Archive for November 29th, 2006
Kurang Terawat, Candi Lor Hampir Ambruk
NGANJUK- Kondisi situs-situs cagar budaya semakin memprihatinkan saja. Khususnya yang berada di luar ruangan. Contohnya, Candi Lor. Akibat kurangnya perawatan, candi yang terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Loceret itu rusak. Material penyusunnya semakin rapuh dan tergerus yang yang dapat mengancam kekokohannya.
テつテつテつテつテつテつテつ
Di dinding bagian utara candi yang diperkirakan dibangun pada 937 itu semakin krowok (berlubang). Batu-bata penyusunnya semakin habis seperti bekas tergerus oleh benda lain.
Sementara itu, susunan batu-bata yang baik di bagian atas maupun luar sudah ditumbuhi lumut. Dinding yang semula berwarna merah kini menjadi hijau kusam akibat tertutup lumut. Kondisi itu tentu saja mengurangi keindahan candi. “Padahal candi itu sudah rutin dibersihakan oleh juru pemeliharanya dari Trowulan,” kata Setiadi, kasi Promosi Wisata Dinas Pariwisata dan Budaya Daerah (Disparbuda).
Setiadi mengakui kondisi candi yang berukuran alas 12,4 X 11,5 meter persegi itu memang semakin rusak. “Karena hanya terbuat dari batu-bata dan usianya juga sudah sangat tua maka bangunannya jadi krikit (tergerus, red),” katanya.
Perawatan candi yang menghadap ke barat itu cukup sulit. Itu disebabkan karena material bangunannya yang dari batu bata biasa. Tidak ada yang bisa dikerjakan untuk membuat candi lebih awet. “Beda dengan kalau candi terbuat dari batu kali,” terangnya.
Lebih memprihatinkan lagi, kebanyakan wisatawan yang mengunjungi candi dengan pohon kepuh besar di atasnya itu kurang menjaga kelestarian. Anak-anak sekolah yang banyak mampir ke candi seusai pulang sekolah seringkali menaiki batu-bata. Kondisi itu semakin membuat posisi batunya bergeser atau bahkan patah.
Padahal, candi tersebut memiliki nilai sejarah tinggi. Nama Anjuk Ladang sebagai asal mula nama Nganjuk muncul dari prasasti yang ditemukan di sekitar candi itu. “Makanya candi ini juga sering disebut dengan prasasti Anjuk Ladang,” kata Setiadi.
Dalam prasasti batu tertulis yang ditemukan di sekitar candi itu, Candi Lor dibangun oleh Pu Sindok pada 859 Saka atau 937 Masehi. Candi itu sebagai tugu kemenangan setelah Pu Sindok atau yang bergelar Sri Maharaja Pu Sindok Sri Isana Dharmotunggadewa itu berhasil merebut kemenangan dalam sebuah peperangan.
Selain Candi Lor, situs bersejarah lain yang kurang mendapat perhatian adalah situs peninggalan zaman Majapahit yang ditemukan di Dusun Gondang, Desa Tanjung, Kecamatan Kertosono beberapa waktu lalu. Setelah ditemukan pertama kali akhir 2005 lalu dan mulai dilakukan penelitian awal Juni lalu hingga sekarang situs itu masih mangkrak. “Tahun 2007 baru akan dilanjutkan penelitiannya, kami sudah membuat programnya dalam APBD tahun depan,” pungkas Setiadi. (jie)
sumber : www.jawapos.com
November 29th, 2006
SUMENEP-Puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke-737 ditandai dengan pagelaran prosesi pengangkatan Arya Wiraraja sebagai raja Sumenep dan kirab seni budaya, kemarin.
テつテつテつテつテつテつテつ
Kirab budaya berlangsung sangat meriah. Ribuan masyarakat memadati sepanjang Jalan Trunojoyo tempat dilangsungkan kirab tersebut.
Sedangkan pagelaran kolosal pengangkatan Arya Wiraraja dilakukan di depan Masjid Agung Sumenep. Sebuah panggung berangka besi yang didirikan di depan masjid menghadap ke timur menjadi titik awal perhelatan seni budaya terbesar di Madura ini.
Masyarakat pun dibikin takjub dengan kebesaran dan keagungan budaya masa silam yang ditampilkan dalam bentuk tari, panggung, hingga busana dengan warna cerah yang menampakkan ciri khas Madura.
“Prosesi ini menggambarkan penyambutan dan luapan kegembiraan rakyat sumenep menyambut pemimpin yang baru. Penyambutan itu berupa pernyataan setia para akuwu dari daerah Bukabu, Lobuk, dan Tanjung dan daerah lain yang membawa panji-panji Arya Wiraraja,” kata sutradara prosesi Arya Wiraraja, Edy Setiawan, kepada koran ini.
Prosesi pengangkatan Arya Wiraraja dikemas seperti halnya ketika masa kerajaan. Hampir semua seni dan budaya yang dimiliki daerah ini, mulai zaman kerajaan hingga sekarang ditampilkan secara bergiliran. Seperti tari panyongsong, tari codik somekar, tari panyoテ「竄ャ邃「on, parade hadrah, hingga musik tong-tong.
“Semua ini merupakan penggambaran kegembiraan rakyat Sumenep. Karena kita tahu, Wiraraja adalah tokoh penting di Kerajaan Singosari yang dikenal bijaksana dan pintar dalam politik,” terang Edy.
Yang ingin dicapai dari kegiatan ini, selain ingin melestarikan nilai-nilai budaya, tradisi, adat istiadat, busana, dan tari, menurut Edy, juga merupakan puncak kebangkitan seniman-seniman Sumenep. “Kita tahu, kirab seni dan budaya ini diikuti 1.100 seniman dan budayawan kabupaten ini. Dari cahe, sandur, saronen, duhu, dan can-macanan. Di saat inilah mereka bisa menunjukkan eksistensinya,” ujarnya.
Budayawan Madura ini berharap, ke depan, nilai- nilai tradisi daerah tidak punah. Terutama bagi generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan akbar ini. “Minimal mereka tahu budaya dan tradisi daerah Sumenep. Selama ini seniman haus even dan kesempatan untuk tampil. Di hari jadi ini, mereka ternyata masih bisa berkreasi,” ujarnya dengan bangga.
Setelah acara prosesi pengangkatan Arya Wiraraja, kemudian digelar seni dan budaya yang dilepas oleh Wakil Bupati Sumenep Moh. Dahlan. Kirab menampilkan semua karya seni dan budaya Kabupaten Sumenep dengan berkeliling kota.
Namun, prosesi dan kirab yang berlangsung mulai pukul 13.30 ini dan berakhir sekitar 17.30, tidak dihadiri Bupati Moh. Ramdlan Siradj. Informasinya, bupati tidak hadir karena sakit.
Tampak di kursi undangan VIP, wakil bupati, Ketua DPRD Sumenep Abuya Busyro Karim, muspikab, dan seluruh pejabat pemkab
Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumenep Ir Edy Mustika mengatakan, gelaran ini selain untuk memeriahkan hari jadi Kabupaten Sumenep, juga sebagai ajang promosi pariwisata. “Kita berharap, ke depan, wisata daerah ini akan lebih baik,” ujarnya.
Sementara Wakil Bupati Moh. Dahlan dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh jajaran pemkab dan masyarakat untuk menjadikan Sumenep lebih baik. “Marilah kita jadikan hari jadi ini sebagai motivasi bagi kita bersama untuk bekerja lebih baik di masa yang akan datang,” harapnya. (zr)
sumber : www.jawapos.com
November 29th, 2006
Buat Panggung Mirip Pendapa Agung di Tengah Kota
Pada 30 Oktober 2006 lalu, Sumenep telah berumur 737 tahun. Setiap tahun hari jadi dirayakan dengan meriah. Bagaimana dengan tahun ini?
テつテつテつテつテつテつテつ
A. ZAHRIR RIDLO, Sumenep
—
SAMBIL menyelam minum air. Selain merayakan hari jadinya, Pemkab Sumenep melalui dinas pariwisata dan kebudayaan ternyata memanfaatkan perayaan ini sebagai ajang promosi wisata, seni, dan budaya. Sehingga, tak heran jika perayaan kali ini bakal berlangsung meriah.
Berbagai kegiatan digelar untuk menyambut ultah kabupaten ini. Mulai dari pameran pembangunan sampai pagelaran pesta seni dan budaya yang berlangsung selama beberapa hari mulai dari tanggal 23 November sampai 23 Desember 2006.
Puncak dari beberapa kegiatan tersebut adalah kirab seni budaya dan prosesi Arya Wiraraja yang akan diadakan pada tanggal 27 November 2006 hari ini. Kirab akan menyajikan pementasan kolosal prosesi penobatan Arya Wiraraja sebagai raja Sumenep yang pertama.
Dalam pementasan itu, panitia melibatkan sedikitnya 350 seniman. Mereka akan berperan sebagai Arya Wiraraja, permaisuri, dan tokoh pembesar keraton lainnya. Prosesi penobatan Arya Wiraraja itu akan digelar di depan Masjid Agung. Panitia telah membangun panggung besar yang menyerupai Pendapa Agung.
Prosesi penobatan Arya Wiraraja jarang sekali digelar pemkab. Sebelumnnya pernah sekitar 11 tahun lalu. Tapi, prosesinya dilakukan di dalam Pendapa Agung. “Tahun ini akan kita adakan di depan Masjid Agung. Agar masyarakat semua dapat menikmati dan menonton. Kalau di keraton kan hanya orang terbatas saja yang bisa menonton,” kata Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Sumenep Ir Edy Mustika kepada koran ini.
Sebelum prosesi digelar, panitia menggelar kirab seni budaya. Kirab berupa parade kereta kencana, putri keraton, busana keraton, pasukan keraton, pasukan berkuda, dan pusaka keraton. Kirab dan prosesi itu dilakukan untuk menggambarkan kepada masyarakat tentang keunikan dan keagungan budaya Keraton Sumenep.
Selain akan menampilkan parade kerata kencana, dalam kegiatan itu akan dipertontonkan tari khas keraton, parade dokar hias, parade musik tong-tong, parade seni budaya, dan musik Tradisional.
Kirab tersebut akan menampilkan seni dan budaya tahun ketika Arya Wiraraja memerintah. Kemudian seni budaya masa Islam masuk ke kabupaten ini dan penampilan seni dan budaya era sekarang. Jika dilihat banyaknya kegiatan, perayaan hari jadi kali ini bisa dikatakan sebagai pesta seni budaya terbesar di Jawa Timur.
Untuk menyukseskan acara ini, panitia melibatkan ribuan seniman dan pelajar. “Kegiatan seperti ini sangat jarang diadakan. Sebab, prosesi dan kirab ini membutuhkan biaya yang cukup besar,” kata Edy.
Panitia sengaja menskenario perayaan hari tahun ini dengan semeriah mungkin. Alasannya, berbagai kegiatan tersebut berdampak positif bagi peningkatan wisata. “Secara tidak langsung, kita mempromosikan aset daerah, baik itu wisata, budaya, dan seni,” ujarnya.
Untuk itu, dalam kegiatan tersebut, pihaknya tidak hanya mengundang pejabat maupun tokoh masyarakat lokal. Sejumlah investor dan pejabat di luar kabupaten juga diundang untuk melihat dari dekat kekayaan budaya dan seni yang dimiliki Kabupaten Sumenep.(*)
sumber : www.jawapos.com
November 29th, 2006
SAMPANG-Maraknya penambangan pasir liar, membuat puluhan meter tanggul penangkis ombak atau plengsengan di sepanjang Pantai Camplong ambruk. Bahkan, penambangan pasir ilegal tersebut juga mengancam kelestarian reboisasi pohon bakau serta ekosistem laut yang ada di Desa Sejati, Batu Karang, Dharma Camplong, Tambaテ「竄ャ邃「an, Banjar Talelah, dan Desa Taddan Kecamatan Camplong.
テつテつテつテつテつテつテつ
Seperti yang terlihat di plengsengan Desa Dharma Camplong, kemarin. Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah, muspika Camplong bersama Satpol PP Pemkab Sampang terpaksa melakukan sweeping terhadap para penambang dan pengepul pasir di enam desa se Kecamatan Camplong.
Sebelumnya, mereka minta pengusaha dan penambang pasir meneken surat pernyataan tidak melakukan kegiatan penambangan pasir liar lagi.
Pemerhati lingkungan Drs Hernandi Kusumahadi memaparkan, berdasarkan hasil evaluasi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (SDM) Pemprov Jatim, penambangan pasir liar yang dilakukan penduduk di sepanjang Pantai Camplong tersebut telah membuat puluhan meter plengsengan di sekitar lokasi rusak parah akibat abrasi.
“Karena itu, agar kerusakan tidak semakin parah dan menjaga kelestarian reboisasi pohon bakau serta ekosistem laut, aktifitas penambangan pasir liar tersebut harus segera dihentikan. Sebaliknya, para penambang pasir dicarikan solusi sebagai pengganti mata pencahariannya,” ujarnya.
Dijelaskan, evaluasi potensi cadangan pasir laut Dinas Energi dan (SDM) Pemprov Jatim juga menegaskan, ada lahan pertambangan pasir yang relatif lebih aman dibanding pasir di sepanjang Pantai Camplong. Kawasan pertambangan pasir yang dimaksud adalah pertambangan pasir laut di Desa Gulbung dan Apaテ「竄ャ邃「an Kecamatan Pangarengan.
“Sebab, secara kuantitas maupun kualitas, pasir disana sangat memenuhi syarat sebagai bahan bangunan khususnya untuk bangunan rumah. Karena itu, pasir di daerah tersebut diperbolehkan untuk ditambang dengan cara tradisional oleh Pemprov Jatim,” ungkapnya. (fiq)
sumber : www.jawapos.com
November 29th, 2006
Potensi Alam Bagus, Teknologi Kurang Mendukung
POTENSI alam berupa laut, menjadi berkah bagi masyarakat Kecamatan Klampis, Bangkalan, yang berada di pesisir. Setidaknya, selain ikan, masyarakat nelayan juga bikin usaha produk olahan dari hasil laut.
テつテつテつテつテつテつテつ
Setidaknya, 11 desa yang berada persis di bibir pantai Kecamatan Klampis saat ini menumpukan hidupnya dari melaut alias sebagai nelayan. Sisanya berada di kawasan pegunungan di sebelah selatan. “11 desa berada di pesisir. 11 desa lainnnya berada di kawasan pegunungan atau daratan,” tutur Camat Klampis Drs Bambang Setiawan.
Walaupun memiliki hasil laut yang cukup besar, namun belum sepenuhnya berhasil diolah secara optimal oleh masyarakat nelayan. Kalaupun ada, hanya beberapa produk olahan yang sudah memiliki nama cukup bagus di pasaran. Seperti terasi udang dan terasi cakalan (tongkol), serta teri yang sudah diekspor.
Belum optimalnya produk olahan hasil laut itu, salah satunya disebabkan minimnya pengembangan dengan teknologi, maupun variasi dalam memproduksi. Selama ini yag digunakan cara-cara produksi yang tradisional.
Berbeda dengan hasil laut, hasil bumi atau pertanian masyarakat Klampis sangat minim, termasuk padi. Penyebab utamanya adalah kurangnya air, kendati kawasannya berada di dekat pantai dan di pegunungan. Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah daerah melalui instansi terkait membuat embung air untuk menampung air hujan, cek dam, dan sebagainya. Untuk penanganan hasil laut pun demikian, dengan pemberian bantuan peralatan dan pembinaan.
Hampir separuh luas Kecamatan Klampis desanya berada di pesisir dengan total kurang lebih 660 perahu nelayan yang ada dari Desa Toテ「竄ャ邃「ol, Muara, Tolbuk, Buluk Agung, Klampis Barat, Klampis Timur, dan Tenggu Dajah.
Sisanya di daratan dan pegunungan. Susahnya, untuk kawasan pegunungan ini memiliki keterbatasan-keterbatasan, terutama soal air. Padahal, keberadaan air sangat vital untuk pertanian. Potensi pertanian yang adalah besarnya cabe, jagung, kacang, dan mangga.
Kecamatan Klampis berbatasan dengan Kecamata Arosbaya di sebelah barat dan Tanjung Bumi di sebelah timur. Di batas selatan dengan Kecamatan Geger sebelah selatan dan sebelah utara berbatasan dengan laut.
Penduduk Klampis kurang lebih 52 ribu orang dengan 13 ribu KK. Hampir separuhnya, yakni sekitar 6 ribu KK masuk kategori miskin.
sumber : www.jawapos.com
November 29th, 2006