Archive for November 27th, 2006
Diakui atau tidak, seringkali konflik etnis antara Jawa (dan Madura) dengan etnis Tionghoa terjadi karena ketidak saling pengertian akan kultur budaya masing-masing
Hari kamis, tanggal 9 Nopember lalu Kantor Konsulat Jenderal (Konjen) Tiongkok diresmikan dan sekaligus pada saat itu pula dioperasionalkan. Dan boleh jadi peresmian kantor di Jalan Mayjen Sungkono 105 itu menjadi sejarah baru bagi masyarakat Jawa Timur pada umumnya, dan Surabaya pada khususnya untuk lebih dekat dengan Tiongkok secara politik. Yaitu terjalinnya hubungan formal antar dua wilayah tersebut yang sangat mungkin dapat memberikan kemudahan akses bagi kedua belah pihak, khususnya dalam hal ekonomi.
テつテつテつテつテつテつテつ
Sedangkan dalam aspek budaya, sesungguhnya antara Tiongkok dengan Surabaya (Jawa) telah terjalin sejak masa kerajaan. Bangsa Tiongkok yang merupakan bangsa yang gemar melakukan perniagaan ke manca negara telah lama menginjakkan dan bermukim di wilayah-wilayah pesisir, termasuk Surabaya. Apalagi dalam sejarah perkembangan Islam di Surabaya, keberadaan masjid yang dibangun oleh Laksana Muhammad Cheng Hoo memiliki arti sejarah tersendiri bagi kehadiran bangsa Tiongkok di Surabaya.
Keberadaan Konjen Tiongkok di Surabaya ini memang sangat strategis. Sebab Surabaya merupakan salah satu kota transit dan juga penghubung-di Indonesia -untuk dapat bepergian ke luar negeri. Termasuk dalam hal ini bepergian ke Tiongkok. Juga keberadaan masyarakat Tionghoa di Surabaya dan sekitarnya relatif sangat besar dan menguasai roda perekonomian daerah.
Harapan ini tidaklah berlebihan karena di Jawa Timur dan utamanya Surabaya, masyarakat Tionghoa boleh dibilang tidak sedikit jumlahnya. Lebih dari itu, masyarakat Tionghoa bahkan telah menjadi bagian dari masyarakat Jawa Timur itu sendiri. Sehingga penyebaran masyarakat Tionghoa pun relatif merata, mulai dari desa sampai ke kota. Apalagi kepiawaian masyarakat Tionghoa dalam dunia usaha, justru semakin mengakrabkan komunikasi mereka dengan masyarakat lokal (pribumi).
Dan dikatakan oleh Duta Besar (Dubes) Tiongkok untuk Indonesia, Lan Li Jun, harapan setelah adanya kantor Konsulat Jenderal Tiongkok di Surabaya tersebut ialah semakin kuatnya hubungan di segala bidang kedua negara. Baik ekonomi, budaya maupun sosial.
Harapan tersebut sesungguhnya tidak berlebihan. Meskipun masyarakat Tionghoa telah berada di pulau Jawa sejak jaman kerajaan, tetapi harmonisasi hubungan antara keduanya-antara masyarakat Jawa dan Tionghoa-kerap mengalami pasang surut. Apalagi kalau berkaitan dengan persoalan-persoalan politik di masa Orde Baru yang sangat diskriminaif, dan hingga sampai kini praktek-praktek diskriminatif itu masih kerap kita dengar.
Perlakuan Diskriminatif
Dimulai dari masa kolonialisme Belanda, adanya perlakuan yang diskriminatif antara etnis Tionghoa dengan etnis pribumi, lalu berjalan terus dimasa kekuasaan orde lama yang berakhir dengan peristiwa G 30 S/PKI. Kaum Tionghoa pun sempat dimusuhi oleh ’sebagian’ masyakat lokal karena dianggap lebi pro ke PKI. Sehingga pada masa kekuasaan Orba, etnis Tionghoa dikebiri aspirasi politiknya dan dijadikan ’sapi perahan’ oleh para penguasa Orba karena kelihaiannya dalam berbisnis.
Dan puncaknya adalah pada awal era reformasi, kaum Tionghoa yang dituding sebagai penyebab terpuruknya perekonomian Indonesia-yang digeneralisir dari beberapa koruptor dari kalangan Tionghoa yang lari ke Singapura–menjadi korban kekerasan fisik dan perkosaan yang sangat biadab.
Dengan dibukanya Konjen Tiongkok tersebut, memang telah memberikan berbagai keuntungan dan kemudahan. Dengan adanya Konjen Tiongkok di Surabaya, masyarakat Jawa Timur lebih mudah membangun akses ke Tiongkok karena persoalan administrasi akan bisa teratasi dengan lebih baik. Termasuk dalam pembuatan visa. Utamanya masyarakat Tionghoa yang sudah menjadi warga negara Indonesia, tidak lagi mengalami kesulitan untuk dapat ‘mudik’ mengunjungi tanah leluhur atau kampung halaman nenek moyang.
Dari sudut ekonomi, masyarakat Jawa Timur semakin memiliki alternatif untuk mengembangkan bisnis. Roda perekonomian di Jawa Timur-yang sebagian juga digerakkan oleh masyarakat dari etnis Tionghoa-merupakan kesempatan emas bagi Jawa Timur untuk meningkatkan investasi dan devisa daerah.
Dari sisi pariwisata pun Jawa Timur memiliki peluang emas untuk memasarkan potensi-potensi wisata di Jawa Timur yang menarik ke masyarakat Tiongkok. Termasuk juga bagi masyarakat Jawa Timur untuk melakukan kunjungan wisata ke negeri Tiongkok. Selama ini, orientasi pariwisata masyarakat untuk kel luar negeri cenderung lebih melirik Barat, atau paling tidak Singapura dan Thailand sebagai daerah sasaran wisata.
Namun demikian, keberadaan Konjen Tiongkok ini tidaklah tepat kalau hanya dimanfaatkan sekedar untuk kepentingan ekonomi semata. Lebih dari itu, keberadaan Konjen Tiongkok semestinya dapat semakin mendekatkan masyarakat Jawa Timur dan Tiongkok dari sisi sosial dan budaya. Dan sepertinya hal ini lebih penting karena akan lebih dapat melanggengkan hubungan Surabaya (dan Jawa Timur)-Tiongkok secara kultural.
Diakui atau tidak, seringkali konflik etnis antara Jawa (dan Madura) dengan etnis Tionghoa terjadi karena ketidak saling pengertian akan kultur budaya masing-masing. Sehingga, utamanya masyarakat lokal sering meledek atau mentertawakan apa saja yang telah menjadi kebiasaan atau budaya masyarakat Tionghoa dan meposisikan sebagai bahan lelucon. Bahkan tidak jarang, masyarakat Tionghoa dipandang sebagai masyarakat kelas dua oleh masyarakat lokal (pribumi), tetapi oleh sebagian kaum birokrat diposisikan sebagai masyarakat kelas satu karena lebih mampu dimanfaatkan sebagai pundi-pundi uang.
Padahal, dari sekian penyebaran etnis Tionghoa diseluruh dunia justru keberadaannya di Indonesia yang sangat menarik. Pada umumnya, masyarakat Tionghoa akan lebih mengikuti agama (kepercayaan) mayoritas di mana mereka tinggal. Tetapi khusus di Indonesia, justru hal tersebut tidak terjadi. Meski Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia, tidak serta merta mereka berbondong-bondong memeluk Islam. Bahkan sebaliknya, Islam merupakan agama minoritas dikalangan masyarakat Tionghoa.
Dari hal diatas, memang ada dua kemungkinan. Pertama, agama Islam dipandang kurang cukup populer untuk mendukung budaya niaga di kalangan masyarakat Tionghoa. Atau kedua, masuknya masyarakat etnis Tionghoa untuk berbaur dan menjadi masyarakat lokal tidak mengalami tekanan politik. Hal ini berbeda dengan kehadiran mereka di Amerika Serikat, di Thailand, Singapura dan sebagainya. Sepertinya, kemungkinan yang kedua lebih dapat diterima.
Mengakrabkan Budaya
Karena itu, mengakrabkan budaya kedua bangsa atau etnis ini selayaknya juga mendapatkan prioritas yang utama. Bahkan kalau perlu adanya hubungan kultural yang baik antara Surabaya dan Tionghoa sehingga dapat menjadi poros kebudayaan.
Entah benar atau tidak, keberadaan masyarakat Tionghoa di Jawa Timur yang telah berlangsung ratusan tahun itu pastilah sedikit banyak telah memberi warna kepada kebudayaan lokal Jawa. Hal ini dapat dilihat dari adanya kesenian jepaplok yang baik bentuk maupun geraknya memiliki kemiripan dengan barongsai.
Penulis menjadi teringat tentang muhibah kebudayaan antara Indonesia-Malaysia yang dahulu selalu ditayangkan melalui TVRI. Sehingga antara kedua negara saling dapat mengenalkan kebudayaan masing-masing, dan juga menjadi cerminan keharmonisan dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat. Apakah bukan tidak mungkin jika hal serupa juga terjadi diwujudkan dalam merekatkan hubungan Surabaya-Tiongkok? Sehingga yang kita kenal tidak hanya barongsai saja, tetapi juga yang lainnya.
Oleh: Abd Sidiq Notonegoro
Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Jawa Timur
sumber : www.kompas.com
November 27th, 2006
Antara Goa Maharani, kawasan Pantai Tanjung Kodok, dan Wisata Bahari Lamongan yang berada di pantai utara Jawa Timur ini sebenarnya tidak ada bedanya. Sebab, cakupan pengembangan daerah wisata Wisata Bahari Lamongan sudah sekaligus termasuk Pantai Tanjung Kodok dan Goa Maharani sebagai kawasan wisata terpadu.
テつテつテつテつテつテつテつ
Wisata Bahari Lamongan (WBL) mulai terkenal sampai ke luar Lamongan, bahkan hingga ke luar Provinsi Jatim. Kini, tempat itu menjadi salah satu katalog agenda wisata keluarga Jatim. Selain Jatim Park I di Batu, Sengkaling di Malang, atau Pantai Ria Kenjeran di Surabaya, warga Jatim bisa memilih WBL sebagai salah satu tempat tujuan melepas penat bersama keluarga.
Kawasan yang disajikan dengan konsep one stop service itu pada tahap pertama dibangun di atas tanah seluas 17 hektar. Ke depan, area wisata itu akan dikembangkan hingga 24 hektar. Obsesi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan bersama investor berkeinginan menciptakan area wisata terbesar di Jatim, jika perlu se-Indonesia.
Obsesi tersebut kini mencapai 80 persen. Pembangunan pertama area wisata itu mengembangkan kawasan wisata Tanjung Kodok yang disulap menjadi tempat wisata modern dengan aneka fasilitas wisata.
Dengan tiket biasa Rp 10.000-Rp 15.000 dan tiket terusan Rp 25.000-Rp 35.000, pengunjung dapat menikmati sedikitnya 20 macam fasilitas wisata. Aneka fasilitas wisata itu di antaranya adalah arena ketangkasan, insektarium, marina, kolam renang air tawar, kolam renang laut dengan pantai pasir putih buatan, bumper car, space shattle, kano, long boat, bumper boat, tagada, planet kaca, sarang bajak laut, arena pacuan kuda, dan sirkuit go kart.
Tidak hanya itu, pengunjung akan disediakan tempat belanja komplet khas Jatim berupa souvenir shop. Di tempat tersebut tersedia produk unggulan, pasar ikan, buah dan sayur, serta pasar hidangan yang dibuka mulai pukul 09.00 sampai 21.00.
Daya tarik WBL tidak hanya terletak pada fasilitas wisata yang lengkap. Namun, daya tarik paling berharga terletak pada pemandangan lepas pantai ke Laut Jawa di utara WBL. Tidak jauh dari tempat itu, Buya Hamka pernah menulis roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk di mana kapalnya tenggelam di perairan dekat Lamongan.
Bisa dipastikan, daya tarik WBL semakin memikat saat perluasan tahap kedua kawasan itu rampung. Perluasan WBL mengembangkan kawasan wisata Goa Maharani yang terletak 300 meter sebelah selatan area Tanjung Kodok.
Rencananya, antara kawasan wisata Tanjung Kodok dan Goa Maharani disatukan dalam satu paket wisata bahari. Sebagai sarana penghubung, pengunjung bisa memanfaatkan kereta gantung, sebuah jaringan kereta gantung pertama di Jatim.
Sumber pemasukan
Tempat yang secara geografis terdiri dari tanah bebatuan itu kini menjadi lumbung pemasukan penting bagi Kabupaten Lamongan. Kesulitan air di daerah wisata itu sudah diatasi dengan pengeboran sumur air tawar yang dilakukan di area khusus yang telah dibeli pengelola.
Direktur WBL Aris Wibawa mengatakan, penyelesaian tahap pertama akan rampung dalam enam bulan ke depan. Kini, pengembangan sedang difokuskan pada pembangunan hotel dan convention hall di sebelah barat Tanjung Kodok.
Bahkan, pembangunan hotel berbintang tiga dengan kapasitas 50-60 kamar itu sudah selesai 70 persen. Hotel dengan kapasitas 500 pengunjung disiapkan sebagai テδ「テ「窶堋ャテつ拊arak penginapanテδ「テ「窶堋ャテつ di mana pengunjung bisa menginap lima sampai 15 orang sekaligus dalam satu kamar.
Aris mengatakan, kehadiran WBL tidak dilakukan untuk menandingi tempat wisata lain yang sebelumnya telah berdiri. Kami ingin membidik pasar sendiri, tutur Aris.
Sejak dibuka saat soft opening tanggal 14 November 2004, total jumlah pengunjung yang datang 600.000 pengunjung dari target 500.000. Rata-rata, mereka datang dari warga di Tulungagung, Nganjuk, Kediri, dan Blitar. Pengunjung yang datang semakin berkembang. Tren terakhir kunjungan wisatawan domestik berasal dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin meningkat.
Tingkat kunjungan setiap harinya pada hari biasa mencapai 500-2.000 pengunjung. Sedangkan pada musim libur pada Juni-Juli tingkat kunjungan melonjak mencapai 5.000-15.000 orang setiap harinya.
Keinginan kami, ke depan WBL bisa menjadi primadona pariwisata Jatim dari sisi bahari. Paling tidak, kami ingin menjadikan Bali bagi Jatim dengan tetap memegang nilai-nilai religi, tutur Aris.
Tahun 2005 ini, Pemkab Lamongan menetapkan target pendapatan dari WBL senilai Rp 4 miliar. Nilai target itu tergolong besar untuk ukuran Kabupaten Lamongan.
Keuntungan berdirinya WBL tidak hanya dari sisi pemasukan uang, tetapi juga dari sisi tenaga kerja. Dari 380 pekerja yang ada, 60 persen di antaranya adalah pemuda Lamongan lulusan SLTA dan perguruan tinggi.
Mudah dijangkau
Lokasi wisata WBL bisa ditempuh dengan kendaraan jenis apa pun. Sebab, letaknya tepat di pinggir Jalan Raya Daendels, Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Tepatnya satu jam perjalanan arah utara kota Lamongan dan satu setengah jam arah barat kota Surabaya.
Tidak jauh dari tempat itu, sekitar lima kilometer arah timur, pihak Pemkab Lamongan akan mengembangkan sebagai kawasan berikat yang dikenal dengan Lamongan Intregated Shorbase (LIS). Sementara itu, sekitar enam kilometer arah barat terdapat pelabuhan ikan Brondong yang dilengkapi dengan tempat pelelangan ikan yang sangat dikenal di Jatim.
Diakui atau tidak, potensi pertumbuhan ekonomi di utara Lamongan berjalan meyakinkan. Cluster pengembangan kawasan itu menjadi salah satu kawasan yang tingkat pertumbuhan ekonominya meningkat tajam.
Berdirinya WBL adalah hasil kerja sama antara Pemkab Lamongan dan PT Bunga Wangsa Sejati yang sebelumnya membangun Jatim Park I di Batu. Dari kerja sama itu, kemudian dibentuk PT Bumi Lamongan Sejati sebagai pihak yang mengelola WBL.
Di tengah optimisme pengembangan kawasan WBL, sejumlah pengunjung masih mengeluhkan persoalan klasik tentang kebersihan. Sebenarnya, pengunjung asal Sidoarjo, Wili Locarno (42), mengaku terkesan dengan tempat wisata WBL.
Saat itu, Sabtu (16/7), Wili datang bersama mertua, istri, dan kedua anaknya. Duduk di pinggiran kolam renang sehabis mandi, Wili mengatakan, Tempat ini menarik sekali. Tetapi sayang, kebersihan terutama di toilet masih belum terjamin, ujarnya.
Tidak hanya Wili, mertuanya, Sartika (64), mengatakan hal yang sama. Ia menyayangkan fasilitas dan potensi yang bagus itu harus ternoda oleh kebersihan yang kurang dijaga. Kapan tempat wisata kita menjadi tempat yang bebas dari kotoran?
sumber : www.kompas.com
November 27th, 2006
Surabaya, Kompas - Pariwisata Surabaya jangan hanya diarahkan pada wisata sungai atau pembangunan monumen-monumen sejarah, namun harus lebih fokus pada pemeliharaan gedung-gedung tua yang banyak telantar. “Turis-turis mancanegara, terutama dari Eropa paling menyukai arsitek gedung-gedung tua berikut sejarahnya. Tidak ada turis asing yang mau mengeluarkan banyak uang datang ke Surabaya, hanya disuguhi potlot raksasa (Tugu Pahlawan-Red),” kata William AJ Vroegop, konsultan pariwisata untuk turis mancanegara, di Surabaya.
テつテつテつテつテつテつテつ
Menurut Vroegop, Surabaya sebagai salah satu kota bisnis terbesar di Asia Tenggara, mempunyai potensi pariwisata yang luar biasa besar. “Apalagi Surabaya mempunyai pelabuhan yang telah ada sejak zaman dahulu, yang sudah pasti memiliki bangunan-bangunan kuno dengan arsitektur klasik. Kalau Pemerintah Kota Surabaya bisa menangkap itu, kedatangan turis tidak akan bisa dibendung lagi,” kata Vroegop.
Wisata sungai yang berulang kali didengungkan Pemerintah Kota Surabaya akan dibangun, menurut Vroegop, membutuhkan biaya yang luar biasa besar dan kesadaran dari seluruh warga kota. “Tidak bisa pemerintah berjalan sendiri, sementara warga kota tidak mendukung. Jadi untuk mewujudkannya perlu waktu yang cukup lama, sedangkan kedatangan turis mancanegara tidak bisa ditunda lagi,” ujar Vroegop.
Habiskan dana Monumen-monumen bersejarah yang banyak dibangun oleh Pemerintah Kota, menurut Vroegop, hanya menghabiskan dana pemerintah saja. Sementara monumen-monumen itu tidak cukup kuat untuk menarik minat wisatawan. Berbeda halnya jika pemerintah membangun monumen-monumen itu, diikuti dengan pemeliharaan gedung-gedung tua. “Itu akan menjadi wisata sejarah yang terintegrasi, saling mengisi. Apalagi bila pemerintah menghidupkan kembali trem yang pernah ada. Tidak perlu panjang cukup tiga gerbong, dan tidak usah operasional. Jadikan trem itu sebagai restoran makanan Indonesia, maka daya tarik wisatanya akan luar biasa sekali,” katanya.
Monumen-monumen bersejarah yang banyak dibangun oleh Pemerintah Kota, menurut Vroegop, hanya menghabiskan dana pemerintah saja. Sementara monumen-monumen itu tidak cukup kuat untuk menarik minat wisatawan. Berbeda halnya jika pemerintah membangun monumen-monumen itu, diikuti dengan pemeliharaan gedung-gedung tua. “Itu akan menjadi wisata sejarah yang terintegrasi, saling mengisi. Apalagi bila pemerintah menghidupkan kembali trem yang pernah ada. Tidak perlu panjang cukup tiga gerbong, dan tidak usah operasional. Jadikan trem itu sebagai restoran makanan Indonesia, maka daya tarik wisatanya akan luar biasa sekali,” katanya.Dalam pemeliharaan gedung-gedung tua tersebut, sebenarnya pemerintah bisa mengajak swasta untuk melakukannya. Misalnya, meminta bank-bank untuk tidak membangun gedung baru yang tinggi, tetapi menempati gedung-gedung tua itu. “Semua diuntungkan, pihak swasta tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membangun gedung baru, sementara gedung-gedung tua jadi terawat,” ujarnya.
Pembangunan gedung-gedung baru di daerah kota tua, seperti Kembangjepun, Jembatan Merah, Jalan Semut, dan sekitarnya sangat mengganggu nilai artistik dari daerah tersebut. “Banyak turis yang kecewa karena Jembatan Merah yang sangat terkenal itu, tidak didukung oleh suasana kuno di sekitarnya. Banyak gedung baru di sekitar sana, sehingga merusak pemandangan,” kata Vroegop. (arn)
sumber : www.kompas.com
November 27th, 2006