Archive for November 28th, 2006

Pengelolaan Belum Optimal

Potesi alam akan banyak berguna jika dikelola dengan baik dan optimal. Begitu juga dengan potesni alam di Kecamatan Klampis. Berikut petikan wawancara wartawan Radar Madura Rusli Djunaidi dengan Camat Klampis Bambang Setiawan.


テつテつテつテつテつテつテつ

Kecamatan Klampis memiliki potensi laut yang bagus. Bagaimana kondisinya?
SEJAUH ini memang bagus. Namun diakui pengalolaannya masih kurang optimal, terutama dalam mengolah hasil laut dijadikan hasil proiduksi yang lebih bervariatif dan memiliki daya saing.

Lalu, apa yang ng dilakukan masyarakat?
Sudah ada terobosan-terobosan, misalnya mengolah hail laut menjadi krupuk udang. Usaha ini memang sedang berjalan. Selain itu, peran masyarakat di luar nelayan, seperti Karang Taruna Indonesia Muda dari Desa Klampis Timur sangat membantu pengolahan hasil laut ini. PKK Klampis juga sangat aktif, sehingga betul-betul mampu meningkatkan gairah masyarakat untuk berusaha, setidaknya dalam pengembangan produk dan pemasaran dengan kolompok-kelompok kecilnya, yakni dasa wisma.

Sejauh ini, apa keluhan dari para nelayan?
Mereka mengeluh soal dangkalnya air laut saat ini. Sehingga sering kapal mereka menabrak karang.

Lalu, bagaimana peran pemerintah dalam meningkatkan ekonomi masyarakat, baik di sektor nelayan maupun pertanian?
Sejauh ini pemkab melalui instansi terkait cukup inten memperhatikan masyarakat di sini. Seperti dengan dibangunnya embung air dan cek dam. Lalu, pengeboran beberapa sumur di kawasan pegunungan untuk mengatasi kekurangan air di lahan pertanian. Terakhir, pemberian bantuan kepada masyarakat nelayan dan pembinaan para petani. Ini sangat perlu mengingat potensi alam baik dari laut maupun pertaniannya disini cukup bagus dan belum optimal. (*)

sumber : www.jawapos.com

Add comment November 28th, 2006

Si Mungil yang Menggemaskan

MALANG - Beragam liontin yang imut dengan style gambar binatang nan mungil menjadi pilihan untuk mempercantik penampilan penggemar berlian dari kalangan ABG. Keluaran terbaru dari seri animal moiselle series yang didesain dari emas putih bertahtakan berlian itu bisa ditemui di Pameran Perhiasan Tunggal Frank & Co di Hotel Tugu pada 24-27 November 2006.


テつテつテつテつテつテつテつ

Koleksi tersebut melengkapi seri cute animal collection sebelumnya dengan seri satwa langka yang dilindungi WWF. Masing-masing liontin moiselle series ini mengusung karakter unik dengan ekspresi menggemaskan. Di setiap liontin ada butiran berlian oreal f color & ws clarity berkualitas tinggi. “Model baru ini bisa disimpan untuk memperkaya koleksi cute animal lainnya. Harganya terjangkau, mulai Rp 1,1 juta,” jelas Budiyanto, exhibition manager Frank & co Jewellery.

Tak hanya moiselle series saja yang terbaru dari Frank & Co, tetapi koleksi bambini series untuk bayi putri juga tersedia. Menariknya, koleksi bambini series ini menghadirkan 12 shio dengan didesain dengan model yang lucu-lucu. Ada juga koleksi satu set gelang dan liontin dari bambini series ini.

“Koleksi lainnya juga tak kalah menarik. Sebut saja, bross menarik untuk kerudung dengan model daun maupun bunga yang ditawarkan mulai Rp 4 jutaan. Ada juga koleksi kalung dan gelang mutiara, koleksi flurie yang ekonomis dan masih banyak lagi,” jelas Budi.

Khusus tipe flurie, lanjut dia, responsnya sangat antusias. Sebab, tipe ini mengusung berlian kecil-kecil yang berciri menjadi satu kesatuan mirip satu karat berlian utuh. Kilauan cahayanya jauh lebih keluar dan tampak glamor seperti berlian utuh yang mahal,” kata dia.

“Sejak hadir tipe flurie ini, langsung banyak diminati masyarakat Malang. Itu karena harganya ekonomis jauh lebih terjangkau oleh kalangan masyarakat penggemar berlian. Sehingga, tampilan berliannya tampak besar,” ujar Budi.

Beragam model berlian dari tipe flurie ini ditampilkan dalam pameran. Seperti dalam bentuk kalung, cincin, liontin, anting, maupun gelang. Susunan berlian pada aneka perhiasan itu terlihat tampak besar, padahal terdiri dari tatanan berlian kecil yang disusun rapi.

“Produk perhiasan khas Indonesia ini mengandalkan teknik pemotongan rapi, tingkat kejernihan dan pancaran warna yang berkelas. Khusus colour kami masuk colour F, clarity tingkatan VVS (tingkat kejernihan nomor dua) dan sebagainya,” terang dia.

Budi menjelaskan pameran ini konsumen diberikan kemudahan untuk memiliki perhiasan dengan Festival Eazy Pay 0% kerja bareng dengan Citibank dengan cicilan 3, 6, dan 12 bulan. (lia)

sumber : www.jawapos.com

Add comment November 28th, 2006

Tol Porong Lumpuh, Pengelola Wisata Waswas

BATU - Lumpuhnya tol Porong-Gempol dan kemacetan di ruas Jl Porong akibat lumpur Lapindo meresahkan pelaku bisnis di Kota Batu. Mereka khawatir kunjungan wisata ke Kota Batu akan semakin menurun.


テつテつテつテつテつテつテつ

Salah satu yang waswas adalah Jatim. Pasalnya, 40 persen pengunjung ke Jatim Park dari wilayah pantura, yang datang ke Batu melalui tol Porong. Sehingga, kalau jalur dari Surabaya menuju Malang macet, otomatis Jatim Park akan kehilangan 40 persen pengunjung tersebut. “Ini bisa berdampak serius terhadap pengelolaan Jatim Park,” kata Ismanto, humas Jatim Park kemarin.

Namun, kata dia, untungnya pengelola Jatim Park di Batu masih memiliki andalan lokasi wisata lain. Yaitu, wisata bahari di Lamongan. Dengan demikian, yang tidak bisa berkunjung ke Jatim Park bisa ke Lamongan. Sehingga, ini masih bisa membantu Jatim Park di Batu. Kalau tidak ada alternatif di Lamongan tersebut, maka bisa saja Jatim Park Batu semakin surut pengunjungnya.

Untuk itu, para pelaku bisnis di Batu, termasuk Jatim Park sangat berharap kepada pemerintah agar segera menyelasaikan masalah lumpur Lapindo tersebut. Terutama, untuk kemudahan akses dari Surabaya ke Malang. Kalau kondisi tetap semacam ini dan justru lebih parah, maka bukan tidak mungkin para pelaku bisnis akan menanggung banyak kerugian. Yang mana, dampaknya bisa merumahkan para karyawan.

Sementara itu, meski jumlah pengunjung dari pantura menurun di hari Minggu, jumlah pengunjung di Jatim Park masih tinggi. Namun, banyaknya jumlah pengunjung ini belum bisa dipastikan sampai kapan.(lid)

sumber : www.jawapos.com

Add comment November 28th, 2006

Melihat Persiapan Jelang Grebeg Singhasari Memperingati HUT Kabupaten Malang

Cari Simbol Malang, Buat Topeng Bapang
Acara Grebeg Singhasari digelar tidak hanya mengenang Kejayaan Singhasari, tapi juga ada keinginan menjadikan Kabupaten Malang sebagai Kota Topeng Bapang di HUT ke-1246 Kabupaten Malang. Seperti apa bentuknya?


テつテつテつテつテつテつテつ
Eko Agus Prasetyo, Malang.

Pagi kemarin suasana luar sekretariat Grebeg Singhasari (GS) Jalan Silikat 53 Malang disibukkan dengan lima seniman yang sedang membuat topeng. Topeng ini sangat unik karena mempunyai ciri khas. Itu dibuktikan dengan hidungnya yang sangat mancung serta warnanya yang merah menyala. “Topeng ini dinamakan dengan nama Topeng Bapang Mas,” ujar koordinator pembuatan miniatur topeng, Abu Hanifah di sela-sela mengecat topeng Bapang, kemarin.

Keunikan topeng ini menjadi sangat terkesan karena memiliki ukuran sangat besar seperti topeng raksasa. Detailnya tinggi 3,5 meter dan lebar 2,5 meter. Topeng ini dibuat dengan bahan kertas semen, triplek, dan kayu meranti serta menggunakan perpaduan cat warna merah, biru, dan kuning. “Namun bagi masyarakat kabupaten yang mengerti topeng ini, karena topeng ini adalah hidungnya yang mancung. Panjangnya saja mencapai 1,5 meter. Topeng ini dulu sangat terkenal sebagai dipakai untuk tarian yang ditampilkan tunggal,” terang Abu.

Topeng ini sengaja dibuat panitia Grebeg Singhasari untuk dijadikan maskot Grebeg Singhasari. Sebab topeng ini mudah dikenali masyarakat kabupaten dengan hidungnya yang mancung dan warnanya yang merah menyala.

Dalam pembuatan replika Topeng Bapang ini tidak hanya sekadar asal-asalan. Pasalnya topeng ini dibuat setelah melakukan kajian dengan unsur perajin topeng Mbah Karimun, Dwi Cahyono (sejarawan sekaligus arkeolog), Sugiyanto (Direktur MTC), Kaisar (perupa), Abu Hanifah, Nurul Taufik, Ariya, ketiganya insan pariwisata.

Maskot ini nantinya akan diarak dengan menggunakan trailer mulai awal acara Grebeg Singhasari digelar, dari Jl Kertanegara hingga Pendapa Kabupaten Malang. Topeng ini dipilih, karena mempunyai karakter yang berbeda dibanding topeng malangan yang lainnya. Selain bentuknya yang sangat besar, juga memiliki karakter yang berbeda yakni hidungnya yang mancung dan warnanya yang merah menyala. “Topeng ini sekaligus untuk mengenang kemasyuran Singhasari dalam lintas masa, sebab pada saat itu Topeng Bapang ini juga sangat terkenal,” ucap pengurus teras Masyarakat Peduli Wisata (MPW) Dwi Cahyono.

Dwi menjelaskan, topeng ini sengaja dijadikan maskot dengan harapan bisa menjadi ikon Malang. Seperti di Kalimantan ada Topeng Hudok, Betawi ada ondel-ondel. “Kami berharap maskot ini nantinya bisa dijadikan sebagai ikon kabupaten. Artinya topeng ini menjadi simbol seni dan budaya kabupaten,” ucapnya.

Selain menjadikan ikon, pembuatan replika Topeng Bapang ini sekaligus merupakan penghargaan bagi pengrajin topeng di kabupaten. Salah satunya Mbah Karimun, sebab dari tangan-tangan mereka ini kerajinan Topeng ini masih ada di Kabupaten Malang. “Meskipun penghargaan ini sangat sederhana, kami sangat yakin sangat bermakna bagi kalangan pengrajin,” ucap Direktur MTC Sugiyanto. (*)

sumber : www.jawapos.com

Add comment November 28th, 2006

Gali Kolam Temukan Pemujaan

Satu unit bangunan yang diyakini sebagai situs bersejarah ditemukan di Dusun Besole, Desa Darungan, Kecamatan Kademangan. Bangunan berbentuk pintu gerbang tempat pemujaan terletak di ke dalaman dua meter dari permukaan tanah.

テつテつテつテつテつテつテつ

Di pintu masuk tangga terdapat dua patung naga. Tekstur bangunan berukuran 2,5 x 6 meter itu sebagian terbuat dari batu bata besar dan batu utuh. Batu bata besar dalam istilah arkeologi disebut masive.

Dugaan jika bangunan itu adalah tempat pemujaan setelah sembilan petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Jawa Timur meneliti bentuk bangunan tersebut. Penelitian dilakukan untuk mengetahui umur dan jenis bangunan yang sempat menggemparkan warga Desa Darungan itu.

Sebenarnya, situs itu ditemukan pada 15 Juni 2005 lalu. Namun yang terlihat hanya moncong naga. Perangkat desa melaporkan penemuan situs itu ke BP3 beberapa waktu lalu. Pada 23 November dilakukan penggalian lebih dalam.

Sayuthi, pria yang kali pertama menemukan bangunan. Pria berusia 65 tahun itu sebenarnya berencana membuat kolam baru di samping rumahnya. Lantaran kolam, tanah harus dikeruk minimal 3 meter dari permukaan tanah. Belum sepenuhnya menggali, cangkulnya menyentuh batu bata besar. Batu besar itu ternyata kepala naga yang menghadap ke barat. “Saking kerasnya, cangkul cuwil. Terus saya gali lagi, ternyata ada tangga. Akhirnya sayalaporkan ke orang-orang. Baru pada 23 November petugas dari Mojokerto datang meneliti,” kata Sayuthi.

Sementara itu, Arkeolog BP3 Trowulan Kuswanto mengindikasikan bangunan itu peninggalan jaman kerajaan Majapahit abad 17 silam. Dari bentuknya, memang menyerupai pintu gerbang menuju tempat pemujaan. “Ciri-cirinya ada Ukel atau kepala naga di samping kiri kanan bangunan. Kalau pintu gerbang rumah atau istana, pasti ada Dwarapala atau patung raksasa. Situs Besole ini tidak ada Dwarapala,” kata Kuswanto.

Kini pihaknya terus melakukan penggalian di sekitar lokasi penemuan bangunan. Lokasi penemuan masih diberi pembatas dan dijaga selama 24 jam penuh oleh Sayuthi dibantu warga sekitar. Ada dugaan, selain pintu gerbang juga terdapat candi atau sejenisnya. Pasalnya, di atas bangunan ditemukan batu-batuan besar yang biasa digunakan candi-candi pada umumnya. “Banyak batu-batuan besarnya,” pungkas Kuswanto lagi. (ziz)

sumber : www.jawapos.com

Add comment November 28th, 2006


Calendar

November 2006
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Posts by Month

Posts by Category