Melihat Persiapan Jelang Grebeg Singhasari Memperingati HUT Kabupaten Malang
November 28th, 2006
Cari Simbol Malang, Buat Topeng Bapang
Acara Grebeg Singhasari digelar tidak hanya mengenang Kejayaan Singhasari, tapi juga ada keinginan menjadikan Kabupaten Malang sebagai Kota Topeng Bapang di HUT ke-1246 Kabupaten Malang. Seperti apa bentuknya?
テつテつテつテつテつテつテつ
Eko Agus Prasetyo, Malang.
Pagi kemarin suasana luar sekretariat Grebeg Singhasari (GS) Jalan Silikat 53 Malang disibukkan dengan lima seniman yang sedang membuat topeng. Topeng ini sangat unik karena mempunyai ciri khas. Itu dibuktikan dengan hidungnya yang sangat mancung serta warnanya yang merah menyala. “Topeng ini dinamakan dengan nama Topeng Bapang Mas,” ujar koordinator pembuatan miniatur topeng, Abu Hanifah di sela-sela mengecat topeng Bapang, kemarin.
Keunikan topeng ini menjadi sangat terkesan karena memiliki ukuran sangat besar seperti topeng raksasa. Detailnya tinggi 3,5 meter dan lebar 2,5 meter. Topeng ini dibuat dengan bahan kertas semen, triplek, dan kayu meranti serta menggunakan perpaduan cat warna merah, biru, dan kuning. “Namun bagi masyarakat kabupaten yang mengerti topeng ini, karena topeng ini adalah hidungnya yang mancung. Panjangnya saja mencapai 1,5 meter. Topeng ini dulu sangat terkenal sebagai dipakai untuk tarian yang ditampilkan tunggal,” terang Abu.
Topeng ini sengaja dibuat panitia Grebeg Singhasari untuk dijadikan maskot Grebeg Singhasari. Sebab topeng ini mudah dikenali masyarakat kabupaten dengan hidungnya yang mancung dan warnanya yang merah menyala.
Dalam pembuatan replika Topeng Bapang ini tidak hanya sekadar asal-asalan. Pasalnya topeng ini dibuat setelah melakukan kajian dengan unsur perajin topeng Mbah Karimun, Dwi Cahyono (sejarawan sekaligus arkeolog), Sugiyanto (Direktur MTC), Kaisar (perupa), Abu Hanifah, Nurul Taufik, Ariya, ketiganya insan pariwisata.
Maskot ini nantinya akan diarak dengan menggunakan trailer mulai awal acara Grebeg Singhasari digelar, dari Jl Kertanegara hingga Pendapa Kabupaten Malang. Topeng ini dipilih, karena mempunyai karakter yang berbeda dibanding topeng malangan yang lainnya. Selain bentuknya yang sangat besar, juga memiliki karakter yang berbeda yakni hidungnya yang mancung dan warnanya yang merah menyala. “Topeng ini sekaligus untuk mengenang kemasyuran Singhasari dalam lintas masa, sebab pada saat itu Topeng Bapang ini juga sangat terkenal,” ucap pengurus teras Masyarakat Peduli Wisata (MPW) Dwi Cahyono.
Dwi menjelaskan, topeng ini sengaja dijadikan maskot dengan harapan bisa menjadi ikon Malang. Seperti di Kalimantan ada Topeng Hudok, Betawi ada ondel-ondel. “Kami berharap maskot ini nantinya bisa dijadikan sebagai ikon kabupaten. Artinya topeng ini menjadi simbol seni dan budaya kabupaten,” ucapnya.
Selain menjadikan ikon, pembuatan replika Topeng Bapang ini sekaligus merupakan penghargaan bagi pengrajin topeng di kabupaten. Salah satunya Mbah Karimun, sebab dari tangan-tangan mereka ini kerajinan Topeng ini masih ada di Kabupaten Malang. “Meskipun penghargaan ini sangat sederhana, kami sangat yakin sangat bermakna bagi kalangan pengrajin,” ucap Direktur MTC Sugiyanto. (*)
sumber : www.jawapos.com
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed