Archive for October 5th, 2006

History in brief


The Port of Tanjung Perak is one of the main gate way port of Indonesia. It is the principal port in East Java, and the main cargo collection and distribution center for both the Province of East Java, and the whole eastern archipelago of Indonesia.

The port is therefore the maritime transportation hub for the eastern region of Indonesia, servicing both International and Interisland shipping in the region.
Historically ocean liners anchored in the Straits of Madura adjacent to the town of Surabaya, and loaded and unloaded their cargoes by barges and small boats that through the Kalimas (a narrow river), to reach Jembatan Merah, which was the old port of Surabaya, located in the heart of Surabaya city.

Growth in trade and cargo traffic resulted in a demand for additional port infrastructure, and cargo traffic congestion showed that the old facilities of Jembatan Merah were inadequate. In 1875, Ir.W.de.Jongth, a Dutch engineer, drafted a plan for a new port which would allow ocean going vessels to loaded and discharged cargoes directly alongside wharf structures, without the help of barges and small boats, but this plan was rejected at the time because of its high cost.
During the first decade of the 20th century, a more acceptable solution was proposed by Ir.W.B. Van Goor. It again defined the urgent need for conventional wharf structures where all ocean going ships would be moored along- side piers. Prof. DR. J. Kraus and G. J. de Jongth were sent out from the Netherlands to provide advice and to design the future Port of Tanjung Perak development.

In 1910, construction of the new harbour began . During the period of construction, many of the requests were received to use uncompleted wharves. Consequently, the development plan was extended to satisfy this demand.

Since this time, the Port of Tanjung Perak has contributed greatly to the economic development of the Eastern Indonesian region-influencing the growth of trade and development in East Java. The physical development of the Port of Tanjung Perak has continued to present day, with modification of existing berths, and provision of additional berths specifically designed for container handling operations. In addition, the Port Authority has been responsible for encouragement of development of associated port industries, and the construction of the passenger terminal, and continues to upgrade and improve both port facilities and services to meet demand.

1 comment October 5th, 2006

Nasibmu bangunan sejarah disurabaya


KALAU harus menentukan dua spot penting yang terkait dengan eksistensi bangsa dan negara Indonesia di Surabaya, maka yang pasti dipilih adalah spot Tugu Pahlawan dan Jembatan Merah. Kalau ditanyakan apa yang menonjol dari kondisi fisik kedua spot tersebut, maka tidak mudah menjawabnya. Sebab, Tugu Pahlawan yang erat terkait dengan viaduc kereta api (tempat pejuang bertahan) dan kantor gubernur (tempat arek-arek Suroboyo berada) kini keadaannya merana.

PEMUGARAN Tugu Pahlawan yang menelan biaya berpuluh miliar rupiah hanya menghasilkan pagar yang membatasi penglihatan orang pada tugu yang merupakan prestasi premium arek-arek Surabaya dalam mengisi kemerdekaan.

Hal yang lebih menyedihkan terjadi pada Jembatan Merah asli sebagai benteng para pejuang berhadapan dengan tentara Sekutu yang berlindung di Gedung Internatio. Ironisnya, Jembatan Merah diganti dengan jembatan beton yang jelek dan kini kurang terawat, sedang Gedung Internatio dipugar dengan baik. Apakah ini cara Surabaya membangun citra kotanya?

Awal tahun 1990-an, ada proyek yang hendak membongkar Jembatan Merah dengan alasan besi-besinya sudah keropos sebab usianya sudah sekitar 100 tahun. Alasan lain adalah perlu menghilangkan kaki jembatan agar bargas pembersih sungai dapat lewat.

Hal ini mendapat protes keras dari dosen dan mahasiswa Arsitektur Institut Sepuluh November Surabaya (ITS). Mereka berhasil menghubungi Dr Roeslan Abdulgani serta Ibu Lukitaningsih, pejuang perempuan 10 November.

Namun, ternyata imbauan kedua tokoh 10 November itu tetap tidak digubris tim Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan Pemerintah Kota Surabaya. Semula mahasiswa hendak berdemonstrasi, namun dibatalkan dan diganti dengan upacara memberi karangan bunga duka (krans) menjelang jembatan akan dibongkar.

Juga tawaran ITS untuk memasang kembali bongkaran jembatan di Kampus ITS ditolak dengan alasan kelak akan dipasang di sebuah taman kota. Dalam proses pembongkaran jembatan ternyata yang keropos hanya besi kaki jembatan yang mudah diganti dan dilebarkan agar bargas dapat lewat. Besi lainnya masih baik seperti baru.

SAAT pembangunan jembatan baru selesai, peresmiannya bertepatan dengan peringatan 100 tahun Jembatan Brooklyn di New York (Amerika Serikat) yang dipestakan meriah dengan kembang api dan dijamin masih tahan 100 tahun lagi. Sekarang, terbukti semua janji pemerintah daerah tentang bargas dan memasang kembali jembatan-seperti biasanya-hanya kosong melompong. Anehnya, warga kota pada waktu itu juga tidak gencar memprotes seperti menghadapi pembongkaran Stasiun Semut warisan Belanda.

Kasus pembongkaran Stasiun Semut dan Gedung Mardi Santoso menyajikan keadaan kontradiktif bila dikaitkan dengan pembongkaran Pasar Wonokromo. Menjelang akhir abad lalu, sebuah seminar digelar di Salvador de Bahia (ibu kota pertama Brasil) tentang pemugaran pusat kota yang peduli wong cilik. Peserta dari Belanda menceritakan tentang upaya ikatan arsitek Belanda untuk memugar berbagai bangunan kolonialnya di seluruh dunia.

Ini dilakukan untuk menyediakan bukti untuk pelajaran sejarah tentang kehebatan nenek moyang orang Belanda menguasai dunia dari Amerika (utara dan selatan), Afrika, hingga sebagian besar Asia, termasuk Jepang. Jadi, bila bangunan kolonial yang ada di Surabaya dipugar seperti kedua gedung yang saat ini dimasalahkan, orang Belanda pasti bersyukur karena rencananya tercapai tanpa harus keluar uang atau bersusah payah.

Akan tetapi, ini pasti bukan alasan mengapa bangunan yang menyumbang kekhasan sebuah kota harus serta-merta dimusnahkan. Inggris dan Perancis sampai sekarang terus merawat bangunan zaman Romawi ketika negara itu dijajahnya. Banyak negara lain melakukan hal serupa.

Meraih sebuah kemerdekaan bangsa bukan tanpa korban. Di samping kehilangan banyak nyawa anak bangsa terbaik, juga tidak sedikit harta yang ikut rusak. Warga Surabaya bahkan membumihanguskan kampung ketika mereka harus meninggalkan kota pada tentara Sekutu.

Namun, ketika kemerdekaan akhirnya diakui dunia, maka Surabaya yang paling banyak kehilangan nyawa anak bangsa terbaik sekaligus kota dan kampung porak-poranda berani mengambil langkah untuk membuktikan bahwa arek-arek Surabaya bukan hanya mampu mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga mengisinya. Walaupun banyak kesulitan harus dihadapi, namun arek-arek Surabaya membangun tiga proyek besar, Tugu Pahlawan, Hotel Internasional Olympic, dan Pasar Kota Wonokromo.

Kalau Tugu Pahlawan adalah hasil urunan tokoh-tokoh Jawa Timur dan Hotel Olympic murni oleh swasta, maka pemerintah kota hendak memberi sambutan selamat datang ke Surabaya melalui kehadiran Pasar Wonokromo yang berarsitektur paling unik di seluruh dunia. Justru saat usianya mencapai batas sebagai gedung yang harus dipugar sesuai UU No 5 Tahun 1992, ia diratakan dengan tanah tanpa ada yang berteriak apalagi menangis. Mengapa peninggalan kolonial Belanda lebih dipentingkan ketimbang karya akbar arek-arek Surabaya?

UNTUK ukuran awal tahun 1950-an, Jakarta pun tak mampu membangun tiga proyek “raksasa” sekaligus tanpa bantuan pemerintah pusat atau badan internasional. Ketiga proyek tersebut hendak memberikan layanan modern (ukuran waktu itu) bagi warga kota sejalan dengan kebanggaan memikul beban menjamin bangsa ini tetap merdeka.

Sepuluh tahun kemudian, Jakarta baru mampu membangun Hotel Indonesia dan Monumen Nasional, itu pun dengan dukungan dana dan keahlian Jepang (pampasan perang). Berbeda dengan Jakarta, Surabaya menghasilkan bangunan berskala nasional yang sekaligus menyumbang arsitektur khas yang tiada duanya dan diakui di dunia.

Kerusakan kota yang parah sama sekali bukan halangan untuk dapat menghadirkan arsitektur jengki yang pertama kali muncul di sini. Saat itu, Sekolah Teknik di Sawahan termasuk yang terbaik di Indonesia. Mereka terlibat aktif dalam membangun berbagai gedung dengan tampilan arsitektur jengki, seperti untuk perumahan, barisan gudang di Jalan Indrapura, Gelora Pancasila, Pasar Wonokromo, hotel dan losmen, pertokoan dan perkantoran, serta banyak lainnya. Penyelesaian interior juga bergaya jengki. Tidak sedikit perusahaan perabot (mebel) berlomba menawarkan meja, kursi, lemari, bangku panjang, meja rias, meja tulis dan banyak lainnya yang bergaya arsitektur jengki.

Maka, ada baiknya bila warga Surabaya masih dalam suasana hari jadi ke-710 lebih mengenal apa yang disebut arsitektur jengki dibandingkan dengan arsitektur modern yang saat itu menguasai dunia. Ciri arsitektur jengki sebagai berikut:

* Memakai bentuk perlawanan dan kebebasan terhadap kubisme dan geometrik dari arsitektur Barat atau modern. Bentuk ini diduga hendak menjiwai rasa kemerdekaan terhadap penjajahan Barat/Belanda. Hasilnya adalah gaya bebas yang didominasi oleh garis miring untuk tiang, dinding, dan bentuk-bentuk bebas lainnya seperti lengkung dan kubah yang dihindari oleh arsitektur modern.

* Memakai bentuk atap “rakyat”, yaitu atap pelana seperti rumah kampung namun kemiringannya lebih landai ketimbang atap rumah kolonial. Tidak sedikit atap dipatah pada bubungan dengan satu sisi lebih rendah agar tercipta celah (gap) untuk ventilasi atap. Atap bentuk ini di Kalimantan disebut anjing menyalak. Tembok gewel (gevel) yang timbul oleh atap pelana diberi imbuhan beragam motif, umumnya bentuk kotak dan belak ketupat (wajik). Tidak jarang separuh sisi tembok yang menghadap ke jalan lebih maju dari sisi separuh lainnya yang diikuti oleh atap yang menjorok ke depan tidak rata pula. Ini sama sekali tidak menjadi masalah, bahkan khas.

* Dinding umumnya dihias beragam motif hasil buatan, bukan alami. Ada dinding yang diisi dengan kerawang (rooster) dan ada pula dibalut dengan batu alam bentuk teratur (non-alami). Upaya ini memberikan suasana ria dan riang guna melawan bentuk serius yang membosankan dan terkendali dari arsitektur modern.

* Yang juga menjadi perhatian adalah memakai penutup sosoran atau kanopi untuk teras depan, biasanya dari beton yang bergelombang atau meliuk disangga oleh tiang yang miring. Bentuk ini hendak kontras terhadap dan melawan garis lurus datar yang biasa dipakai. Jendela juga diberi bingkai muncul yang miring karena lebih lebar di atas.

* Juga dipilih finishing warna kontras, meriah dan pastel. Pada kayu dan perabot diperkenalkan dan banyak dipakai proses pelitur yang memakai warna-warni, terkadang diselingi warna gelap. Ini merupakan ciri-ciri utama dari yang disebut arsitektur jengki tanpa ada tatanan ruang yang khas, terserah keinginan pemilik yang selalu bebas.

TIDAK dapat dimungkiri bahwa arsitektur jengki berciri dasar gerakan dekonstruksi yang di dunia baru muncul akhir tahun tujuh puluhan. Lebih dari itu, ini merupakan arsitektur total mulai dari luar sampai ke dalam (interior) lengkap dengan perabot yang dipakai. Para arsitek muda ini seakan hendak membedakan diri dari arsitek “tua” yang pernah dididik oleh arsitek Belanda setelah harus angkat kaki dari bumi Indonesia.

Kaum “tua” biasanya setia dengan kaidah arsitektur modern yang diwariskan pada generasi awal arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung dimotori oleh dosen didikan Belanda yang diselesaikan di Jerman. Salah satu contoh karya arsitektur “tua” ini adalah Bank Indonesia di depan Kantor Pos Kota.

Nama jengki berasal dari Yank atau Yankee (warga negara bagian New England di AS) merupakan nama yang saat itu populer dipakai pada beragam benda seperti celana jengki, sepeda jengki, dan sebagainya. Saat itu, film Amerika melanda ke seluruh pelosok Indonesia setelah lama menghilang. Yang kala itu paling digemari adalah film koboi (cowboy). Hampir dalam setiap film ada adegan koboi beradu draw atau mencabut pistol dengan cepat dan menembak lawan dalam menyelesaikan perselisihan.

Posisi koboi yang siap menarik pistolnya dengan kaki terbentang miring menjadi ilham bagi arsitek anak bangsa untuk menghasilkan karya arsitektur yang melawan arsitektur modern yang mapan dan mendominasi dunia.

Dunia memang sudah berubah, karya arek-arek Surabaya termasuk arsitektur jengki sebagai prestasi luar biasa dalam menerjemahkan sejarah kemerdekaan anak bangsa dan harga diri kota begitu mudah dimusnahkan oleh anak bangsa penerus(?) karena tak mau paham akan sejarahnya sendiri.

Banyak tulisan dibuat tentang kasus pembongkaran bangunan Stasiun Semut, lengkap dengan sejarah dan tanggal-tanggal penting. Tetapi, mengapa tidak ada yang peduli menulis atau memprotes tentang hilangnya arsitektur jengki seperti ketika Pasar Wonokromo dimusnahkan? Tidak heran bila lebih mudah menemukan gambar banyak bangunan kolonial di Surabaya, tetapi sampai sekarang gambar asli Pasar Wonokromo masih ketlisut.

Mudah-mudahan banyak bangunan dan rumah yang bergaya arsitektur jengki seperti di sekitar Jalan Tambaksari, Jalan Trunojoyo, dan sebagainya, mau terus dipertahankan sebagai monumen penghargaan terhadap karya para arsitek arek Surabaya yang terkait dengan sejarah Kota Pahlawan Surabaya yang bukan hanya monopoli oleh orang yang berani angkat senjata saja.

JOHAN SILAS Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya

sumber : http://www.kompas.com

Add comment October 5th, 2006

Asta Tinggi & Keraton Sumenep


Asta Tinggi merupakan kompleks makam para raja Sumenep, keturunan dan kerabatnya. Dibangun sekitar tahun 1750. Kompleks ini terdiri dari tiga bagian yang masing-masing mempunyai gerbang tersendiri.

Bagian pertama di sisi kiri terdiri dari kubah Bindoro Saud, kubah Pangeran Jimad dan kubah P. Pulang Jiwo. Bagian ini berisi makam yang lebih tua, sehingga kita disyaratkan untuk memasuki kompleks ini terlebih dahulu. Bagian kedua berada di tengah dan mempunyai bentuk yang paling indah.

Di sini terdapat dua kubah makam yaitu kubah Sri Sultan A. Rahman & kubah Panembahan Sumolo. Sedangkan bagian ketiga merupakan bagian terlarang, dalam artian kita tidak diperkenankan memasukinya.

Selain di dalam kubah, makam juga tersebar di seantero kompleks dengan usia yang beragam, bahkan ada yang berusia cukup muda (tahun 90an). Makam yang ada di dalam kubah sebagian ditutupi kain dan kelambu. Menurut juru kunci kelambu tersebut diberikan oleh orang-orang yang hajatnya telah terkabul selepas berdoa di makam ini.
Untuk memasuki makam, kita harus melapor dulu ke juru kunci dengan memberikan sumbangan seikhlasnya. Sebelum memasuki gerbang makam kita harus melepas alas kaki dan berjalan di jalan berlantai yang sudah disediakan.

Keraton Sumenep atau biasa disebut keraton Panembahan Sumolo didirikan tahun 1762. mempunyai tiga bangunan utama berupa bangunan induk kraton, Taman sare dan Labang Mesem. Selain itu di depan kraton juga terdapat museum disamping musium yang ada di samping kiri bangunan induk keraton. Pada bangunan induk keraton kiyta jumpai aula pertemuan dengan kursi-kursi merah berukir, koridor dan tempat kediaman raja. Uniknya di tempat ini banyak sekali lampu gantung dan lampu dinding. sayang kita tidak diperkenankan memasuki kediaman raja. Hanya boleh mengintip dari jendela kaca yang pecah (atau sengaja dipecah kali).

source : http://simasa.multiply.com

Add comment October 5th, 2006

Sukar Mudjiono: Preserving Chinese puppetry tradition


The day after the Chinese New Year, 45-year-old Sukar Mudjiono, a puppeteer in potehi, a kind of Chinese puppet show in Surabaya, was seated in a relaxed manner on the veranda of Hong Tiek Hian Chinese temple, Jl. Dukuh Surabaya.

On that particular day he was not preparing for a potehi show. There is no specific schedule for potehi shows every Chinese New Year or Muslim Lebaran Day.

“A local television station in Surabaya has just interviewed me. I’m now waiting for another to interview. Every Lunar New Year, many journalists come to ask me about potehi,” he told The Jakarta Post.

While waiting for another TV interview, Sukar spoke with several print media reporters and photo journalists.
He looked fatigued, carefully answering every question he was asked. Several weeks prior to Chinese New

Year, he gave a potehi performance at a place where Confucian religious services were held in Surakarta, Central Java.

Sukar often has a tight schedule for his shows, staged in several cities in Indonesia, particularly as Chinese New Year approaches. His fee for each show is set at around Rp 100,000, much more than he earned before former president Abdurrahman “Gus Dur” Wahid stipulated that Chinese New Year would become a national holiday.
Before Gus Dur became president, ethnic Chinese arts activities were very limited. A license had to be sought from the local security authorities before a lion dance or potehi could be performed. Such performances took place only at venues set aside for religious services.

However, things changed after president Soeharto was deposed down in 1998. Licenses were no longer required for ethnic Chinese arts performances in public.

In mid-2002, potehi appeared on TV in the 26-episode series Sie Jin Kui, a story set in the Tang dynasty in China during the reign of Emperor Thai Cong (627 -649 AD) about the sacrifices that General Sie made for the country. That was the first time potehi was introduced to the public. Sukar, as the potehi puppeteer in the show, gained greater popularity in Surabaya.

“When there were still restrictions on potehi shows, I earned less than Rp 1 million a month. Today I can make about Rp 3 million a month,” Sukar said.

On the sidelines of his talk with the journalists, Sukar exchanged greetings with visitors to the temple. He knew all of them personally. He has been around the temple for decades, so he knows all the regulars.

“I’m an indigenous Indonesian and Muslim, but this temple seems to be part and parcel of my life. I started my life here. I learned to perform potehi here and now I can feed my family from this skill,” he said.

He then recalled what happened to him about thirty years earlier when he was still a teenager. One day he was playing around with his peers at the temple, which is about only three kilometers from his home, when he had a chance meeting with a Chinese Buddhist monk, Gan Coco. The monk was performing potehi at the temple. He would spend several months performing different potehi stories there.

Sukar became acquainted with the monk, subsequently becoming interested in potehi and learning how to perform it. The monk translated into Indonesian several famous stories often performed in potehi shows.

“I regularly took notes of these translations. These stories are hard to find in bookshops: Even if they’re available, they’re in Chinese,” he said.

Gan Coco also left him several sets of potehi puppets. Before he returned to China, he asked him to preserve the art form in Indonesia. The potehi puppets from Gan Coco are still in good condition. Some have had to be repaired, however, because of their age.

When the TV reporter showed up, Sukar changed clothes and got the potehi puppets ready. Before he started, he performed a special rite in which he burned kim cua paper, items usually burned during Chinese ancestral rites, on the potehi puppets.

Several minutes later, the sound of a beaten tualo marked the start of the performance. While working the potehi puppets, Sukar narrated a story in Chinese. Although his narration was in fluent Chinese, Sukar said there were still some Chinese words he did not understand.

“I often get criticized because my pronunciation is incorrect. Still, I love potehi and will continue to perform it because it’s my livelihood,” he said

source : http://www.planetmole.org

Add comment October 5th, 2006

“ Revitalization Of Kembang Jepun Area Into A Walk-Street And Wall Street “


The oldest history described Surabaya as a village by the river that functioned as a crossing land. Since the 14Th century many people from various backgrounds of ethnics had treaded with the local villagers. The village was soon became a harbor city. People of the Chinese background first set foot in Surabaya during Sriwijaya Kingdom. They had occupied eastern part of Kalimas. They inhabited in an area known as Jalan Kembang Jepun, and also known as Chinatown.

The rapid growth of Surabaya has changed the role of it. Kembang Jepun once as the city icon gradually losing its identity. Actually Surabaya needs another icon, that should be created from its glorious past. It takes time to have such a new icon. A revival should be made and engineered at the same location. A kind of resurrection should be generated from the fame of Kembang Jepun.

If big cities in the world always have particular spot where many visitors are looking forward to just walk around it, Surabaya does not have to try hard to find the spot. Most cities have Chinatown however Surabaya, as the history told has already had it since a long time ago, Kembang Jepun.

The initial idea to give new life to the Kembang Jepun area during the night hours came from the City Government of Surabaya. But since the government was fail to make the plan happened and nor being able to create the most conducive situation for the vendors, Kembang Jepun was left alone.

The program for revitalization finally comes from the private sector. Their motivation is merely because of their concern for their city and social awareness. The effort of revitalizing Kembang Jepun is an interesting synergy between the city government and its citizen. And it is a good start to revitalize in the old Kembang Jepun area with evening meals.

Add comment October 5th, 2006