yang sudah memiliki nama cukup bagus di pasaran. Seperti terasi udang dan terasi cakalan (tongkol), serta teri yang sudah diekspor.

Belum optimalnya produk olahan hasil laut itu, salah satunya disebabkan minimnya pengembangan dengan teknologi, maupun variasi dalam memproduksi. Selama ini yag digunakan cara-cara produksi yang tradisional.

Berbeda dengan hasil laut, hasil bumi atau pertanian masyarakat Klampis sangat minim, termasuk padi. Penyebab utamanya adalah kurangnya air, kendati kawasannya berada di dekat pantai dan di pegunungan. Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah daerah melalui instansi terkait membuat embung air untuk menampung air hujan, cek dam, dan sebagainya. Untuk penanganan hasil laut pun demikian, dengan pemberian bantuan peralatan dan pembinaan.

Hampir separuh luas Kecamatan Klampis desanya berada di pesisir dengan total kurang lebih 660 perahu nelayan yang ada dari Desa Toテ「竄ャ邃「ol, Muara, Tolbuk, Buluk Agung, Klampis Barat, Klampis Timur, dan Tenggu Dajah.

Sisanya di daratan dan pegunungan. Susahnya, untuk kawasan pegunungan ini memiliki keterbatasan-keterbatasan, terutama soal air. Padahal, keberadaan air sangat vital untuk pertanian. Potensi pertanian yang adalah besarnya cabe, jagung, kacang, dan mangga.

Kecamatan Klampis berbatasan dengan Kecamata Arosbaya di sebelah barat dan Tanjung Bumi di sebelah timur. Di batas selatan dengan Kecamatan Geger sebelah selatan dan sebelah utara berbatasan dengan laut.

Penduduk Klampis kurang lebih 52 ribu orang dengan 13 ribu KK. Hampir separuhnya, yakni sekitar 6 ribu KK masuk kategori miskin.

sumber : www.jawapos.com

Add comment November 29th, 2006

Pengelolaan Belum Optimal

Potesi alam akan banyak berguna jika dikelola dengan baik dan optimal. Begitu juga dengan potesni alam di Kecamatan Klampis. Berikut petikan wawancara wartawan Radar Madura Rusli Djunaidi dengan Camat Klampis Bambang Setiawan.


テつテつテつテつテつテつテつ

Kecamatan Klampis memiliki potensi laut yang bagus. Bagaimana kondisinya?
SEJAUH ini memang bagus. Namun diakui pengalolaannya masih kurang optimal, terutama dalam mengolah hasil laut dijadikan hasil proiduksi yang lebih bervariatif dan memiliki daya saing.

Lalu, apa yang ng dilakukan masyarakat?
Sudah ada terobosan-terobosan, misalnya mengolah hail laut menjadi krupuk udang. Usaha ini memang sedang berjalan. Selain itu, peran masyarakat di luar nelayan, seperti Karang Taruna Indonesia Muda dari Desa Klampis Timur sangat membantu pengolahan hasil laut ini. PKK Klampis juga sangat aktif, sehingga betul-betul mampu meningkatkan gairah masyarakat untuk berusaha, setidaknya dalam pengembangan produk dan pemasaran dengan kolompok-kelompok kecilnya, yakni dasa wisma.

Sejauh ini, apa keluhan dari para nelayan?
Mereka mengeluh soal dangkalnya air laut saat ini. Sehingga sering kapal mereka menabrak karang.

Lalu, bagaimana peran pemerintah dalam meningkatkan ekonomi masyarakat, baik di sektor nelayan maupun pertanian?
Sejauh ini pemkab melalui instansi terkait cukup inten memperhatikan masyarakat di sini. Seperti dengan dibangunnya embung air dan cek dam. Lalu, pengeboran beberapa sumur di kawasan pegunungan untuk mengatasi kekurangan air di lahan pertanian. Terakhir, pemberian bantuan kepada masyarakat nelayan dan pembinaan para petani. Ini sangat perlu mengingat potensi alam baik dari laut maupun pertaniannya disini cukup bagus dan belum optimal. (*)

sumber : www.jawapos.com

Add comment November 28th, 2006

Si Mungil yang Menggemaskan

MALANG - Beragam liontin yang imut dengan style gambar binatang nan mungil menjadi pilihan untuk mempercantik penampilan penggemar berlian dari kalangan ABG. Keluaran terbaru dari seri animal moiselle series yang didesain dari emas putih bertahtakan berlian itu bisa ditemui di Pameran Perhiasan Tunggal Frank & Co di Hotel Tugu pada 24-27 November 2006.


テつテつテつテつテつテつテつ

Koleksi tersebut melengkapi seri cute animal collection sebelumnya dengan seri satwa langka yang dilindungi WWF. Masing-masing liontin moiselle series ini mengusung karakter unik dengan ekspresi menggemaskan. Di setiap liontin ada butiran berlian oreal f color & ws clarity berkualitas tinggi. “Model baru ini bisa disimpan untuk memperkaya koleksi cute animal lainnya. Harganya terjangkau, mulai Rp 1,1 juta,” jelas Budiyanto, exhibition manager Frank & co Jewellery.

Tak hanya moiselle series saja yang terbaru dari Frank & Co, tetapi koleksi bambini series untuk bayi putri juga tersedia. Menariknya, koleksi bambini series ini menghadirkan 12 shio dengan didesain dengan model yang lucu-lucu. Ada juga koleksi satu set gelang dan liontin dari bambini series ini.

“Koleksi lainnya juga tak kalah menarik. Sebut saja, bross menarik untuk kerudung dengan model daun maupun bunga yang ditawarkan mulai Rp 4 jutaan. Ada juga koleksi kalung dan gelang mutiara, koleksi flurie yang ekonomis dan masih banyak lagi,” jelas Budi.

Khusus tipe flurie, lanjut dia, responsnya sangat antusias. Sebab, tipe ini mengusung berlian kecil-kecil yang berciri menjadi satu kesatuan mirip satu karat berlian utuh. Kilauan cahayanya jauh lebih keluar dan tampak glamor seperti berlian utuh yang mahal,” kata dia.

“Sejak hadir tipe flurie ini, langsung banyak diminati masyarakat Malang. Itu karena harganya ekonomis jauh lebih terjangkau oleh kalangan masyarakat penggemar berlian. Sehingga, tampilan berliannya tampak besar,” ujar Budi.

Beragam model berlian dari tipe flurie ini ditampilkan dalam pameran. Seperti dalam bentuk kalung, cincin, liontin, anting, maupun gelang. Susunan berlian pada aneka perhiasan itu terlihat tampak besar, padahal terdiri dari tatanan berlian kecil yang disusun rapi.

“Produk perhiasan khas Indonesia ini mengandalkan teknik pemotongan rapi, tingkat kejernihan dan pancaran warna yang berkelas. Khusus colour kami masuk colour F, clarity tingkatan VVS (tingkat kejernihan nomor dua) dan sebagainya,” terang dia.

Budi menjelaskan pameran ini konsumen diberikan kemudahan untuk memiliki perhiasan dengan Festival Eazy Pay 0% kerja bareng dengan Citibank dengan cicilan 3, 6, dan 12 bulan. (lia)

sumber : www.jawapos.com

Add comment November 28th, 2006

Tol Porong Lumpuh, Pengelola Wisata Waswas

BATU - Lumpuhnya tol Porong-Gempol dan kemacetan di ruas Jl Porong akibat lumpur Lapindo meresahkan pelaku bisnis di Kota Batu. Mereka khawatir kunjungan wisata ke Kota Batu akan semakin menurun.


テつテつテつテつテつテつテつ

Salah satu yang waswas adalah Jatim. Pasalnya, 40 persen pengunjung ke Jatim Park dari wilayah pantura, yang datang ke Batu melalui tol Porong. Sehingga, kalau jalur dari Surabaya menuju Malang macet, otomatis Jatim Park akan kehilangan 40 persen pengunjung tersebut. “Ini bisa berdampak serius terhadap pengelolaan Jatim Park,” kata Ismanto, humas Jatim Park kemarin.

Namun, kata dia, untungnya pengelola Jatim Park di Batu masih memiliki andalan lokasi wisata lain. Yaitu, wisata bahari di Lamongan. Dengan demikian, yang tidak bisa berkunjung ke Jatim Park bisa ke Lamongan. Sehingga, ini masih bisa membantu Jatim Park di Batu. Kalau tidak ada alternatif di Lamongan tersebut, maka bisa saja Jatim Park Batu semakin surut pengunjungnya.

Untuk itu, para pelaku bisnis di Batu, termasuk Jatim Park sangat berharap kepada pemerintah agar segera menyelasaikan masalah lumpur Lapindo tersebut. Terutama, untuk kemudahan akses dari Surabaya ke Malang. Kalau kondisi tetap semacam ini dan justru lebih parah, maka bukan tidak mungkin para pelaku bisnis akan menanggung banyak kerugian. Yang mana, dampaknya bisa merumahkan para karyawan.

Sementara itu, meski jumlah pengunjung dari pantura menurun di hari Minggu, jumlah pengunjung di Jatim Park masih tinggi. Namun, banyaknya jumlah pengunjung ini belum bisa dipastikan sampai kapan.(lid)

sumber : www.jawapos.com

Add comment November 28th, 2006

Melihat Persiapan Jelang Grebeg Singhasari Memperingati HUT Kabupaten Malang

Cari Simbol Malang, Buat Topeng Bapang
Acara Grebeg Singhasari digelar tidak hanya mengenang Kejayaan Singhasari, tapi juga ada keinginan menjadikan Kabupaten Malang sebagai Kota Topeng Bapang di HUT ke-1246 Kabupaten Malang. Seperti apa bentuknya?


テつテつテつテつテつテつテつ
Eko Agus Prasetyo, Malang.

Pagi kemarin suasana luar sekretariat Grebeg Singhasari (GS) Jalan Silikat 53 Malang disibukkan dengan lima seniman yang sedang membuat topeng. Topeng ini sangat unik karena mempunyai ciri khas. Itu dibuktikan dengan hidungnya yang sangat mancung serta warnanya yang merah menyala. “Topeng ini dinamakan dengan nama Topeng Bapang Mas,” ujar koordinator pembuatan miniatur topeng, Abu Hanifah di sela-sela mengecat topeng Bapang, kemarin.

Keunikan topeng ini menjadi sangat terkesan karena memiliki ukuran sangat besar seperti topeng raksasa. Detailnya tinggi 3,5 meter dan lebar 2,5 meter. Topeng ini dibuat dengan bahan kertas semen, triplek, dan kayu meranti serta menggunakan perpaduan cat warna merah, biru, dan kuning. “Namun bagi masyarakat kabupaten yang mengerti topeng ini, karena topeng ini adalah hidungnya yang mancung. Panjangnya saja mencapai 1,5 meter. Topeng ini dulu sangat terkenal sebagai dipakai untuk tarian yang ditampilkan tunggal,” terang Abu.

Topeng ini sengaja dibuat panitia Grebeg Singhasari untuk dijadikan maskot Grebeg Singhasari. Sebab topeng ini mudah dikenali masyarakat kabupaten dengan hidungnya yang mancung dan warnanya yang merah menyala.

Dalam pembuatan replika Topeng Bapang ini tidak hanya sekadar asal-asalan. Pasalnya topeng ini dibuat setelah melakukan kajian dengan unsur perajin topeng Mbah Karimun, Dwi Cahyono (sejarawan sekaligus arkeolog), Sugiyanto (Direktur MTC), Kaisar (perupa), Abu Hanifah, Nurul Taufik, Ariya, ketiganya insan pariwisata.

Maskot ini nantinya akan diarak dengan menggunakan trailer mulai awal acara Grebeg Singhasari digelar, dari Jl Kertanegara hingga Pendapa Kabupaten Malang. Topeng ini dipilih, karena mempunyai karakter yang berbeda dibanding topeng malangan yang lainnya. Selain bentuknya yang sangat besar, juga memiliki karakter yang berbeda yakni hidungnya yang mancung dan warnanya yang merah menyala. “Topeng ini sekaligus untuk mengenang kemasyuran Singhasari dalam lintas masa, sebab pada saat itu Topeng Bapang ini juga sangat terkenal,” ucap pengurus teras Masyarakat Peduli Wisata (MPW) Dwi Cahyono.

Dwi menjelaskan, topeng ini sengaja dijadikan maskot dengan harapan bisa menjadi ikon Malang. Seperti di Kalimantan ada Topeng Hudok, Betawi ada ondel-ondel. “Kami berharap maskot ini nantinya bisa dijadikan sebagai ikon kabupaten. Artinya topeng ini menjadi simbol seni dan budaya kabupaten,” ucapnya.

Selain menjadikan ikon, pembuatan replika Topeng Bapang ini sekaligus merupakan penghargaan bagi pengrajin topeng di kabupaten. Salah satunya Mbah Karimun, sebab dari tangan-tangan mereka ini kerajinan Topeng ini masih ada di Kabupaten Malang. “Meskipun penghargaan ini sangat sederhana, kami sangat yakin sangat bermakna bagi kalangan pengrajin,” ucap Direktur MTC Sugiyanto. (*)

sumber : www.jawapos.com

Add comment November 28th, 2006

Gali Kolam Temukan Pemujaan

Satu unit bangunan yang diyakini sebagai situs bersejarah ditemukan di Dusun Besole, Desa Darungan, Kecamatan Kademangan. Bangunan berbentuk pintu gerbang tempat pemujaan terletak di ke dalaman dua meter dari permukaan tanah.

テつテつテつテつテつテつテつ

Di pintu masuk tangga terdapat dua patung naga. Tekstur bangunan berukuran 2,5 x 6 meter itu sebagian terbuat dari batu bata besar dan batu utuh. Batu bata besar dalam istilah arkeologi disebut masive.

Dugaan jika bangunan itu adalah tempat pemujaan setelah sembilan petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Jawa Timur meneliti bentuk bangunan tersebut. Penelitian dilakukan untuk mengetahui umur dan jenis bangunan yang sempat menggemparkan warga Desa Darungan itu.

Sebenarnya, situs itu ditemukan pada 15 Juni 2005 lalu. Namun yang terlihat hanya moncong naga. Perangkat desa melaporkan penemuan situs itu ke BP3 beberapa waktu lalu. Pada 23 November dilakukan penggalian lebih dalam.

Sayuthi, pria yang kali pertama menemukan bangunan. Pria berusia 65 tahun itu sebenarnya berencana membuat kolam baru di samping rumahnya. Lantaran kolam, tanah harus dikeruk minimal 3 meter dari permukaan tanah. Belum sepenuhnya menggali, cangkulnya menyentuh batu bata besar. Batu besar itu ternyata kepala naga yang menghadap ke barat. “Saking kerasnya, cangkul cuwil. Terus saya gali lagi, ternyata ada tangga. Akhirnya sayalaporkan ke orang-orang. Baru pada 23 November petugas dari Mojokerto datang meneliti,” kata Sayuthi.

Sementara itu, Arkeolog BP3 Trowulan Kuswanto mengindikasikan bangunan itu peninggalan jaman kerajaan Majapahit abad 17 silam. Dari bentuknya, memang menyerupai pintu gerbang menuju tempat pemujaan. “Ciri-cirinya ada Ukel atau kepala naga di samping kiri kanan bangunan. Kalau pintu gerbang rumah atau istana, pasti ada Dwarapala atau patung raksasa. Situs Besole ini tidak ada Dwarapala,” kata Kuswanto.

Kini pihaknya terus melakukan penggalian di sekitar lokasi penemuan bangunan. Lokasi penemuan masih diberi pembatas dan dijaga selama 24 jam penuh oleh Sayuthi dibantu warga sekitar. Ada dugaan, selain pintu gerbang juga terdapat candi atau sejenisnya. Pasalnya, di atas bangunan ditemukan batu-batuan besar yang biasa digunakan candi-candi pada umumnya. “Banyak batu-batuan besarnya,” pungkas Kuswanto lagi. (ziz)

sumber : www.jawapos.com

Add comment November 28th, 2006

Merajut Poros Kebudayaan Surabaya - Tiongkok

Diakui atau tidak, seringkali konflik etnis antara Jawa (dan Madura) dengan etnis Tionghoa terjadi karena ketidak saling pengertian akan kultur budaya masing-masing

Hari kamis, tanggal 9 Nopember lalu Kantor Konsulat Jenderal (Konjen) Tiongkok diresmikan dan sekaligus pada saat itu pula dioperasionalkan. Dan boleh jadi peresmian kantor di Jalan Mayjen Sungkono 105 itu menjadi sejarah baru bagi masyarakat Jawa Timur pada umumnya, dan Surabaya pada khususnya untuk lebih dekat dengan Tiongkok secara politik. Yaitu terjalinnya hubungan formal antar dua wilayah tersebut yang sangat mungkin dapat memberikan kemudahan akses bagi kedua belah pihak, khususnya dalam hal ekonomi.

テつテつテつテつテつテつテつ

Sedangkan dalam aspek budaya, sesungguhnya antara Tiongkok dengan Surabaya (Jawa) telah terjalin sejak masa kerajaan. Bangsa Tiongkok yang merupakan bangsa yang gemar melakukan perniagaan ke manca negara telah lama menginjakkan dan bermukim di wilayah-wilayah pesisir, termasuk Surabaya. Apalagi dalam sejarah perkembangan Islam di Surabaya, keberadaan masjid yang dibangun oleh Laksana Muhammad Cheng Hoo memiliki arti sejarah tersendiri bagi kehadiran bangsa Tiongkok di Surabaya.

Keberadaan Konjen Tiongkok di Surabaya ini memang sangat strategis. Sebab Surabaya merupakan salah satu kota transit dan juga penghubung-di Indonesia -untuk dapat bepergian ke luar negeri. Termasuk dalam hal ini bepergian ke Tiongkok. Juga keberadaan masyarakat Tionghoa di Surabaya dan sekitarnya relatif sangat besar dan menguasai roda perekonomian daerah.

Harapan ini tidaklah berlebihan karena di Jawa Timur dan utamanya Surabaya, masyarakat Tionghoa boleh dibilang tidak sedikit jumlahnya. Lebih dari itu, masyarakat Tionghoa bahkan telah menjadi bagian dari masyarakat Jawa Timur itu sendiri. Sehingga penyebaran masyarakat Tionghoa pun relatif merata, mulai dari desa sampai ke kota. Apalagi kepiawaian masyarakat Tionghoa dalam dunia usaha, justru semakin mengakrabkan komunikasi mereka dengan masyarakat lokal (pribumi).

Dan dikatakan oleh Duta Besar (Dubes) Tiongkok untuk Indonesia, Lan Li Jun, harapan setelah adanya kantor Konsulat Jenderal Tiongkok di Surabaya tersebut ialah semakin kuatnya hubungan di segala bidang kedua negara. Baik ekonomi, budaya maupun sosial.

Harapan tersebut sesungguhnya tidak berlebihan. Meskipun masyarakat Tionghoa telah berada di pulau Jawa sejak jaman kerajaan, tetapi harmonisasi hubungan antara keduanya-antara masyarakat Jawa dan Tionghoa-kerap mengalami pasang surut. Apalagi kalau berkaitan dengan persoalan-persoalan politik di masa Orde Baru yang sangat diskriminaif, dan hingga sampai kini praktek-praktek diskriminatif itu masih kerap kita dengar.

Perlakuan Diskriminatif
Dimulai dari masa kolonialisme Belanda, adanya perlakuan yang diskriminatif antara etnis Tionghoa dengan etnis pribumi, lalu berjalan terus dimasa kekuasaan orde lama yang berakhir dengan peristiwa G 30 S/PKI. Kaum Tionghoa pun sempat dimusuhi oleh ’sebagian’ masyakat lokal karena dianggap lebi pro ke PKI. Sehingga pada masa kekuasaan Orba, etnis Tionghoa dikebiri aspirasi politiknya dan dijadikan ’sapi perahan’ oleh para penguasa Orba karena kelihaiannya dalam berbisnis.

Dan puncaknya adalah pada awal era reformasi, kaum Tionghoa yang dituding sebagai penyebab terpuruknya perekonomian Indonesia-yang digeneralisir dari beberapa koruptor dari kalangan Tionghoa yang lari ke Singapura–menjadi korban kekerasan fisik dan perkosaan yang sangat biadab.

Dengan dibukanya Konjen Tiongkok tersebut, memang telah memberikan berbagai keuntungan dan kemudahan. Dengan adanya Konjen Tiongkok di Surabaya, masyarakat Jawa Timur lebih mudah membangun akses ke Tiongkok karena persoalan administrasi akan bisa teratasi dengan lebih baik. Termasuk dalam pembuatan visa. Utamanya masyarakat Tionghoa yang sudah menjadi warga negara Indonesia, tidak lagi mengalami kesulitan untuk dapat ‘mudik’ mengunjungi tanah leluhur atau kampung halaman nenek moyang.

Dari sudut ekonomi, masyarakat Jawa Timur semakin memiliki alternatif untuk mengembangkan bisnis. Roda perekonomian di Jawa Timur-yang sebagian juga digerakkan oleh masyarakat dari etnis Tionghoa-merupakan kesempatan emas bagi Jawa Timur untuk meningkatkan investasi dan devisa daerah.

Dari sisi pariwisata pun Jawa Timur memiliki peluang emas untuk memasarkan potensi-potensi wisata di Jawa Timur yang menarik ke masyarakat Tiongkok. Termasuk juga bagi masyarakat Jawa Timur untuk melakukan kunjungan wisata ke negeri Tiongkok. Selama ini, orientasi pariwisata masyarakat untuk kel luar negeri cenderung lebih melirik Barat, atau paling tidak Singapura dan Thailand sebagai daerah sasaran wisata.

Namun demikian, keberadaan Konjen Tiongkok ini tidaklah tepat kalau hanya dimanfaatkan sekedar untuk kepentingan ekonomi semata. Lebih dari itu, keberadaan Konjen Tiongkok semestinya dapat semakin mendekatkan masyarakat Jawa Timur dan Tiongkok dari sisi sosial dan budaya. Dan sepertinya hal ini lebih penting karena akan lebih dapat melanggengkan hubungan Surabaya (dan Jawa Timur)-Tiongkok secara kultural.

Diakui atau tidak, seringkali konflik etnis antara Jawa (dan Madura) dengan etnis Tionghoa terjadi karena ketidak saling pengertian akan kultur budaya masing-masing. Sehingga, utamanya masyarakat lokal sering meledek atau mentertawakan apa saja yang telah menjadi kebiasaan atau budaya masyarakat Tionghoa dan meposisikan sebagai bahan lelucon. Bahkan tidak jarang, masyarakat Tionghoa dipandang sebagai masyarakat kelas dua oleh masyarakat lokal (pribumi), tetapi oleh sebagian kaum birokrat diposisikan sebagai masyarakat kelas satu karena lebih mampu dimanfaatkan sebagai pundi-pundi uang.

Padahal, dari sekian penyebaran etnis Tionghoa diseluruh dunia justru keberadaannya di Indonesia yang sangat menarik. Pada umumnya, masyarakat Tionghoa akan lebih mengikuti agama (kepercayaan) mayoritas di mana mereka tinggal. Tetapi khusus di Indonesia, justru hal tersebut tidak terjadi. Meski Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia, tidak serta merta mereka berbondong-bondong memeluk Islam. Bahkan sebaliknya, Islam merupakan agama minoritas dikalangan masyarakat Tionghoa.

Dari hal diatas, memang ada dua kemungkinan. Pertama, agama Islam dipandang kurang cukup populer untuk mendukung budaya niaga di kalangan masyarakat Tionghoa. Atau kedua, masuknya masyarakat etnis Tionghoa untuk berbaur dan menjadi masyarakat lokal tidak mengalami tekanan politik. Hal ini berbeda dengan kehadiran mereka di Amerika Serikat, di Thailand, Singapura dan sebagainya. Sepertinya, kemungkinan yang kedua lebih dapat diterima.

Mengakrabkan Budaya
Karena itu, mengakrabkan budaya kedua bangsa atau etnis ini selayaknya juga mendapatkan prioritas yang utama. Bahkan kalau perlu adanya hubungan kultural yang baik antara Surabaya dan Tionghoa sehingga dapat menjadi poros kebudayaan.

Entah benar atau tidak, keberadaan masyarakat Tionghoa di Jawa Timur yang telah berlangsung ratusan tahun itu pastilah sedikit banyak telah memberi warna kepada kebudayaan lokal Jawa. Hal ini dapat dilihat dari adanya kesenian jepaplok yang baik bentuk maupun geraknya memiliki kemiripan dengan barongsai.

Penulis menjadi teringat tentang muhibah kebudayaan antara Indonesia-Malaysia yang dahulu selalu ditayangkan melalui TVRI. Sehingga antara kedua negara saling dapat mengenalkan kebudayaan masing-masing, dan juga menjadi cerminan keharmonisan dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat. Apakah bukan tidak mungkin jika hal serupa juga terjadi diwujudkan dalam merekatkan hubungan Surabaya-Tiongkok? Sehingga yang kita kenal tidak hanya barongsai saja, tetapi juga yang lainnya.

Oleh: Abd Sidiq Notonegoro
Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Jawa Timur

sumber : www.kompas.com

Add comment November 27th, 2006

Membangun Jaringan Wisata di Jawa Timur

Antara Goa Maharani, kawasan Pantai Tanjung Kodok, dan Wisata Bahari Lamongan yang berada di pantai utara Jawa Timur ini sebenarnya tidak ada bedanya. Sebab, cakupan pengembangan daerah wisata Wisata Bahari Lamongan sudah sekaligus termasuk Pantai Tanjung Kodok dan Goa Maharani sebagai kawasan wisata terpadu.

テつテつテつテつテつテつテつ

Wisata Bahari Lamongan (WBL) mulai terkenal sampai ke luar Lamongan, bahkan hingga ke luar Provinsi Jatim. Kini, tempat itu menjadi salah satu katalog agenda wisata keluarga Jatim. Selain Jatim Park I di Batu, Sengkaling di Malang, atau Pantai Ria Kenjeran di Surabaya, warga Jatim bisa memilih WBL sebagai salah satu tempat tujuan melepas penat bersama keluarga.

Kawasan yang disajikan dengan konsep one stop service itu pada tahap pertama dibangun di atas tanah seluas 17 hektar. Ke depan, area wisata itu akan dikembangkan hingga 24 hektar. Obsesi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan bersama investor berkeinginan menciptakan area wisata terbesar di Jatim, jika perlu se-Indonesia.

Obsesi tersebut kini mencapai 80 persen. Pembangunan pertama area wisata itu mengembangkan kawasan wisata Tanjung Kodok yang disulap menjadi tempat wisata modern dengan aneka fasilitas wisata.

Dengan tiket biasa Rp 10.000-Rp 15.000 dan tiket terusan Rp 25.000-Rp 35.000, pengunjung dapat menikmati sedikitnya 20 macam fasilitas wisata. Aneka fasilitas wisata itu di antaranya adalah arena ketangkasan, insektarium, marina, kolam renang air tawar, kolam renang laut dengan pantai pasir putih buatan, bumper car, space shattle, kano, long boat, bumper boat, tagada, planet kaca, sarang bajak laut, arena pacuan kuda, dan sirkuit go kart.

Tidak hanya itu, pengunjung akan disediakan tempat belanja komplet khas Jatim berupa souvenir shop. Di tempat tersebut tersedia produk unggulan, pasar ikan, buah dan sayur, serta pasar hidangan yang dibuka mulai pukul 09.00 sampai 21.00.

Daya tarik WBL tidak hanya terletak pada fasilitas wisata yang lengkap. Namun, daya tarik paling berharga terletak pada pemandangan lepas pantai ke Laut Jawa di utara WBL. Tidak jauh dari tempat itu, Buya Hamka pernah menulis roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk di mana kapalnya tenggelam di perairan dekat Lamongan.

Bisa dipastikan, daya tarik WBL semakin memikat saat perluasan tahap kedua kawasan itu rampung. Perluasan WBL mengembangkan kawasan wisata Goa Maharani yang terletak 300 meter sebelah selatan area Tanjung Kodok.

Rencananya, antara kawasan wisata Tanjung Kodok dan Goa Maharani disatukan dalam satu paket wisata bahari. Sebagai sarana penghubung, pengunjung bisa memanfaatkan kereta gantung, sebuah jaringan kereta gantung pertama di Jatim.

Sumber pemasukan

Tempat yang secara geografis terdiri dari tanah bebatuan itu kini menjadi lumbung pemasukan penting bagi Kabupaten Lamongan. Kesulitan air di daerah wisata itu sudah diatasi dengan pengeboran sumur air tawar yang dilakukan di area khusus yang telah dibeli pengelola.

Direktur WBL Aris Wibawa mengatakan, penyelesaian tahap pertama akan rampung dalam enam bulan ke depan. Kini, pengembangan sedang difokuskan pada pembangunan hotel dan convention hall di sebelah barat Tanjung Kodok.

Bahkan, pembangunan hotel berbintang tiga dengan kapasitas 50-60 kamar itu sudah selesai 70 persen. Hotel dengan kapasitas 500 pengunjung disiapkan sebagai テδ「テ「窶堋ャテつ拊arak penginapanテδ「テ「窶堋ャテつ di mana pengunjung bisa menginap lima sampai 15 orang sekaligus dalam satu kamar.

Aris mengatakan, kehadiran WBL tidak dilakukan untuk menandingi tempat wisata lain yang sebelumnya telah berdiri. Kami ingin membidik pasar sendiri, tutur Aris.

Sejak dibuka saat soft opening tanggal 14 November 2004, total jumlah pengunjung yang datang 600.000 pengunjung dari target 500.000. Rata-rata, mereka datang dari warga di Tulungagung, Nganjuk, Kediri, dan Blitar. Pengunjung yang datang semakin berkembang. Tren terakhir kunjungan wisatawan domestik berasal dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin meningkat.

Tingkat kunjungan setiap harinya pada hari biasa mencapai 500-2.000 pengunjung. Sedangkan pada musim libur pada Juni-Juli tingkat kunjungan melonjak mencapai 5.000-15.000 orang setiap harinya.

Keinginan kami, ke depan WBL bisa menjadi primadona pariwisata Jatim dari sisi bahari. Paling tidak, kami ingin menjadikan Bali bagi Jatim dengan tetap memegang nilai-nilai religi, tutur Aris.

Tahun 2005 ini, Pemkab Lamongan menetapkan target pendapatan dari WBL senilai Rp 4 miliar. Nilai target itu tergolong besar untuk ukuran Kabupaten Lamongan.

Keuntungan berdirinya WBL tidak hanya dari sisi pemasukan uang, tetapi juga dari sisi tenaga kerja. Dari 380 pekerja yang ada, 60 persen di antaranya adalah pemuda Lamongan lulusan SLTA dan perguruan tinggi.

Mudah dijangkau

Lokasi wisata WBL bisa ditempuh dengan kendaraan jenis apa pun. Sebab, letaknya tepat di pinggir Jalan Raya Daendels, Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Tepatnya satu jam perjalanan arah utara kota Lamongan dan satu setengah jam arah barat kota Surabaya.

Tidak jauh dari tempat itu, sekitar lima kilometer arah timur, pihak Pemkab Lamongan akan mengembangkan sebagai kawasan berikat yang dikenal dengan Lamongan Intregated Shorbase (LIS). Sementara itu, sekitar enam kilometer arah barat terdapat pelabuhan ikan Brondong yang dilengkapi dengan tempat pelelangan ikan yang sangat dikenal di Jatim.

Diakui atau tidak, potensi pertumbuhan ekonomi di utara Lamongan berjalan meyakinkan. Cluster pengembangan kawasan itu menjadi salah satu kawasan yang tingkat pertumbuhan ekonominya meningkat tajam.

Berdirinya WBL adalah hasil kerja sama antara Pemkab Lamongan dan PT Bunga Wangsa Sejati yang sebelumnya membangun Jatim Park I di Batu. Dari kerja sama itu, kemudian dibentuk PT Bumi Lamongan Sejati sebagai pihak yang mengelola WBL.

Di tengah optimisme pengembangan kawasan WBL, sejumlah pengunjung masih mengeluhkan persoalan klasik tentang kebersihan. Sebenarnya, pengunjung asal Sidoarjo, Wili Locarno (42), mengaku terkesan dengan tempat wisata WBL.

Saat itu, Sabtu (16/7), Wili datang bersama mertua, istri, dan kedua anaknya. Duduk di pinggiran kolam renang sehabis mandi, Wili mengatakan, Tempat ini menarik sekali. Tetapi sayang, kebersihan terutama di toilet masih belum terjamin, ujarnya.

Tidak hanya Wili, mertuanya, Sartika (64), mengatakan hal yang sama. Ia menyayangkan fasilitas dan potensi yang bagus itu harus ternoda oleh kebersihan yang kurang dijaga. Kapan tempat wisata kita menjadi tempat yang bebas dari kotoran?

sumber : www.kompas.com

3 comments November 27th, 2006

Wisata Surabaya Harus Utamakan Gedung Tua

Surabaya, Kompas - Pariwisata Surabaya jangan hanya diarahkan pada wisata sungai atau pembangunan monumen-monumen sejarah, namun harus lebih fokus pada pemeliharaan gedung-gedung tua yang banyak telantar. “Turis-turis mancanegara, terutama dari Eropa paling menyukai arsitek gedung-gedung tua berikut sejarahnya. Tidak ada turis asing yang mau mengeluarkan banyak uang datang ke Surabaya, hanya disuguhi potlot raksasa (Tugu Pahlawan-Red),” kata William AJ Vroegop, konsultan pariwisata untuk turis mancanegara, di Surabaya.


テつテつテつテつテつテつテつ
Menurut Vroegop, Surabaya sebagai salah satu kota bisnis terbesar di Asia Tenggara, mempunyai potensi pariwisata yang luar biasa besar. “Apalagi Surabaya mempunyai pelabuhan yang telah ada sejak zaman dahulu, yang sudah pasti memiliki bangunan-bangunan kuno dengan arsitektur klasik. Kalau Pemerintah Kota Surabaya bisa menangkap itu, kedatangan turis tidak akan bisa dibendung lagi,” kata Vroegop.

Wisata sungai yang berulang kali didengungkan Pemerintah Kota Surabaya akan dibangun, menurut Vroegop, membutuhkan biaya yang luar biasa besar dan kesadaran dari seluruh warga kota. “Tidak bisa pemerintah berjalan sendiri, sementara warga kota tidak mendukung. Jadi untuk mewujudkannya perlu waktu yang cukup lama, sedangkan kedatangan turis mancanegara tidak bisa ditunda lagi,” ujar Vroegop.

Habiskan dana Monumen-monumen bersejarah yang banyak dibangun oleh Pemerintah Kota, menurut Vroegop, hanya menghabiskan dana pemerintah saja. Sementara monumen-monumen itu tidak cukup kuat untuk menarik minat wisatawan. Berbeda halnya jika pemerintah membangun monumen-monumen itu, diikuti dengan pemeliharaan gedung-gedung tua. “Itu akan menjadi wisata sejarah yang terintegrasi, saling mengisi. Apalagi bila pemerintah menghidupkan kembali trem yang pernah ada. Tidak perlu panjang cukup tiga gerbong, dan tidak usah operasional. Jadikan trem itu sebagai restoran makanan Indonesia, maka daya tarik wisatanya akan luar biasa sekali,” katanya.

Monumen-monumen bersejarah yang banyak dibangun oleh Pemerintah Kota, menurut Vroegop, hanya menghabiskan dana pemerintah saja. Sementara monumen-monumen itu tidak cukup kuat untuk menarik minat wisatawan. Berbeda halnya jika pemerintah membangun monumen-monumen itu, diikuti dengan pemeliharaan gedung-gedung tua. “Itu akan menjadi wisata sejarah yang terintegrasi, saling mengisi. Apalagi bila pemerintah menghidupkan kembali trem yang pernah ada. Tidak perlu panjang cukup tiga gerbong, dan tidak usah operasional. Jadikan trem itu sebagai restoran makanan Indonesia, maka daya tarik wisatanya akan luar biasa sekali,” katanya.Dalam pemeliharaan gedung-gedung tua tersebut, sebenarnya pemerintah bisa mengajak swasta untuk melakukannya. Misalnya, meminta bank-bank untuk tidak membangun gedung baru yang tinggi, tetapi menempati gedung-gedung tua itu. “Semua diuntungkan, pihak swasta tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membangun gedung baru, sementara gedung-gedung tua jadi terawat,” ujarnya.

Pembangunan gedung-gedung baru di daerah kota tua, seperti Kembangjepun, Jembatan Merah, Jalan Semut, dan sekitarnya sangat mengganggu nilai artistik dari daerah tersebut. “Banyak turis yang kecewa karena Jembatan Merah yang sangat terkenal itu, tidak didukung oleh suasana kuno di sekitarnya. Banyak gedung baru di sekitar sana, sehingga merusak pemandangan,” kata Vroegop. (arn)

sumber : www.kompas.com

Add comment November 27th, 2006

Ciputra Waterpark : The Biggest Water Park in Indonesia

Ciputra Waterpark : The Biggest Water Park in Indonesia
A million freshness and cheerful are waiting in Ciputra Water Park. Visit the best water means in the country; readily bring you and family to the unforgettable adventure of Sinbad water world.
Cheerful, Exclaimed, Full of challenge!!!

テつテつテつテつテつテつテつ

Sirens River
This special river designed to make you and family become increasingly chummy and intimate. Enjoy its besotted family relax and fringing artificial river along 425 meter length. The Sirens River flow calm will bring you to explore exclaiming the 1001 adventure story nights in the middle of the water ripples of Sinbad world.

Chimera Pool
Free laugh of all family members! Also the child who partaken with his friends. Chimera Pool is special pool for the child to play at as his satisfied. It is equipped with small water fountain runs sudden shine rotation; this child pool will invite laugh and cheerful of your child.

Marina Lagoon
Let children to dissolve in their wide imagine. Marina Lagoon provides supporting facilities such as; a playground for children that equipped with game as of small slip and bridge for them gather and jest. Here they have opportunity to have socialization and look for new friend passed various imaginative adventures, which they have.

Sinbad Playground
Explore palace towers to play at Sinbad, which is continued one another by rickety bridge. This towers equipped with water cannon for ignorant their friend, and exclaimer again is giant water drum that readily to spill 5000 water gallons and bath you in cheerful.

Roc Tower
Slip Tower with 15 meter high is full of challenge. It is guaranteed to make all trying and always addictive. Accelerate high-speedily in tunnel and racing adrenalin. And “burr…!” Sudden you have been be under and wanted soon to repeat the remarkable exclaimed experience.

Syracuse Beach
Chase one another with wave with family will surely incise smiling and laugh. You will not be numeral when coming just small billow or ripples wave hereinafter. Enjoy current pool with 1800 m2 width and 1,2 meter depth. Besides also can relax with coastal situation accompanied by kindhearted and funny giant whale.

Opening Hours
Tuesday テ「竄ャ窶 Friday: 14.00 - 19.00
Saturday, Sunday and the Holiday: 08.00 - 20.00

Packet Available:
Outing Plus (Team Building) packages
Gathering packages
Birthday packages
Call Sales Reservation & Marketing Department
Phone: (031) 7441155テつテつ
Fax: (031) 7441166
Water Park Boulevard Citraraya The Singapore of Surabaya 60219

source : www.surabaya.eastjava.com

Add comment November 24th, 2006

Next Posts Previous Posts


Calendar

November 2006
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Posts by Month

Posts by Category