Archive for November 24th, 2006
Ciputra Waterpark : The Biggest Water Park in Indonesia
A million freshness and cheerful are waiting in Ciputra Water Park. Visit the best water means in the country; readily bring you and family to the unforgettable adventure of Sinbad water world.
Cheerful, Exclaimed, Full of challenge!!!
テつテつテつテつテつテつテつ
Sirens River
This special river designed to make you and family become increasingly chummy and intimate. Enjoy its besotted family relax and fringing artificial river along 425 meter length. The Sirens River flow calm will bring you to explore exclaiming the 1001 adventure story nights in the middle of the water ripples of Sinbad world.
Chimera Pool
Free laugh of all family members! Also the child who partaken with his friends. Chimera Pool is special pool for the child to play at as his satisfied. It is equipped with small water fountain runs sudden shine rotation; this child pool will invite laugh and cheerful of your child.
Marina Lagoon
Let children to dissolve in their wide imagine. Marina Lagoon provides supporting facilities such as; a playground for children that equipped with game as of small slip and bridge for them gather and jest. Here they have opportunity to have socialization and look for new friend passed various imaginative adventures, which they have.
Sinbad Playground
Explore palace towers to play at Sinbad, which is continued one another by rickety bridge. This towers equipped with water cannon for ignorant their friend, and exclaimer again is giant water drum that readily to spill 5000 water gallons and bath you in cheerful.
Roc Tower
Slip Tower with 15 meter high is full of challenge. It is guaranteed to make all trying and always addictive. Accelerate high-speedily in tunnel and racing adrenalin. And “burr…!” Sudden you have been be under and wanted soon to repeat the remarkable exclaimed experience.
Syracuse Beach
Chase one another with wave with family will surely incise smiling and laugh. You will not be numeral when coming just small billow or ripples wave hereinafter. Enjoy current pool with 1800 m2 width and 1,2 meter depth. Besides also can relax with coastal situation accompanied by kindhearted and funny giant whale.
Opening Hours
Tuesday テ「竄ャ窶 Friday: 14.00 - 19.00
Saturday, Sunday and the Holiday: 08.00 - 20.00
Packet Available:
Outing Plus (Team Building) packages
Gathering packages
Birthday packages
Call Sales Reservation & Marketing Department
Phone: (031) 7441155テつテつ
Fax: (031) 7441166
Water Park Boulevard Citraraya The Singapore of Surabaya 60219
source : www.surabaya.eastjava.com
November 24th, 2006
SURABAYA - Pesona cinta dan wanita memang inspiratif. Itu ditunjukkan para peserta Gelar Tari pada Festival Cak Durasim (FCD) 2006 tadi malam. Empat penari yang tampil mengupas sisi lain cinta dan wanita dalam balutan gerak koreografi nan elok.
テつテつテつテつテつテつテつ
Empat koreografer itu adalah Ni Kadek Yulia Puspasari (Solo), I Nyoman Sura (Bali), Abd. Rachim (Jakarta), dan Mawar Desember (Jakarta).
Menampilkan karya berjudul Himung, Mawar bermain tunggal. Dia memainkan sendiri karya ciptaannya. Tari itu bercerita tentang gejolak batin wanita ketika menghadapi masalah. Kegelisahan tersebut ditampakkan Mawar secara jelas dalam pertunjukan. Lenggak-lenggok tubuhnya ketika berdiri di atas kursi menggambarkan kebingungan seorang wanita. “Ini gambaran implisit,” kata Mawar di sela-sela geladi bersih kemarin.
Di tengah tari, ada adegan memainkan caping petani di atas kepada sang gadis. Menurut wanita 22 tahun itu, topi itu ibarat seraong. Ini adalah istilah Dayak yang berarti pengayom hidup. “Dengan adanya topi itu, hidup si gadis menjadi tenang,” kata mahasiswi semester 9 IKJ tersebut. Di akhir tari, topi digambarkan lenyap. Si gadis pun merasa sangat kehilangan.
Menurut Mawar, sajian itu diinspirasi oleh tari Gong dari Kaltim. “Sebenarnya, tarian ini merupakan ujian karya saya di kampus. Namun, telah ada perubahan dan pengembangan,” lanjutnya.
Ni Kadek Yulia Puspasari, koreografer Solo, menampilkan Tambang Laras. Isinya adalah cerita cinta. Sedikit klise memang. Namun, Kadek memilih mengemas tema cinta itu dengan cara berbeda. Dia ingin orang-orang mempertanyakan makna cinta dengan segala kelebihan dan kekurangannya. “Ada orang yang berkorban demi cinta. Ada pula yang egois karena asmara,” ungkap Bernadheta, koordinator produksi Sanggar Kadek. Memang, kemarin Kadek berhalangan datang. Dia sakit.
Sebelum pertunjukan tari tadi malam, kemarin pagi dilaksanakan Lomba Kidungan. Lomba yang diadakan di bawah tanggung jawab seniman Sidik Wibisono itu diadakan dua hari, kemarin dan hari ini. Pada perlombaan kemarin, ada 30 peserta. Rata-rata berusia di atas 40 tahun. “Sebenarnya, kami berharap acara ini diikuti kaum muda. Tapi, kalau yang ikut hanya orang dewasa, ya tidak apa-apa,” kata Cak Sidik. Meski begitu, pria kelahiran 6 November 1942 itu berharap tahun depan ada banyak peserta remaja yang berpartisipasi.
Tema dalam Lomba Kidungan itu tak dibatasi. Tetapi, sangat disarankan peserta mengangkat kritik membangun serta menyentil fenomena yang tengah berlangsung di Surabaya. Setiap peserta diberi waktu lima menit untuk melagukan pantun khas Surabaya itu.
Salah seorang peserta adalah Sarip. Dia mengkritik banyaknya remaja yang larut dalam pergaulan bebas. Numpak pesawat nang Bali. Ayo ndang tobat mumpung durung disalati (Naik pesawat ke Bali. Ayo segera tobat sebelum disalati, Red). Itulah salah satu bait yang dilantunkan Sarip.
Pria 54 tahun tersebut menyatakan tidak mempersiapkan lomba itu secara khusus. Memang, dia tergabung dalam Paguyuban Penggemar Kidungan Rek (PPKR), kelompok penggemar acara Kidungan Rek JTV. “Setiap Senin, saya selalu ikut ke JTV. Di sana, sesama anggota PPKR saling berlatih dan unjuk kemampuan ngidung,” kata dia. (ai)
sumber : www.jawapos.com
November 24th, 2006
SURABAYA - Kondisi rumah wafat pahlawan nasional Wage Rudolf Supratman kini kurang begitu terawat. Teras rumah di Jalan Mangga itu sudah melapuk. Cat rumah berukuran 5,5 x 6 meter itu kusam, halamannya juga kotor.
テつテつテつテつテつテつテつ
“Setiap bulan kami hanya mendapatkan dana perawatan Rp 550 ribu per bulan. Itu hanya cukup untuk membayar petugas kebersihan, bagaimana dengan perawatan lain,” kata Direktur LSM Lembaga Pengkajian Kota Pahlawan (LPKP) Zainal Karim yang kini menempati rumah tersebut. Sebagai tetenger, LPKP memasang spanduk besar yang menjelaskan rumah itu merupakan tempat wafat W.R. Supratman, penggubah lagu Indonesia Raya.
Zainal menjelaskan, dari hasil penelusuran sejarah, rumah itu ditemukan lembaganya pada 2002 lalu. Waktu itu, rumah tersebut dalam kondisi kosong dan terkunci. LPKP kemudian berinisitaif ngopeni bangunan bersejarah itu. Mereka meminta izin kepada ahli waris W.R. Supratman di Jakarta.
Awalnya, LPKP diminta membeli rumah itu. Tapi, setelah diberitahu bahwa rumah itu berada di bawah wewenang negara karena punya nilai sejarah, pihak ahli waris akhirnya mengizinkan untuk ditempati. “Istilahnya saya ini ngenger di rumah ini. Seperti dulu ketika Pak W.R. Supratman yang pernah tinggal bersama pamannya, Willem Martinus Van Eldick atau Sastromihardjo,” papar Zainal.
Dia menjadikan rumah tersebut sebagai kantor LSM yang dipimpinnya. “Ya, kalau ada rezeki rumah itu kami perbaiki sedikit-sedkit,” ujarnya. Zainal mengatakan, kalau untuk melakukan renovasi besar, pihaknya tidak mampu dari segi pendanaan. “Wong untuk perbaikan teras, kami pakai duit utangan kok.”
Zainal menjelaskan, komponis W.R. Supratman membangun rumah mungil itu pada 1930. Dia baru menempati rumah bercat hijau itu dua tahun kemudian. “Dia wafat di rumah ini juga karena sakit paru-paru,” paparnya.
Salah satu prestasi perjuangan Zainal adalah diresmikannya gerakan “sosialisasi keberadaan dan pelestarian benda bangunan cagar budaya” pada tanggal 28 Oktober 2003 oleh Menteri Pariwisata dan Budaya I Gede Ardika. Salah satu agendanya, melakukan pengembangan dan renovasi bangunan rumah W.R. Supratman itu. “Tapi, hingga kini nasib sosialisasi itu tidak jelas,” keluh Zainal.
Dia berharap Pemkot Surabaya bisa tegas menentukan sikap terhadap keberadaan rumah pahlawan itu. “Segera berikan sikap soal nasib rumah ini. Kalau wali kota tidak sanggup, tulis surat kalau menyerah. Jangan dibiarkan seperti ini,” pinta Zainal. (git)
Agenda Renovasi Rumah W.R. Supratman Versi LPKP
- Pembebasan dua rumah di samping kanan dan kiri rumah W.R. Supratman.
- Perlu tambahan bangunan kantor untuk Museum
- Perlu tambahan koleksi dokumentasi W.R. Supratman. Perlu tambahan diorama statis dan diorama elektronis
sumber : www.jawapos.com
November 24th, 2006
SURABAYA - Suasana di Yayasan Pendidikan Diana kemarin berbeda dengan hari biasa. Begitu memasuki halaman, nuansa pedesaan Jawa sangat terasa di sekolah yang terletak di Jalan Kartini itu.
テつテつテつテつテつテつテつ
Gambar-gambar hasil-hasil pertanian dan sawah terpampang di beberapa sudut sekolah. Beberapa lokasi juga dipermak sedemikian rupa guna menghadirkan suasana pedesaan. Para guru dan murid juga berdandan ala penduduk pedesaan Jawa. Yang wanita mengenakan kebaya dan batik, yang pria memakai sarung lengkap dengan cangkul dan caping.
Tidak hanya dekorasi dan pakaian, makanan yang disajikan pun khas. Misalnya, tumpeng, bubur merah, jagung, dan kacang-kacangan. Begitu pula hiburannya. Pihak sekolah menyajikan musik tradisional Jawa. Irama gamelan dan suara sinden mengiringi tarian yang dibawakan siswa TK dan Play Group.
Ada apa di Yayasan Sekolah Diana? Hari itu mereka sedang memperingati hari Thanksgiving. Hanya, kali ini mereka mengambil tema berbeda. Yakni, mensyukuri hasil panen.
Menurut Kepala TK dan Play Group Diana, Judicia Lamantatow BSc, dalam acara tersebut anak-anak diajari bersyukur atas hasil panen yang selama ini mereka nikmati sehari-hari di meja makan. “Sebelum makan, harus mengucap syukur. Begitu pun setelah makan,” katanya.
Tak hanya itu. Pengenalan budaya dan adat Jawa yang sudah mulai terkikis juga dilakukan dalam acara tersebut. Anak-anak dikenalkan makanan dan cara khas bangsa Indonesia untuk bersyukur. “Kami mengenalkan tumpeng dan selamatan, ciri khas Indonesia untuk mengucap syukur pada Yang Mahakuasa,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut sangat didukung orang tua murid. Hampir semua murid yang datang kali itu didampingi orang tua masing-masing. Seperti Lina Kurniawati, warga Petemon yang mengantarkan anaknya, Adrian Rafael. Lina mengaku sangat senang dengan kegiatan yang baru diadakan kali pertama itu. “Sangat positif. Dengan begitu, anak tidak melupakan tradisinya. Mereka jadi lebih bersyukur atas karunia yang didapat,” katanya.
Murid-murid pun sangat antusias mengikuti jalannya acara. Jade Gunawan dan Sellyn Wijaya mengatakan sangat senang memakai baju adat Jawa yang mereka tidak pernah tahu. “Bubur merah ini rasanya enak ya. Apalagi tumpengnya,” ujar Sellyn polos.
Pengenalan budaya memang menjadi salah satu program kerja TK Diana. “Bukan hanya budaya Jawa, tapi juga budaya Tionghoa seperti imlek, serta budaya barat seperti halloween,” kata Judicia. Program seperti itu diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan pengalaman siswa.
Yang menarik adalah tampilnya rombongan karawitan beserta sinden. Pihak sekolah mencomot rombongan karawitan keliling. “Kita dapatnya baru kemarin (Rabu, Red),” kata Judicia. (cie)
sumber : www.jawapos.com
November 24th, 2006