Nasibmu bangunan sejarah disurabaya
October 5th, 2006
KALAU harus menentukan dua spot penting yang terkait dengan eksistensi bangsa dan negara Indonesia di Surabaya, maka yang pasti dipilih adalah spot Tugu Pahlawan dan Jembatan Merah. Kalau ditanyakan apa yang menonjol dari kondisi fisik kedua spot tersebut, maka tidak mudah menjawabnya. Sebab, Tugu Pahlawan yang erat terkait dengan viaduc kereta api (tempat pejuang bertahan) dan kantor gubernur (tempat arek-arek Suroboyo berada) kini keadaannya merana.
PEMUGARAN Tugu Pahlawan yang menelan biaya berpuluh miliar rupiah hanya menghasilkan pagar yang membatasi penglihatan orang pada tugu yang merupakan prestasi premium arek-arek Surabaya dalam mengisi kemerdekaan.
Hal yang lebih menyedihkan terjadi pada Jembatan Merah asli sebagai benteng para pejuang berhadapan dengan tentara Sekutu yang berlindung di Gedung Internatio. Ironisnya, Jembatan Merah diganti dengan jembatan beton yang jelek dan kini kurang terawat, sedang Gedung Internatio dipugar dengan baik. Apakah ini cara Surabaya membangun citra kotanya?
Awal tahun 1990-an, ada proyek yang hendak membongkar Jembatan Merah dengan alasan besi-besinya sudah keropos sebab usianya sudah sekitar 100 tahun. Alasan lain adalah perlu menghilangkan kaki jembatan agar bargas pembersih sungai dapat lewat.
Hal ini mendapat protes keras dari dosen dan mahasiswa Arsitektur Institut Sepuluh November Surabaya (ITS). Mereka berhasil menghubungi Dr Roeslan Abdulgani serta Ibu Lukitaningsih, pejuang perempuan 10 November.
Namun, ternyata imbauan kedua tokoh 10 November itu tetap tidak digubris tim Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan Pemerintah Kota Surabaya. Semula mahasiswa hendak berdemonstrasi, namun dibatalkan dan diganti dengan upacara memberi karangan bunga duka (krans) menjelang jembatan akan dibongkar.
Juga tawaran ITS untuk memasang kembali bongkaran jembatan di Kampus ITS ditolak dengan alasan kelak akan dipasang di sebuah taman kota. Dalam proses pembongkaran jembatan ternyata yang keropos hanya besi kaki jembatan yang mudah diganti dan dilebarkan agar bargas dapat lewat. Besi lainnya masih baik seperti baru.
SAAT pembangunan jembatan baru selesai, peresmiannya bertepatan dengan peringatan 100 tahun Jembatan Brooklyn di New York (Amerika Serikat) yang dipestakan meriah dengan kembang api dan dijamin masih tahan 100 tahun lagi. Sekarang, terbukti semua janji pemerintah daerah tentang bargas dan memasang kembali jembatan-seperti biasanya-hanya kosong melompong. Anehnya, warga kota pada waktu itu juga tidak gencar memprotes seperti menghadapi pembongkaran Stasiun Semut warisan Belanda.
Kasus pembongkaran Stasiun Semut dan Gedung Mardi Santoso menyajikan keadaan kontradiktif bila dikaitkan dengan pembongkaran Pasar Wonokromo. Menjelang akhir abad lalu, sebuah seminar digelar di Salvador de Bahia (ibu kota pertama Brasil) tentang pemugaran pusat kota yang peduli wong cilik. Peserta dari Belanda menceritakan tentang upaya ikatan arsitek Belanda untuk memugar berbagai bangunan kolonialnya di seluruh dunia.
Ini dilakukan untuk menyediakan bukti untuk pelajaran sejarah tentang kehebatan nenek moyang orang Belanda menguasai dunia dari Amerika (utara dan selatan), Afrika, hingga sebagian besar Asia, termasuk Jepang. Jadi, bila bangunan kolonial yang ada di Surabaya dipugar seperti kedua gedung yang saat ini dimasalahkan, orang Belanda pasti bersyukur karena rencananya tercapai tanpa harus keluar uang atau bersusah payah.
Akan tetapi, ini pasti bukan alasan mengapa bangunan yang menyumbang kekhasan sebuah kota harus serta-merta dimusnahkan. Inggris dan Perancis sampai sekarang terus merawat bangunan zaman Romawi ketika negara itu dijajahnya. Banyak negara lain melakukan hal serupa.
Meraih sebuah kemerdekaan bangsa bukan tanpa korban. Di samping kehilangan banyak nyawa anak bangsa terbaik, juga tidak sedikit harta yang ikut rusak. Warga Surabaya bahkan membumihanguskan kampung ketika mereka harus meninggalkan kota pada tentara Sekutu.
Namun, ketika kemerdekaan akhirnya diakui dunia, maka Surabaya yang paling banyak kehilangan nyawa anak bangsa terbaik sekaligus kota dan kampung porak-poranda berani mengambil langkah untuk membuktikan bahwa arek-arek Surabaya bukan hanya mampu mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga mengisinya. Walaupun banyak kesulitan harus dihadapi, namun arek-arek Surabaya membangun tiga proyek besar, Tugu Pahlawan, Hotel Internasional Olympic, dan Pasar Kota Wonokromo.
Kalau Tugu Pahlawan adalah hasil urunan tokoh-tokoh Jawa Timur dan Hotel Olympic murni oleh swasta, maka pemerintah kota hendak memberi sambutan selamat datang ke Surabaya melalui kehadiran Pasar Wonokromo yang berarsitektur paling unik di seluruh dunia. Justru saat usianya mencapai batas sebagai gedung yang harus dipugar sesuai UU No 5 Tahun 1992, ia diratakan dengan tanah tanpa ada yang berteriak apalagi menangis. Mengapa peninggalan kolonial Belanda lebih dipentingkan ketimbang karya akbar arek-arek Surabaya?
UNTUK ukuran awal tahun 1950-an, Jakarta pun tak mampu membangun tiga proyek “raksasa” sekaligus tanpa bantuan pemerintah pusat atau badan internasional. Ketiga proyek tersebut hendak memberikan layanan modern (ukuran waktu itu) bagi warga kota sejalan dengan kebanggaan memikul beban menjamin bangsa ini tetap merdeka.
Sepuluh tahun kemudian, Jakarta baru mampu membangun Hotel Indonesia dan Monumen Nasional, itu pun dengan dukungan dana dan keahlian Jepang (pampasan perang). Berbeda dengan Jakarta, Surabaya menghasilkan bangunan berskala nasional yang sekaligus menyumbang arsitektur khas yang tiada duanya dan diakui di dunia.
Kerusakan kota yang parah sama sekali bukan halangan untuk dapat menghadirkan arsitektur jengki yang pertama kali muncul di sini. Saat itu, Sekolah Teknik di Sawahan termasuk yang terbaik di Indonesia. Mereka terlibat aktif dalam membangun berbagai gedung dengan tampilan arsitektur jengki, seperti untuk perumahan, barisan gudang di Jalan Indrapura, Gelora Pancasila, Pasar Wonokromo, hotel dan losmen, pertokoan dan perkantoran, serta banyak lainnya. Penyelesaian interior juga bergaya jengki. Tidak sedikit perusahaan perabot (mebel) berlomba menawarkan meja, kursi, lemari, bangku panjang, meja rias, meja tulis dan banyak lainnya yang bergaya arsitektur jengki.
Maka, ada baiknya bila warga Surabaya masih dalam suasana hari jadi ke-710 lebih mengenal apa yang disebut arsitektur jengki dibandingkan dengan arsitektur modern yang saat itu menguasai dunia. Ciri arsitektur jengki sebagai berikut:
* Memakai bentuk perlawanan dan kebebasan terhadap kubisme dan geometrik dari arsitektur Barat atau modern. Bentuk ini diduga hendak menjiwai rasa kemerdekaan terhadap penjajahan Barat/Belanda. Hasilnya adalah gaya bebas yang didominasi oleh garis miring untuk tiang, dinding, dan bentuk-bentuk bebas lainnya seperti lengkung dan kubah yang dihindari oleh arsitektur modern.
* Memakai bentuk atap “rakyat”, yaitu atap pelana seperti rumah kampung namun kemiringannya lebih landai ketimbang atap rumah kolonial. Tidak sedikit atap dipatah pada bubungan dengan satu sisi lebih rendah agar tercipta celah (gap) untuk ventilasi atap. Atap bentuk ini di Kalimantan disebut anjing menyalak. Tembok gewel (gevel) yang timbul oleh atap pelana diberi imbuhan beragam motif, umumnya bentuk kotak dan belak ketupat (wajik). Tidak jarang separuh sisi tembok yang menghadap ke jalan lebih maju dari sisi separuh lainnya yang diikuti oleh atap yang menjorok ke depan tidak rata pula. Ini sama sekali tidak menjadi masalah, bahkan khas.
* Dinding umumnya dihias beragam motif hasil buatan, bukan alami. Ada dinding yang diisi dengan kerawang (rooster) dan ada pula dibalut dengan batu alam bentuk teratur (non-alami). Upaya ini memberikan suasana ria dan riang guna melawan bentuk serius yang membosankan dan terkendali dari arsitektur modern.
* Yang juga menjadi perhatian adalah memakai penutup sosoran atau kanopi untuk teras depan, biasanya dari beton yang bergelombang atau meliuk disangga oleh tiang yang miring. Bentuk ini hendak kontras terhadap dan melawan garis lurus datar yang biasa dipakai. Jendela juga diberi bingkai muncul yang miring karena lebih lebar di atas.
* Juga dipilih finishing warna kontras, meriah dan pastel. Pada kayu dan perabot diperkenalkan dan banyak dipakai proses pelitur yang memakai warna-warni, terkadang diselingi warna gelap. Ini merupakan ciri-ciri utama dari yang disebut arsitektur jengki tanpa ada tatanan ruang yang khas, terserah keinginan pemilik yang selalu bebas.
TIDAK dapat dimungkiri bahwa arsitektur jengki berciri dasar gerakan dekonstruksi yang di dunia baru muncul akhir tahun tujuh puluhan. Lebih dari itu, ini merupakan arsitektur total mulai dari luar sampai ke dalam (interior) lengkap dengan perabot yang dipakai. Para arsitek muda ini seakan hendak membedakan diri dari arsitek “tua” yang pernah dididik oleh arsitek Belanda setelah harus angkat kaki dari bumi Indonesia.
Kaum “tua” biasanya setia dengan kaidah arsitektur modern yang diwariskan pada generasi awal arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung dimotori oleh dosen didikan Belanda yang diselesaikan di Jerman. Salah satu contoh karya arsitektur “tua” ini adalah Bank Indonesia di depan Kantor Pos Kota.
Nama jengki berasal dari Yank atau Yankee (warga negara bagian New England di AS) merupakan nama yang saat itu populer dipakai pada beragam benda seperti celana jengki, sepeda jengki, dan sebagainya. Saat itu, film Amerika melanda ke seluruh pelosok Indonesia setelah lama menghilang. Yang kala itu paling digemari adalah film koboi (cowboy). Hampir dalam setiap film ada adegan koboi beradu draw atau mencabut pistol dengan cepat dan menembak lawan dalam menyelesaikan perselisihan.
Posisi koboi yang siap menarik pistolnya dengan kaki terbentang miring menjadi ilham bagi arsitek anak bangsa untuk menghasilkan karya arsitektur yang melawan arsitektur modern yang mapan dan mendominasi dunia.
Dunia memang sudah berubah, karya arek-arek Surabaya termasuk arsitektur jengki sebagai prestasi luar biasa dalam menerjemahkan sejarah kemerdekaan anak bangsa dan harga diri kota begitu mudah dimusnahkan oleh anak bangsa penerus(?) karena tak mau paham akan sejarahnya sendiri.
Banyak tulisan dibuat tentang kasus pembongkaran bangunan Stasiun Semut, lengkap dengan sejarah dan tanggal-tanggal penting. Tetapi, mengapa tidak ada yang peduli menulis atau memprotes tentang hilangnya arsitektur jengki seperti ketika Pasar Wonokromo dimusnahkan? Tidak heran bila lebih mudah menemukan gambar banyak bangunan kolonial di Surabaya, tetapi sampai sekarang gambar asli Pasar Wonokromo masih ketlisut.
Mudah-mudahan banyak bangunan dan rumah yang bergaya arsitektur jengki seperti di sekitar Jalan Tambaksari, Jalan Trunojoyo, dan sebagainya, mau terus dipertahankan sebagai monumen penghargaan terhadap karya para arsitek arek Surabaya yang terkait dengan sejarah Kota Pahlawan Surabaya yang bukan hanya monopoli oleh orang yang berani angkat senjata saja.
JOHAN SILAS Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya
sumber : http://www.kompas.com
Entry Filed under: East Java News
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed