Cinta dan Wanita dalam Tarian

November 24th, 2006

SURABAYA - Pesona cinta dan wanita memang inspiratif. Itu ditunjukkan para peserta Gelar Tari pada Festival Cak Durasim (FCD) 2006 tadi malam. Empat penari yang tampil mengupas sisi lain cinta dan wanita dalam balutan gerak koreografi nan elok.


テつテつテつテつテつテつテつ
Empat koreografer itu adalah Ni Kadek Yulia Puspasari (Solo), I Nyoman Sura (Bali), Abd. Rachim (Jakarta), dan Mawar Desember (Jakarta).

Menampilkan karya berjudul Himung, Mawar bermain tunggal. Dia memainkan sendiri karya ciptaannya. Tari itu bercerita tentang gejolak batin wanita ketika menghadapi masalah. Kegelisahan tersebut ditampakkan Mawar secara jelas dalam pertunjukan. Lenggak-lenggok tubuhnya ketika berdiri di atas kursi menggambarkan kebingungan seorang wanita. “Ini gambaran implisit,” kata Mawar di sela-sela geladi bersih kemarin.

Di tengah tari, ada adegan memainkan caping petani di atas kepada sang gadis. Menurut wanita 22 tahun itu, topi itu ibarat seraong. Ini adalah istilah Dayak yang berarti pengayom hidup. “Dengan adanya topi itu, hidup si gadis menjadi tenang,” kata mahasiswi semester 9 IKJ tersebut. Di akhir tari, topi digambarkan lenyap. Si gadis pun merasa sangat kehilangan.

Menurut Mawar, sajian itu diinspirasi oleh tari Gong dari Kaltim. “Sebenarnya, tarian ini merupakan ujian karya saya di kampus. Namun, telah ada perubahan dan pengembangan,” lanjutnya.

Ni Kadek Yulia Puspasari, koreografer Solo, menampilkan Tambang Laras. Isinya adalah cerita cinta. Sedikit klise memang. Namun, Kadek memilih mengemas tema cinta itu dengan cara berbeda. Dia ingin orang-orang mempertanyakan makna cinta dengan segala kelebihan dan kekurangannya. “Ada orang yang berkorban demi cinta. Ada pula yang egois karena asmara,” ungkap Bernadheta, koordinator produksi Sanggar Kadek. Memang, kemarin Kadek berhalangan datang. Dia sakit.

Sebelum pertunjukan tari tadi malam, kemarin pagi dilaksanakan Lomba Kidungan. Lomba yang diadakan di bawah tanggung jawab seniman Sidik Wibisono itu diadakan dua hari, kemarin dan hari ini. Pada perlombaan kemarin, ada 30 peserta. Rata-rata berusia di atas 40 tahun. “Sebenarnya, kami berharap acara ini diikuti kaum muda. Tapi, kalau yang ikut hanya orang dewasa, ya tidak apa-apa,” kata Cak Sidik. Meski begitu, pria kelahiran 6 November 1942 itu berharap tahun depan ada banyak peserta remaja yang berpartisipasi.

Tema dalam Lomba Kidungan itu tak dibatasi. Tetapi, sangat disarankan peserta mengangkat kritik membangun serta menyentil fenomena yang tengah berlangsung di Surabaya. Setiap peserta diberi waktu lima menit untuk melagukan pantun khas Surabaya itu.

Salah seorang peserta adalah Sarip. Dia mengkritik banyaknya remaja yang larut dalam pergaulan bebas. Numpak pesawat nang Bali. Ayo ndang tobat mumpung durung disalati (Naik pesawat ke Bali. Ayo segera tobat sebelum disalati, Red). Itulah salah satu bait yang dilantunkan Sarip.

Pria 54 tahun tersebut menyatakan tidak mempersiapkan lomba itu secara khusus. Memang, dia tergabung dalam Paguyuban Penggemar Kidungan Rek (PPKR), kelompok penggemar acara Kidungan Rek JTV. “Setiap Senin, saya selalu ikut ke JTV. Di sana, sesama anggota PPKR saling berlatih dan unjuk kemampuan ngidung,” kata dia. (ai)

sumber : www.jawapos.com

Entry Filed under: East Java News

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

November 2006
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts