Archive for October, 2006

GEDUNG BALAI PEMUDA


GEDUNG BALAI PEMUDA
, ini dahulu bernama SIMPANGSCHE SOCIETE IT yang dipakai klub oleh orang kulit putih untuk berdansa sedangkan bagi orang pribumi dilarang masuk. Pada bulan November 1945 Gedung ini dijadikan Markas Besar PRI (Pemuda Republik Indonesia) Pusat. Organisasi pemuda ini sering bertindak ekstrim, dan banyak orang Indonesia atau Belanda dituduh mata-mata diinterogasi oleh Bagian Penyelidik PRI di gedung ini.

Add comment October 15th, 2006

Balai Kota


Surabaya sebagai Resort Gemeonte (Haminte) secar resmi mulai berdiri pada tanggal 1 April 1906, sebelum-nya Surabaya merupakan bagian dari karesidenan Pemerintah Haminte dijalankan oleh Dewan Haminte yang diketuai oleh asisten residen sebagai Kepala Daerah.

Tahun 1916 diangkat Walikota Surabaya pertama, A. Meyroos yang bertugas sampai 1921, setelah Walikota yang kedua oleh G.J. DIJKERMAN rencana membangun gedung Balai Kota diwujudkan.

Gedung utama Balai Kota di Taman Surya, ketabang itu selesai dibangun pada tahun 1923 dan ditempati tahun1927. Arsiteknya ialah C. Citroen dan pelaksanaannya H.V. Hollandshe Beton Mij. biaya seluruhnya, termasuk perlengkapan lainnya menghabiskan 1000 gulden. Ukuran gedung utama : panjang 102 m dan lebar 19 m, konstruksinya terdiri dari tiang-tiang pancang beton bertulang yang ditanam, sedangkan dinding-dindingnya diisi dengan bata dan semen, atapnya trbuat dari rangka besi dan ditutup dengna sirap tetapi kemudian diganti dengan genteng. Setelah Republik Indonesia diproklamirkan, dilantik Radjamin Nasution sebagai Walikota Kota Besar Surabaya, berdasarkan Penpres 1959 No. 16 maka ditetapkan Walikota juga menjadi Kepala Daerah. Tahun 1965 Kotapraja Surabaya resmi menjadi Kotamadya.

Add comment October 15th, 2006

Gedung Grahadi


Gedung Negara dibangun pada tahun 1795, waktu itu penguasa tunggal (Gezaghebber) Belanda Dirk Van Hogendorp (1794-1798) beranggapan bahwa tempat kediaman resminya di kota bawah dekat Jembatan Merah kurang sesuai dengna kedudukannya.

Ia memilih sebidang lahan di tepi Kalimas untuk membangun sebuah rumah taman yang lebih representatif. Tanah di jalan Pemuda yang dulu bernama Simpang, milik seorang Cina yang mula-mula segan menyerahkannya kepada Van Hogendorp. Namun menurut cerita ia akhirnya berhasil dipaksa secar halus dengan pernyataan bahwa tanah itu akan “disimpan” baginya. Menurut cerita, pemiliknya hanya diberi uang ganti rugi segobang (2.5 sen). Dari kata “disimpan” tadi lahirlah kata SIMPANG. Van Hogendorp membangun gedung itu dengna biaya 14.000 ringgit. Namun ia menikmati tempat kediaman itu hanya sekitar tiga tahun saja.

Selama ia memangku jabatannya, banyak keluhan disampaikan kepada Pemerintah Pusat Hindia Belanda di Batavia (Jakarta), antara lain ia dituduh menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Itulah sebabnya ketika diadakan resepsi tahun baru pada tanggal 1 Januari 1789, ia ditangkap dan dikirim ke Batavia. Gubernur Jenderal Inggris, Daendels, yang terkenal dengna sebutan Toean Besar Goentoer memperbaiki Gedung Grahadi itu. Ia ingin menjdaikan gedung itu sebagai suatu istana.

Disamping itu, juga dibangun sebuah jembatan di atas Kalimas yang kini mengalir di belakang gedung tersebut. Pada mulanya gedung itu memang menghadap ke Kalimas, sehingga pada sore hari penghuninya sambil minum-minum teh dapat melihat perahu-perahu yang menelusuri kali tersebut. Perahu-perahu itu juga dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, mereka datang dan pergi dengna naik perahu menelusuri Kalimas.

Dalam perkembangan berikutnya Gedung yang megah itu dipakai juga untuk tempat bersidang Raad Van Justitie (Pengadilan Tinggi), juga dipakai untuk pesta, resepsi dengna berdansa, dan lain-lain. Pada tahun 1802, gedung Grahadi yang semula menghadap ke Utara, diubah letaknya menjadi menghadap ke Selatan seperti sekarang ini. Di seberangnya ada taman yang bernama Kroesen (Taman Simpang), yang diambil dari nama Residen J.C. Th. Kroesen (1888-1896). Di belakang taman itu ada patung Jokodolok yang berasal dari kerajaan Majapahit yang sekarang juga masih berdiri kokoh. Diantara peninggalan dari zaman Belanda terdapat meja tulis yang kini dipakai oleh Gubernur Jawa Timur di ruang kerjanya. Gubernur Belanda yang terakhir mendiami gedung Grahadi ialah : CH. Hartevelt (1941-1942).

Sejak Indonesia merdeka, Gubernur Jawa Timur pertama yang bertempat tinggal di Grahadi ialah R.T. Soerjo (1946-1948) yang patungnya kini nampak di seberang jalan Gedung tersebut. Sejak Gubernur Samadikoen (1945-1957) sampai sekarang gedung ini dijadikan gedung negara untuk menerima tamu, resepsi serta pertemuan-pertemuan lain, sedangkan Gubernur  sendiri bertempat tinggal di kediaman lain di dalam kota Surabaya.

sumber : www.petra.ac.id

Add comment October 12th, 2006

PERISTIWA PELUCUTAN SENJATA DI GEDUNG KENPETAI/GEDUNG RAAD VAN JUSTITIE

Pada tanggal 2 Oktober 1945, semangat Arek-arek Suroboyo yang gagah berani kembali berkobar-kobar menyerbu Gedung Kenpetai. Setelah Peristiwa Insiden Bendera tanggal 19 September 1945 di Hotel Yamato Gedung Kenpetai merupakan lambang kekejaman dan dikriminasi Hukum Kolonial Belanda serta, Pemerintahan  Pendudukan Tentara Jepang.

Hal ini dikarenakan tempat tersebut dijadikan sebagai tempat penyiksaan para pejuang Arek-arek suroboyo. Serbuan Pejuang dan Arek-arek Suroboyo walaupun menemui tantangan yang sangat berat tetapi berkat kegigihan dan semangat juang Arek-arek Suroboyo yang pantang menyerah terus mengepung Gedung Kenpetai sampai pukul 16.00 pertempuran baru berhenti setelah para pejuang melihat Bendera Jepang Hinomaru diturunkan sendiri oleh TAKAHARA, komandan Kenpetai.

Jumlah senjata yang diperoleh dari peristiwa perlucutan senjata di Surabaya ± 22.877 belum termasuk alat dari Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Dalam penyerbuan markas Kenpetai tersebut, banyak korban yang jatuh baik dari pihak pejuang Indonesia maupun Jepang, tercatat 25 orang pejuang Indonesia ewas, 15 orang tentara Jepang tewas, sedangkan korban luka-luka berat diantaranya 60 orang Indonesia, 14 tentara Jepang, 2 orang Cina, dan 5 orang Belanda.

Dengan jatuhnya Gedung Kenpetai pada tanggal 2 Oktober 1945 oleh para pejuang / Arek-arek Suroboo merupakan kemenangan besar bagi Bangsa Indonesia yang telah berhasil menumbangkan lambang kekejaman pemerintah Bala Tentara Pendudukan Jepang di Surabaya / Jawa Timur. 

sumber : www.petra.ac.id

1 comment October 12th, 2006

PERISTIWA TEWASNYA BRIG. JEND. MALLABY DI DEKAT JEMBATAN MERAH


Pada tanggal 30 Oktober 1945 diadakan pertemuan antara Presiden Sukarno, Wapres Moh. Hatta, Menpen Amir Syarifuddin, Gubernur Soerjo, residen Soedirman dengan Mayjen D.C. Hawthorn, pimpinan tentara Sekutu di Jakarta.


Sebagai  salah  satu  hasil pertemuan itu   dibentuk  suatu  Kontak  Komisi,  yang diharapkan dapat memudahkan hubungan kedua belah pihak.Disetujui pula agar tembak-menembak oleh kedua belah pihak dihentikan. Namun dalam kenyataannya, tembak-menembak berlangsung terus. Akhirnya diputuskan  para  anggota  kontak Komisi turun ke lapangan. antara lain yang dikunjungi daerah Jembatan Merah. Disitu terletak gedung Internatio, yang  merupakan  markas Pasukan Komandan Brigade ke-49 Inggris, yang bertugas di Surabaya. Di seberangnya, para pejuang Arek-arek Suroboyo berada di sekitar Jembatan Merah.

Tembak-menembak sering terjadi antara kedua tempat itu. Pada tanggal 30 Oktober 1945, dengan berkendaraan  beberapa  mobil para anggota Kontak Komisi berusaha menuju gedung Internatio, yang dituntut oleh arek Suroboyo agar dikosongkan oleh tentara Sekutu yang  menurut persetujuan harus ditarik mundur ke Tanjung Perak. Di antara para anggota Komisi itu terdapat Residen Soedirman, Doel Arnowo, T.D. Kundan, Brigjen Mallaby. Hari  sudah  mulai  gelap   ketika  rombongan itu melalui tempat perhentian trem listrik, yang terletak beberapa belas meter sebelah utara Jembatan Merah ke arah gedung Internatio.

Di situlah mobil yang ditumpangi  Brigjen Mallaby terdengar mengalami ledakan sekitar jam 20.30. Ia kemudian ditemukan tewas. Tewasnya Brigjen Mallaby itulah yang menjadi salah satu alasan bagi penggantinya sebagai panglima tentara Sekutu di  Jawa Timur, Mayjen E.C. Mansergh, untuk mengeluarkan ultimatum pada tanggal 9 November 1945 agar pihak Indonesia di Surabaya meletakkan senjata selambat-lambatnya jam 06.00 tanggal 10 November 1945.

Ultimatum itu ditolak oleh pihak Indonesia dan pada pukul 06.00 pagi tanggal 10 November 1945 tentara Inggris mulai menggempur kota Surabaya dari kapal perang, psawat udara, serta pasukannya yang bergerak dari Tanjung Perak  menuju  tengah kota. Para  pejuang  Indonesia  mengambil   siasat mengundurkan diri dari dalam kota Surabaya dan meneruskan perjuangan dari luar kota.

sumber : www.petra.ac.id

Add comment October 12th, 2006

PERISTIWA INSIDEN BENDERA DI HOTEL ORANGE/HOTERU YAMATO


Pada hari RABU WAGE tanggal 19 September 1945 pada saat kelompok orang-orang Sekutu / Belanda yang tergabung dalam Mastiff Carbolic merupakan salah satu organisasi Anglo Dutch Country Saction (ADCS) yang bergerak di bidang spionase dengan kedok Petugas / Organisasi Palang Merah Internasional beroperasi di Surabaya dan mengunjungi Markas Besar Tentara Jepang yang berkedudukan di Surabaya.


Maka pada saat yang sama ada beberapa orang Belanda yang tergabung dalam Komite Kontak  Sosial mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) pada tiang bendera sebelah kanan (Utara) Gapura Hotel Yamato (Orange / Mojopahit sekarang). Sehingga dinilai oleh para pejuang dan Arek-arek Suroboyo tindakan orang-orang Belanda tersebut sangat congkak dan tidak simpatik karena merupakan lambang akan ditegakkannya kembali kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda di Bumi Surabaya. Kemudian Resimen SUDIRMAN dengan mengendarai Mobil Sedan Hitam mendatangi Hotel Orange dan memerintahkan dengan tegas kepada Komite Perwakilan Sekutu untuk segera menurunkan bendera Belanda tersebut. Tetapi justru perintah Residen Sudirman tidak diindahkan sama sekali oleh orang-orang Sekutu/Belanda yang berada di Hotel Orange, bahkan Residen Sudirman yangdalam kedudukannya sebagai Pejabat dan Wakil Pemerintah Indonesia malahan ditodong dengan pistol Revolver oleh seorang pemuda Belanda pada waktu itu. Sehingga memicu perkelahian massal yang tidak seimbang antara 20 orang sekutu/Belanda berhadapan dengan massa - rakyat / Pemuda Surabaya yang berasal dari Genteng, Embong Malang, Praban dan sekitarnya.

Akhirnya beberapa orang pemuda berhasil mendekati dan memanjat dinding serta puncak Gapura Hotel, berhasil menurunkan bendera Belanda dan menyobek bagian birunya serta menaikkan kembali bendera Merah-Putih dengan ukuran yang tidak seimbang dengan diiringi pekikan “MERDEKA”, “MERDEKA”, “MERDEKA”, yang disambut dengan gempita oleh massa Rakyat yang berkerumun di bawah tiang bendera dan berada di depan Hotel Orange.

Tercatat dalam insiden penyobekan bendera Belanda di Hotel Orange tersebut telah gugur sebagai Kusuma Bangsa 4 (empat) orang Pemuda / Arek Suroboyo yaitu Sdr. SIDIK, Sdr. MULYADI, Sdr. HARIONO dan Sdr. MULYONO. Sedangkan dari pihak Warga Belanda Mr. Ploegman tewas terbunuh oleh amukan massa ditusuk senjata tajam.

sumber : www.petra.ac.id

Add comment October 12th, 2006

Taman Kota di Taman Bungkul Ada Akses Wi-Fi


Telkom mengucurkan dana Rp1,5 miliar untuk membangun Taman Bungkul menjadi Taman Kota dengan akses Wi-Fi. Ini adalah pertama di Indonesia Taman Kota ada Wi-Fi.

“Kami bersyukur keinginan Telkom untuk mempersembahkan satu taman keluarga sekaligus taman bermain yang aman dan nyaman bagi warga kota Surabaya segera terwujud,” kata NANANG ISMAIL KOSIM, Executive General Manager Telkom Divre V Jawa Timur saat penandatanganan MoU antara Telkom Divre V Jatim dengan BAMBANG DH Walikota Surabaya di Ruang Sidang Walikota Surabaya.

Beberapa fasilitas yang akan dibangun di Taman Kota ini nantinya antara lain taman bermain anak, jogging track, skateboards track, food court, dan berbagai fasilitas bermain yang lainnya.

“Taman ini nantinya juga akan dilengkapi dengan fasilitas akses internet Wi-Fi. Dan ini satu-satunya di Indonesia,” jelas NANANG.

Diharapkan pada September mendatang, pembangunan Taman Kota segera dilaksanakan sehingga warga Surabaya segera bisa menikmati fasilitas baru persembahan Telkom, tambah DJADI SOEGIARTO Communication Manager Telkom Divre V Jawa Timur pada suarasurabaya.net.

Kata DJADI program pembangunan Taman Kota ini merupakan bagian dari program CSR (Corporate Social Responsibility) Telkom di bidang Peduli Lingkungan.

Sementara itu TRI RISMA HARINI Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Surabaya waktu dikonfirmasi YULIA reporter Suara Surabaya, Kamis mengatakan, peremajaan Taman Bungkul atas kerjasama Pemkot dengan PT Telkom ini sesudah selesai, Pemkot akan merawat dan memanfaatkan sesuai kesepakatan sebagai sarana pendidikan terbuka dan rekreasi.

Di Taman Kota ini orangtua nantinya bisa memanfaatkan fasilitas internet karena ada Wi-Fi sambil menemani atau menunggu anak-anak bermain.

Kata TRI RISMA begitu pembenahan rampung, juga segera disusun jadwal kunjungan siswa mulai dari TK sampai SMA supaya belajar sambil bermain di Taman Kota di Taman Bungkul.

Teks Foto:
1.Site plan Taman Bungkul yang akan dijadikan Taman Kota ber-WiFi.
2. NANANG ISMAIL KOSIM (kiri) dan BAMBANG DH (kanan) tunjukkan site plan usai penandatanganan MoU.

source : www.suarasurabaya.net

Add comment October 10th, 2006

Hong tiek Khian


The day after the Chinese New Year, 45-year-old Sukar Mudjiono, a puppeteer in potehi, a kind of Chinese puppet show in Surabaya, was seated in a relaxed manner on the veranda of Hong Tiek Hian Chinese temple, Jl. Dukuh Surabaya.

On that particular day he was not preparing for a potehi show. There is no specific schedule for potehi shows every Chinese New Year or Muslim Lebaran Day.

“A local television station in Surabaya has just interviewed me. I’m now waiting for another to interview. Every Lunar New Year, many journalists come to ask me about potehi,” he told The Jakarta Post.

While waiting for another TV interview, Sukar spoke with several print media reporters and photo journalists.
He looked fatigued, carefully answering every question he was asked. Several weeks prior to Chinese New

Year, he gave a potehi performance at a place where Confucian religious services were held in Surakarta, Central Java.

Sukar often has a tight schedule for his shows, staged in several cities in Indonesia, particularly as Chinese New Year approaches. His fee for each show is set at around Rp 100,000, much more than he earned before former president Abdurrahman “Gus Dur” Wahid stipulated that Chinese New Year would become a national holiday.
Before Gus Dur became president, ethnic Chinese arts activities were very limited. A license had to be sought from the local security authorities before a lion dance or potehi could be performed. Such performances took place only at venues set aside for religious services.

However, things changed after president Soeharto was deposed down in 1998. Licenses were no longer required for ethnic Chinese arts performances in public.

In mid-2002, potehi appeared on TV in the 26-episode series Sie Jin Kui, a story set in the Tang dynasty in China during the reign of Emperor Thai Cong (627 -649 AD) about the sacrifices that General Sie made for the country. That was the first time potehi was introduced to the public. Sukar, as the potehi puppeteer in the show, gained greater popularity in Surabaya.

“When there were still restrictions on potehi shows, I earned less than Rp 1 million a month. Today I can make about Rp 3 million a month,” Sukar said.

On the sidelines of his talk with the journalists, Sukar exchanged greetings with visitors to the temple. He knew all of them personally. He has been around the temple for decades, so he knows all the regulars.

“I’m an indigenous Indonesian and Muslim, but this temple seems to be part and parcel of my life. I started my life here. I learned to perform potehi here and now I can feed my family from this skill,” he said.

He then recalled what happened to him about thirty years earlier when he was still a teenager. One day he was playing around with his peers at the temple, which is about only three kilometers from his home, when he had a chance meeting with a Chinese Buddhist monk, Gan Coco. The monk was performing potehi at the temple. He would spend several months performing different potehi stories there.

Sukar became acquainted with the monk, subsequently becoming interested in potehi and learning how to perform it. The monk translated into Indonesian several famous stories often performed in potehi shows.

“I regularly took notes of these translations. These stories are hard to find in bookshops: Even if they’re available, they’re in Chinese,” he said.

Gan Coco also left him several sets of potehi puppets. Before he returned to China, he asked him to preserve the art form in Indonesia. The potehi puppets from Gan Coco are still in good condition. Some have had to be repaired, however, because of their age.

When the TV reporter showed up, Sukar changed clothes and got the potehi puppets ready. Before he started, he performed a special rite in which he burned kim cua paper, items usually burned during Chinese ancestral rites, on the potehi puppets.

Several minutes later, the sound of a beaten tualo marked the start of the performance. While working the potehi puppets, Sukar narrated a story in Chinese. Although his narration was in fluent Chinese, Sukar said there were still some Chinese words he did not understand.

“I often get criticized because my pronunciation is incorrect. Still, I love potehi and will continue to perform it because it’s my livelihood,” he said

Add comment October 10th, 2006

History in brief


The Port of Tanjung Perak is one of the main gate way port of Indonesia. It is the principal port in East Java, and the main cargo collection and distribution center for both the Province of East Java, and the whole eastern archipelago of Indonesia.

The port is therefore the maritime transportation hub for the eastern region of Indonesia, servicing both International and Interisland shipping in the region.
Historically ocean liners anchored in the Straits of Madura adjacent to the town of Surabaya, and loaded and unloaded their cargoes by barges and small boats that through the Kalimas (a narrow river), to reach Jembatan Merah, which was the old port of Surabaya, located in the heart of Surabaya city.

Growth in trade and cargo traffic resulted in a demand for additional port infrastructure, and cargo traffic congestion showed that the old facilities of Jembatan Merah were inadequate. In 1875, Ir.W.de.Jongth, a Dutch engineer, drafted a plan for a new port which would allow ocean going vessels to loaded and discharged cargoes directly alongside wharf structures, without the help of barges and small boats, but this plan was rejected at the time because of its high cost.
During the first decade of the 20th century, a more acceptable solution was proposed by Ir.W.B. Van Goor. It again defined the urgent need for conventional wharf structures where all ocean going ships would be moored along- side piers. Prof. DR. J. Kraus and G. J. de Jongth were sent out from the Netherlands to provide advice and to design the future Port of Tanjung Perak development.

In 1910, construction of the new harbour began . During the period of construction, many of the requests were received to use uncompleted wharves. Consequently, the development plan was extended to satisfy this demand.

Since this time, the Port of Tanjung Perak has contributed greatly to the economic development of the Eastern Indonesian region-influencing the growth of trade and development in East Java. The physical development of the Port of Tanjung Perak has continued to present day, with modification of existing berths, and provision of additional berths specifically designed for container handling operations. In addition, the Port Authority has been responsible for encouragement of development of associated port industries, and the construction of the passenger terminal, and continues to upgrade and improve both port facilities and services to meet demand.

1 comment October 5th, 2006

Nasibmu bangunan sejarah disurabaya


KALAU harus menentukan dua spot penting yang terkait dengan eksistensi bangsa dan negara Indonesia di Surabaya, maka yang pasti dipilih adalah spot Tugu Pahlawan dan Jembatan Merah. Kalau ditanyakan apa yang menonjol dari kondisi fisik kedua spot tersebut, maka tidak mudah menjawabnya. Sebab, Tugu Pahlawan yang erat terkait dengan viaduc kereta api (tempat pejuang bertahan) dan kantor gubernur (tempat arek-arek Suroboyo berada) kini keadaannya merana.

PEMUGARAN Tugu Pahlawan yang menelan biaya berpuluh miliar rupiah hanya menghasilkan pagar yang membatasi penglihatan orang pada tugu yang merupakan prestasi premium arek-arek Surabaya dalam mengisi kemerdekaan.

Hal yang lebih menyedihkan terjadi pada Jembatan Merah asli sebagai benteng para pejuang berhadapan dengan tentara Sekutu yang berlindung di Gedung Internatio. Ironisnya, Jembatan Merah diganti dengan jembatan beton yang jelek dan kini kurang terawat, sedang Gedung Internatio dipugar dengan baik. Apakah ini cara Surabaya membangun citra kotanya?

Awal tahun 1990-an, ada proyek yang hendak membongkar Jembatan Merah dengan alasan besi-besinya sudah keropos sebab usianya sudah sekitar 100 tahun. Alasan lain adalah perlu menghilangkan kaki jembatan agar bargas pembersih sungai dapat lewat.

Hal ini mendapat protes keras dari dosen dan mahasiswa Arsitektur Institut Sepuluh November Surabaya (ITS). Mereka berhasil menghubungi Dr Roeslan Abdulgani serta Ibu Lukitaningsih, pejuang perempuan 10 November.

Namun, ternyata imbauan kedua tokoh 10 November itu tetap tidak digubris tim Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan Pemerintah Kota Surabaya. Semula mahasiswa hendak berdemonstrasi, namun dibatalkan dan diganti dengan upacara memberi karangan bunga duka (krans) menjelang jembatan akan dibongkar.

Juga tawaran ITS untuk memasang kembali bongkaran jembatan di Kampus ITS ditolak dengan alasan kelak akan dipasang di sebuah taman kota. Dalam proses pembongkaran jembatan ternyata yang keropos hanya besi kaki jembatan yang mudah diganti dan dilebarkan agar bargas dapat lewat. Besi lainnya masih baik seperti baru.

SAAT pembangunan jembatan baru selesai, peresmiannya bertepatan dengan peringatan 100 tahun Jembatan Brooklyn di New York (Amerika Serikat) yang dipestakan meriah dengan kembang api dan dijamin masih tahan 100 tahun lagi. Sekarang, terbukti semua janji pemerintah daerah tentang bargas dan memasang kembali jembatan-seperti biasanya-hanya kosong melompong. Anehnya, warga kota pada waktu itu juga tidak gencar memprotes seperti menghadapi pembongkaran Stasiun Semut warisan Belanda.

Kasus pembongkaran Stasiun Semut dan Gedung Mardi Santoso menyajikan keadaan kontradiktif bila dikaitkan dengan pembongkaran Pasar Wonokromo. Menjelang akhir abad lalu, sebuah seminar digelar di Salvador de Bahia (ibu kota pertama Brasil) tentang pemugaran pusat kota yang peduli wong cilik. Peserta dari Belanda menceritakan tentang upaya ikatan arsitek Belanda untuk memugar berbagai bangunan kolonialnya di seluruh dunia.

Ini dilakukan untuk menyediakan bukti untuk pelajaran sejarah tentang kehebatan nenek moyang orang Belanda menguasai dunia dari Amerika (utara dan selatan), Afrika, hingga sebagian besar Asia, termasuk Jepang. Jadi, bila bangunan kolonial yang ada di Surabaya dipugar seperti kedua gedung yang saat ini dimasalahkan, orang Belanda pasti bersyukur karena rencananya tercapai tanpa harus keluar uang atau bersusah payah.

Akan tetapi, ini pasti bukan alasan mengapa bangunan yang menyumbang kekhasan sebuah kota harus serta-merta dimusnahkan. Inggris dan Perancis sampai sekarang terus merawat bangunan zaman Romawi ketika negara itu dijajahnya. Banyak negara lain melakukan hal serupa.

Meraih sebuah kemerdekaan bangsa bukan tanpa korban. Di samping kehilangan banyak nyawa anak bangsa terbaik, juga tidak sedikit harta yang ikut rusak. Warga Surabaya bahkan membumihanguskan kampung ketika mereka harus meninggalkan kota pada tentara Sekutu.

Namun, ketika kemerdekaan akhirnya diakui dunia, maka Surabaya yang paling banyak kehilangan nyawa anak bangsa terbaik sekaligus kota dan kampung porak-poranda berani mengambil langkah untuk membuktikan bahwa arek-arek Surabaya bukan hanya mampu mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga mengisinya. Walaupun banyak kesulitan harus dihadapi, namun arek-arek Surabaya membangun tiga proyek besar, Tugu Pahlawan, Hotel Internasional Olympic, dan Pasar Kota Wonokromo.

Kalau Tugu Pahlawan adalah hasil urunan tokoh-tokoh Jawa Timur dan Hotel Olympic murni oleh swasta, maka pemerintah kota hendak memberi sambutan selamat datang ke Surabaya melalui kehadiran Pasar Wonokromo yang berarsitektur paling unik di seluruh dunia. Justru saat usianya mencapai batas sebagai gedung yang harus dipugar sesuai UU No 5 Tahun 1992, ia diratakan dengan tanah tanpa ada yang berteriak apalagi menangis. Mengapa peninggalan kolonial Belanda lebih dipentingkan ketimbang karya akbar arek-arek Surabaya?

UNTUK ukuran awal tahun 1950-an, Jakarta pun tak mampu membangun tiga proyek “raksasa” sekaligus tanpa bantuan pemerintah pusat atau badan internasional. Ketiga proyek tersebut hendak memberikan layanan modern (ukuran waktu itu) bagi warga kota sejalan dengan kebanggaan memikul beban menjamin bangsa ini tetap merdeka.

Sepuluh tahun kemudian, Jakarta baru mampu membangun Hotel Indonesia dan Monumen Nasional, itu pun dengan dukungan dana dan keahlian Jepang (pampasan perang). Berbeda dengan Jakarta, Surabaya menghasilkan bangunan berskala nasional yang sekaligus menyumbang arsitektur khas yang tiada duanya dan diakui di dunia.

Kerusakan kota yang parah sama sekali bukan halangan untuk dapat menghadirkan arsitektur jengki yang pertama kali muncul di sini. Saat itu, Sekolah Teknik di Sawahan termasuk yang terbaik di Indonesia. Mereka terlibat aktif dalam membangun berbagai gedung dengan tampilan arsitektur jengki, seperti untuk perumahan, barisan gudang di Jalan Indrapura, Gelora Pancasila, Pasar Wonokromo, hotel dan losmen, pertokoan dan perkantoran, serta banyak lainnya. Penyelesaian interior juga bergaya jengki. Tidak sedikit perusahaan perabot (mebel) berlomba menawarkan meja, kursi, lemari, bangku panjang, meja rias, meja tulis dan banyak lainnya yang bergaya arsitektur jengki.

Maka, ada baiknya bila warga Surabaya masih dalam suasana hari jadi ke-710 lebih mengenal apa yang disebut arsitektur jengki dibandingkan dengan arsitektur modern yang saat itu menguasai dunia. Ciri arsitektur jengki sebagai berikut:

* Memakai bentuk perlawanan dan kebebasan terhadap kubisme dan geometrik dari arsitektur Barat atau modern. Bentuk ini diduga hendak menjiwai rasa kemerdekaan terhadap penjajahan Barat/Belanda. Hasilnya adalah gaya bebas yang didominasi oleh garis miring untuk tiang, dinding, dan bentuk-bentuk bebas lainnya seperti lengkung dan kubah yang dihindari oleh arsitektur modern.

* Memakai bentuk atap “rakyat”, yaitu atap pelana seperti rumah kampung namun kemiringannya lebih landai ketimbang atap rumah kolonial. Tidak sedikit atap dipatah pada bubungan dengan satu sisi lebih rendah agar tercipta celah (gap) untuk ventilasi atap. Atap bentuk ini di Kalimantan disebut anjing menyalak. Tembok gewel (gevel) yang timbul oleh atap pelana diberi imbuhan beragam motif, umumnya bentuk kotak dan belak ketupat (wajik). Tidak jarang separuh sisi tembok yang menghadap ke jalan lebih maju dari sisi separuh lainnya yang diikuti oleh atap yang menjorok ke depan tidak rata pula. Ini sama sekali tidak menjadi masalah, bahkan khas.

* Dinding umumnya dihias beragam motif hasil buatan, bukan alami. Ada dinding yang diisi dengan kerawang (rooster) dan ada pula dibalut dengan batu alam bentuk teratur (non-alami). Upaya ini memberikan suasana ria dan riang guna melawan bentuk serius yang membosankan dan terkendali dari arsitektur modern.

* Yang juga menjadi perhatian adalah memakai penutup sosoran atau kanopi untuk teras depan, biasanya dari beton yang bergelombang atau meliuk disangga oleh tiang yang miring. Bentuk ini hendak kontras terhadap dan melawan garis lurus datar yang biasa dipakai. Jendela juga diberi bingkai muncul yang miring karena lebih lebar di atas.

* Juga dipilih finishing warna kontras, meriah dan pastel. Pada kayu dan perabot diperkenalkan dan banyak dipakai proses pelitur yang memakai warna-warni, terkadang diselingi warna gelap. Ini merupakan ciri-ciri utama dari yang disebut arsitektur jengki tanpa ada tatanan ruang yang khas, terserah keinginan pemilik yang selalu bebas.

TIDAK dapat dimungkiri bahwa arsitektur jengki berciri dasar gerakan dekonstruksi yang di dunia baru muncul akhir tahun tujuh puluhan. Lebih dari itu, ini merupakan arsitektur total mulai dari luar sampai ke dalam (interior) lengkap dengan perabot yang dipakai. Para arsitek muda ini seakan hendak membedakan diri dari arsitek “tua” yang pernah dididik oleh arsitek Belanda setelah harus angkat kaki dari bumi Indonesia.

Kaum “tua” biasanya setia dengan kaidah arsitektur modern yang diwariskan pada generasi awal arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung dimotori oleh dosen didikan Belanda yang diselesaikan di Jerman. Salah satu contoh karya arsitektur “tua” ini adalah Bank Indonesia di depan Kantor Pos Kota.

Nama jengki berasal dari Yank atau Yankee (warga negara bagian New England di AS) merupakan nama yang saat itu populer dipakai pada beragam benda seperti celana jengki, sepeda jengki, dan sebagainya. Saat itu, film Amerika melanda ke seluruh pelosok Indonesia setelah lama menghilang. Yang kala itu paling digemari adalah film koboi (cowboy). Hampir dalam setiap film ada adegan koboi beradu draw atau mencabut pistol dengan cepat dan menembak lawan dalam menyelesaikan perselisihan.

Posisi koboi yang siap menarik pistolnya dengan kaki terbentang miring menjadi ilham bagi arsitek anak bangsa untuk menghasilkan karya arsitektur yang melawan arsitektur modern yang mapan dan mendominasi dunia.

Dunia memang sudah berubah, karya arek-arek Surabaya termasuk arsitektur jengki sebagai prestasi luar biasa dalam menerjemahkan sejarah kemerdekaan anak bangsa dan harga diri kota begitu mudah dimusnahkan oleh anak bangsa penerus(?) karena tak mau paham akan sejarahnya sendiri.

Banyak tulisan dibuat tentang kasus pembongkaran bangunan Stasiun Semut, lengkap dengan sejarah dan tanggal-tanggal penting. Tetapi, mengapa tidak ada yang peduli menulis atau memprotes tentang hilangnya arsitektur jengki seperti ketika Pasar Wonokromo dimusnahkan? Tidak heran bila lebih mudah menemukan gambar banyak bangunan kolonial di Surabaya, tetapi sampai sekarang gambar asli Pasar Wonokromo masih ketlisut.

Mudah-mudahan banyak bangunan dan rumah yang bergaya arsitektur jengki seperti di sekitar Jalan Tambaksari, Jalan Trunojoyo, dan sebagainya, mau terus dipertahankan sebagai monumen penghargaan terhadap karya para arsitek arek Surabaya yang terkait dengan sejarah Kota Pahlawan Surabaya yang bukan hanya monopoli oleh orang yang berani angkat senjata saja.

JOHAN SILAS Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya

sumber : http://www.kompas.com

Add comment October 5th, 2006

Next Posts Previous Posts