Temu Taman Budaya se-Indonesia
November 22nd, 2006
SURABAYA - Festival Cak Durasim (FCD) VII di Taman Budaya Jawa Timur tadi malam dibuka Direktur Kesenian, Ditjen Nilai Budaya, Seni dan Film, Dr Surya Yoga. Aneka pergelaran seni yang disuguhkan pun mengundang antusias warga masyarakat untuk menyaksikan gelaran seni setahun sekali itu.
Selama enam hari festival (hingga 26 November), masyarakat bisa menyaksikan aneka pergelaran seni tradisi yang telah mendapat sentuhan modern. Tidak hanya dari Jawa Timur, juga duta seni dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya, seperti yang akan tampil nanti malam, yakni duta seni Taman Budaya Maluku, Kaltim, Kalbar, Bali, dan Kalsel.
Pembukaan tadi malam diramaikan pertunjukan seni Ganongan Ponorogo-Surabaya. Dilanjutkan penampilan Dongkrek Madiun dan Kelompok Perkusi Semut Ireng Madura. Juga tari Buratwangi Bali, Jejer Banyuwangi, dan medley tarian Nusantara yang dipertunjukkan duta seni Taman Budaya Daerah.
“Ya, memang antartarinya sedikit tidak nyambung. Tapi, itu wajar,” kata Ketua Panitia FCD VII Arif Rofiq. “Justru itulah yang menegaskan perbedaan seni antarbudaya di Indonesia,” tambahnya.
Pergelaran tari empat koreografer jawara menjadi puncak pembukaan FCD VII. Mereka adalah Desi (Pacitan), Unit Kegiatan Tari Karawitan (UKTK) Unair, Sodiq Pristiwanto (Ponorogo) dan Gita Maron asuhan Dimas Pramuka Atmadji.
Hari ini, mulai pukul 09.00, diadakan workshop tari di Pendapa TBJT. Acara ini bisa diikuti sanggar-sanggar tari di Jatim. Juga berlangsung pertemuan kepala Taman Budaya se-Indonesia di Hotel Simpang. Pertemuan itu akan membahas berbagai isu pembinaan kesenian di masing-masing daerah. Malam harinya di gedung Cak Durasim, ditampilkan seni budaya Nusantara dari Maluku, Kaltim, Kalbar, Bali, dan Kalsel. Usai itu giliran seni Sandur Tuban tampil di pendapa sebagai penutup acara. (ai)
sumber : www.jawapos.com
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed